<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/">
    <title>Andreas Putera, PhD</title>
    <link href="https://aputera.com/feed.xml" rel="self" />
    <link href="https://aputera.com" />
    <updated>2026-08-26T20:27:28+10:00</updated>
    <author>
        <name>Andreas Putera</name>
    </author>
    <id>https://aputera.com</id>

    <entry>
        <title>Ik Ben Nono (My Name is Nono) - Part 2</title>
        <author>
            <name>Andreas Putera</name>
        </author>
        <link href="https://aputera.com/ik-ben-nono-my-name-is-nono-part-2.html"/>
        <id>https://aputera.com/ik-ben-nono-my-name-is-nono-part-2.html</id>

        <updated>2026-08-26T11:04:33+10:00</updated>
            <summary type="html">
                <![CDATA[
                    Masa Mudaku 1. Kelulusan sekolah lanjut tingkat pertama Heerlen sudah lama meninggalkan kami. Ia kembali ke Bandung karena harus menemani suaminya yang bekerja disana. Kabarnya juga, Ia dan suaminya akan segera meninggalkan Indonesia dengan program repatriasi Belanda. Program repatriasi ini memang tidak dilaksanakan secara langsung&hellip;
                ]]>
            </summary>
        <content type="html">
            <![CDATA[
                <h1><strong>Masa Mudaku</strong></h1>
<h2>1. Kelulusan sekolah lanjut tingkat pertama</h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Heerlen sudah lama meninggalkan kami. Ia kembali ke Bandung karena harus menemani suaminya yang bekerja disana. Kabarnya juga, Ia dan suaminya akan segera meninggalkan Indonesia dengan program repatriasi Belanda. Program repatriasi ini memang tidak dilaksanakan secara langsung melainkan bertahap. Terdapat berbagai macam pendapat, tapi yang jelas, mereka yang kurang beruntung dari sisi pekerjaan dan ekonomi, justru dipulangkan dengan cepat (sekitar tahun 49). Suami Heerlen memegang posisi yang cukup strategis di SS, sehingga jasanya masih dibutuhkan ketika negara ini sudah berganti menjadi Republik Indonesia. Aku lupa tanggal tepatnya, tapi sepertinya Heerlen pergi ke Belanda sekitar tahun 60-an. Aku semakin merasa sendirian. Aku tidak tahu apakah aku masih bisa bertahan dengan kondisi seperti ini. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Di hari kelulusanku, Mami mengajakku kembali ke kamarnya untuk berbicara empat mata. Aku tahu, kalau Mami sudah mengajakku kesana, pasti ada hal yang sangat serius untuk dibahas. Jarang jarang Mami mengajakku berbicara empat mata di kamar itu, tapi setiap kali Mami mengajakku kesana, pasti ada hal yang mengubah hidupku baik secara langsung, maupun secara tidak langsung. Kali ini, Mami lebih dulu memelukku dengan erat, “Selamat Nono, kamu sudah lulus SLTP”, Mami kemudian melanjutkan dengan menghela napas panjang, “... kamu tahu, Mami ini sebenarnya menumpang hidup dengan Mario”. Aku sudah tahu hal ini, aku pun juga sangat paham posisiku yang juga menumpang hidup dengan Mario. Paling tidak, Mario memang memberikan status “Ayah” kepadaku, yang bisa melindungiku baik secara hukum, maupun sosial di masyarakat. Aku juga selama ini menumpang makan di rumah ini, tanpa memberikan apapun kepada Mario. Jadi, memang sampai saat ini aku pun tidak pernah hilang rasa hormat kepadanya, meskipun aku berulang kali diperlakukan dengan kasar olehnya. Lalu, kenapa Mami harus mengulang fakta ini dalam perbincangan kami? Tidak adakah hal lain yang lebih penting? Aku selalu menghormati Mario seperti anak lainnya dan tidak pernah dengan sengaja berbuat salah ataupun nakal. Mami kemudian melanjutkan, “Aku tidak bisa melanjutkan pendidikanmu ke jenjang yang lebih tinggi. Aku tidak punya uang. Apabila kamu hendak lanjut, kamu harus melakukannya dengan kemampuanmu sendiri”. Duarr! Perkataan Mami seolah seperti petir di siang bolong. Aku tidak menyangka inilah yang akan dikatakan oleh Mami kepadaku. Zaman dahulu, memang pendidikan sangat sulit untuk didapatkan. Jangankan perguruan tinggi, sekolah lanjut tingkat atas (SLTA) pun juga cukup sulit. Aku sebenarnya sudah cukup beruntung untuk bisa merasakan SLTP dengan biaya dari Mario. “Mario tidak akan membiayaimu di sekolah lanjut, No. Kamu harus melihat adik adikmu juga yang butuh biaya sekolah nantinya”, lanjut Mami. Saat itu, sekolah setingkat SLTA tidak ada di Situbondo. Orang orang akan melanjutkan ke Jember atau Surabaya agar bisa melanjutkan pendidikan mereka. Namun demikian, aku sejenak tersadar bahwa aku tidak sendirian. Banyak dari teman temanku sudah bercerita bahwa mereka yang terlahir sebagai anak pertama akan berhenti sekolah di SLTP atau SD dan akan langsung mencari pekerjaan demi membantu keluarga. “Iya Mami, Nono paham”, aku menjawab kepada Mami. Mami kemudian menjelaskan lebih jauh, “Kalau kamu mau disini, silakan, kamu tidak akan dilarang untuk tinggal disini. Tapi kalau keinginanmu kuat untuk melanjutkan sekolah ke luar kota, kamu juga harus akan memikirkan biaya hidupmu sendiri. Tidak hanya biaya sekolahmu”. Akhirnya, pada hari itu telah kubulatkan tekad, “Aku harus sekolah dan aku akan mendapatkan caranya”.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Di masa liburan, aku dan teman teman SLTP ku di Situbondo rutin pergi ke Jember setiap akhir pekan untuk mencari sekolah. Jarak Situbondo ke Jember adalah sekitar 65 kilometer, melewati Bondowoso di tengah tengahnya. Jalannya menanjak ke arah Bondowoso dan akan menurun setelahnya. Kala itu, kami tidak memiliki uang untuk bolak balik menggunakan kereta api, satu satunya angkutan umum yang tersedia. Bisa saja sebenarnya kami menunggu truk atau mobil angkutan kosong yang lewat, tapi waktu itu sangat jarang dan kami tidak bisa menunggu ketidakpastian itu. Selain untuk mendaftarkan sekolah, aku juga mulai berkenalan dengan beberapa orang untuk bermain band di acara acara pemilik perkebunan teh, cokelat, dan kopi, yang kebanyakan masih dimiliki oleh orang kulit putih dari Inggris. Kami berangkat setelah subuh dan biasanya sampai di Jember ketika Adzan Dhuhur. Diantara teman teman SLTP ku dulu, 5 orang termasuk aku mendaftar ke SMEA (Sekolah Menengah Ekonomi Atas) dan 2 orang mendaftar ke SPMA (Sekolah Pertanian Menengah Atas). Diantara kami, ada 2 orang yang tidak diterima di SMEA dan akhirnya tidak melanjutkan sekolah. Waktu itu memang sangat berbeda dengan zaman sekarang. Anak seusia kami akan memilih untuk langsung bekerja kalau memang melanjutkan sekolah setingkat SLTA dirasa sulit. Kadang, uang menjadi alasan utama. Tapi, tidak jarang seleksi sekolah juga menghalangi kami untuk melanjutkan pendidikan. Tidak seperti zaman sekarang, dimana sekolah sudah ada banyak dan cenderung membutuhkan murid. Kala itu, bahkan SLTA tidak ada di Situbondo dan orang orang disekitar kota akan pindah ke Jember. Akhirnya, mau tak mau seleksi menjadi sangat ketat dan sedikit sekali dari kami yang bisa melanjutkan sekolah. Karena itu, aku selalu berpesan kepada anak anak dan cucu cucuku untuk giat dalam sekolah. Perubahan zaman sudah membuat kita bisa menikmati fasilitas pendidikan yang sangat cukup, jika dibandingkan dengan waktuku dulu. Apalagi, sudah banyak sekolah yang bermunculan di daerah terpencil. Tapi ada satu hal yang harus diingat, bahwa persaingan itu akan tetap ada di setiap waktu. Saat ini, ketika pendidikan sudah lebih maju, persaingan justru akan semakin ketat. Kita tidak bisa hanya puas dengan ijazah SLTA jika ingin bekerja di perusahaan bagus. Hanya ada satu hal yang bisa menghalangi persaingan, yakni populasi yang menurun. Faktanya, Indonesia tidak pernah mengalami penurunan populasi, sepanjang pengetahuanku. Kalau pendidikan di Indonesia semakin baik, maka semakin banyak juga Orang Indonesia yang menjadi sumber daya manusia handal, dan semakin sengit juga persaingan ke depan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Setelah pengumuman kelulusan masuk SMEA, aku jadi makin rutin ke Jember untuk bermain band di acara pemilik perkebunan disana. Aku mengisi posisi drummer dalam bandku. Upah yang ditawarkan lumayan untuk hidupku disana. Tempatku bermain band ada di daerah Patrang dan disinilah aku berkenalan dengan orang yang akan menjadi sahabatku, Ferry. Ferry ini adalah keturunan Jerman-Indonesia Timur. Aku lupa nama daerahnya, antara Nusa Tenggara Timur atau Barat. Ia sangat baik kepadaku, bahkan sejak awal perkenalan. Ia menawarkan untuk tinggal bersama keluarganya dengan harga kost yang sangat murah. Waktu itu, harga kost yang Ia tawarkan adalah 250 rupiah per bulan, all in. Aku sudah tidak harus membayar makan dan listrik. Hanya saja, memang daerah kami waktu itu belum ditemukan air pompa dari tanah. Sehingga, Ferry dan aku setiap pagi harus mengangkut air dari sungai terdekat untuk mandi dan kebutuhan lainnya di kamar kost. Waktu itu, upahku bermain band adalah 50 rupiah per malam dari mulai maghrib hingga fajar sehingga kurang dari seminggu, aku bisa melunasi biaya kost itu. Tentu, tidak seperti saat ini dimana keahlian memainkan alat musik menjadi sangat biasa dan lumrah. Waktu itu, dengan minimnya sarana dan informasi, keahlian memainkan alat musik bisa menjadi bekal yang sangat berharga. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ayah Ferry bekerja sebagai pengajar Bahasa Jerman. Menurut kabarnya, bahkan setelah Indonesia merdeka Ayah Ferry masih digaji oleh pemerintah Belanda. Meskipun keturunan Jerman, keluarga mereka awalnya adalah Warga Negara Belanda. Memang, situasi yang tidak kondusif di Jerman kala itu memaksa banyak orang untuk pindah kewarganegaraan ke Belanda dan akhirnya ada beberapa yang dikirim ke Hindia Belanda untuk bekerja disini. Omaku pun memiliki cerita yang kurang lebih mirip, meskipun Ia sudah keturunan kesekian dari Orang Jerman. Oiya, kalau kalian tahu, Ferry ini adalah Om (Paman) dari seorang penulis lagu dan anggota band yang sangat terkenal di tahun 2000-an dari Surabaya. Nama bandnya menjelaskan usia mayoritas anggotanya pada saat itu, 19. Aku akan membiarkan para pembaca menebak siapa orangnya, karena yang jelas, band mereka sangat legendaris di Indonesia sehingga aku yakin, tidak ada seorang pun yang tidak tahu. Yang jelas, Ia memang seorang jenius dalam hal musik. Menurut cerita, ketika masih kecil Ia sempat diajari bermain gitar oleh ibunya. Sebulan kemudian, keadaan berbalik dan justru Ia yang mengajarkan beberapa hal tentang gitar kepada ibunya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berbicara tentang musik, musik selalu menjadi bagian dari hidupku. Selain suka bermain band, aku juga suka mengikuti perubahan genre musik sesuai perkembangan zaman baik di Indonesia dan mancanegara. Aku pun hidup di zaman ketika grup band Koes Plus dipenjara hanya karena menciptakan lagu yang memiliki nuansa barat. Kupikir, lucu juga negara ini yang sebegitunya menghalangi arus globalisasi dengan cara apapun, termasuk musik. Memang, negara ini relatif sangat muda waktu itu dan mungkin para penguasa takut dengan pengaruh pengaruh dari barat yang cenderung mendorong kebebasan. Hal yang bisa kuingat juga waktu itu, upacara bendera yang selalu diikuti dengan pidato dari sang proklamator selama sekurang kurangnya satu jam, bahkan sering lebih. Peserta upacara yang jatuh pingsan sudah bukan pemandangan yang jarang. Boleh dibilang, generasi kami adalah generasi yang sangat kental akan nilai nilai nasionalisme dan patriotisme. Dengan didikan yang cukup keras dan rentang waktu yang tidak lama setelah perjuangan kemerdekaan, kami menyaksikan langsung bagaimana bangsa ini berjuang untuk melepaskan diri dari penjajah.</span></p>
<h2>2. Sekolah yang gagal</h2>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Pekerjaanku sebagai pemain musik di kebun teh dan kopi di Jember benar benar memanjakanku. Selain gajinya yang sangat tinggi, yaitu 50 rupiah semalam, berbagai macam makanan dan minuman mewah disajikan di setiap malam. Seringkali, sisa makanannya masih bisa aku bawa pulang untuk sarapan dan makan siang. Walaupun hanya dengan lima hari bekerja aku sudah bisa mencukupi biaya kos (termasuk makanan yang biasa disiapkan oleh ibu kos), aku sering mengambil jadwal lebih banyak. Waktu itu, aku berpikir, lulus dari SMEA pun mungkin aku tidak menemukan pekerjaan dengan gaji tinggi seperti ini, lalu bagaimana bisa aku melewatkan kesempatan yang bagus ini? Meskipun aku bekerja dari malam hingga pagi, aku masih bisa masuk sekolah. Ya, walaupun badan juga tidak bisa bohong jadi sering kelelahan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Tahun pertamaku di SMEA berjalan mulus. Aku tidak menemukan banyak kesulitan untuk memahami isi pelajaran. Waktu itu, salah satu peraturan yang cukup sulit adalah syarat untuk naik kelas adalah lulus dari semua mata pelajaran. Salah satu mata pelajaran saja tidak lulus, maka siswa tidak bisa naik kelas dan terpaksa mengulang tingkat. Juga, waktu itu masih belum ada yang namanya remidi nilai yang biasa digunakan untuk mendongkrak nilai yang kurang memuaskan. Seolah tanpa ampun, beberapa teman teman satu angkatanku ada yang tidak naik kelas dan memilih untuk tidak melanjutkan sekolah. Bagaimana tidak? Ada biaya sekolah yang harus ditambah untuk mengulang kelas dan waktu itu, biaya sekolah termasuk cukup besar untuk kebanyakan keluarga disana. Dibandingkan harus menambah waktu belajar satu tahun lagi, dengan biaya yang tinggi dan ketidakpastian naik kelas, akhirnya banyak dari teman temanku yang memilih untuk langsung mencari kerja. Begitulah keadaan zaman aku dahulu. Akses sekolah masih sangatlah sulit untuk dicapai bagi kebanyakan orang dan peraturannya juga sangat sulit. Tapi sisi baiknya, lulusan SLTA sudah bisa bekerja dengan upah yang cukup untuk hidup. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Aku pikir, tiap generasi punya tantangannya masing masing. Di generasiku, asalkan kami punya pekerjaan yang cukup untuk kebutuhan sehari hari, kami sudah cukup puas. Bukan karena apa, tapi memang harga makanan dan bahan pokok waktu itu juga cukup mahal dibandingkan gaji kami. Aku pun sempat merasakan makan nasi jagung dan bekatul saat bahan pokok benar benar habis dan tidak mampu membeli bahan makanan lain. Sisi baiknya, populasi Indonesia mungkin hanya sekitar 60 juta jiwa waktu itu sehingga harga tanah masih cukup terjangkau, meskipun tetap mahal. Kebanyakan dari kami juga merupakan generasi pertama dari pejuang yang mendapatkan jatah tanah atau lahan dari kemerdekaan Republik Indonesia, sehingga kami tidak terlalu khawatir tentang hal itu. Selain itu, banyak juga orang berdatangan ke Jawa Timur untuk membuka lahan dari yang awalnya hutan. Mereka sering disebut sebagai pionir. Waktu itu, cara ini bisa digunakan untuk mendapatkan lahan baru dan dengan batas batas yang disepakati warga setempat, orang bisa dengan mudah mencatatkan lahannya di kantor setempat. Ada banyak hal yang sudah tidak relevan lagi sekarang dibandingkan zaman dahulu. Contohnya, sekarang harga makanan relatif sangat murah dibandingkan dengan upah minimum daerah. Mungkin, nasi dan ayam goreng harganya hanya Rp10.000 saja per porsi. Dibandingkan dengan upah minimum yang sekitar dua, tiga, atau empat juta rupiah, harga ini terlihat sangat kecil. Masalah jumlah pedagangnya pun sekarang sudah sangat banyak, tak perlu lagi bingung mencari makanan karena di setiap tepi jalan pasti ada saja warung yang menjual makanan. Tapi, kalau dibandingkan dengan harga sepetak tanah, jangan bermimpi untuk bisa membeli tanah dengan upah minimum itu. Kebanyakan dari mereka yang tidak mau berubah dan belajar, harus rela bekerja dengan upah minimum di usia produktifnya. Pada akhirnya, mereka akan menjual tanah dan pindah ke sisi luar kota yang lebih jauh untuk mendapatkan selisih rupiah dan sepetak tanah untuk hidup.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Karena di SMEA aku memilih jurusan pembukuan, aku memang terbiasa melihat dan memandang sesuatu dari perhitungan dan angka. Matematika itu tidak mudah, tapi dia tidak pernah berbohong. Dimanapun kita berada, dua akan lebih besar daripada satu, tiga akan lebih besar daripada dua, dan begitu seterusnya. Pengambilan keputusan manusia sangat lekat dengan perhitungan matematika, disadari atau tidak. Barang yang ditawar dengan harga lebih tinggi akan dilepas dengan lebih mudah. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Meskipun aku cukup cerdas dan cakap, aku bukanlah tipe orang yang percaya diri. Bisa jadi, karena masa laluku yang kelam dan label “anak haram” dari orang orang di sekitar rumah. Bisa jadi juga, karena aku tidak pernah mendapatkan dukungan moral dari orang tuaku. Aku tidak bisa menyalahkan siapapun. Mami adalah seorang wanita tanpa pekerjaan yang harus rela menumpang hidup kepada seorang veteran. Jangankan mendapatkan dukungan moral dari orang tua, sudah bisa hidup sampai SLTA di rumah itu saja, aku sudah bersyukur. Saat di SMEA ini, aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman teman bandku yang sama sama mencari rupiah untuk bertahan hidup. Aku bukanlah anak orang berada yang punya banyak pilihan. Karenanya, prestasiku di sekolah juga bisa dibilang biasa saja, tidak ada yang menonjol. Nilaiku saat kenaikan kelas hanya cukup dan sedikit diatas batas nilai lulus. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kalau aku ditanya orang apakah hidup ini pilihan dan ketetapan Tuhan, aku selalu berpikir 99% itu ketetapan Tuhan. Bisa saja, kita membuat pilihan dan pilihan di setiap langkah hidup kita. Hanya saja, konsekuensi dari pilihan tersebut, atau bahkan munculnya pilihan tersebut di kehidupan kita adalah juga ketetapan Tuhan. Contohnya aku, apa yang membuatku harus lahir di kondisi seperti ini? Ditinggalkan oleh ayah biologisku, di negara yang baru saja merdeka dengan segala carut marutnya dan konsekuensi konsekuensi setelahnya? Pilihan yang ada di depan mata hanya sedikit. Bekerja atau mati, itu seperti sudah ada di benakku sejak umur belasan tahun saja. Untungnya, dengan pola pikir seperti ini aku menjadi sangat ikhlas tentang apapun yang terjadi di kehidupanku - bekal yang sangat berharga untuk kehidupanku kelak. Pola pikir ini menjadi seperti kontrol perasaan dalam hidupku. Ketika datang waktunya senang, aku tidak pernah terlalu terbang, pun ketika sedih aku tidak terlalu jatuh, karena aku tau, semua itu tentang ketentuan Tuhan yang telah mengatur semuanya. Bayangkan, anak yang baru berusia 15 tahun ini sudah bisa berpikir seperti itu, hidup sendiri di luar kota, terpisah dari keluarganya dan harus membiayai sekolah dan hidupnya sendiri. Aku rasa, tak banyak yang sepertiku di masa sekarang.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Setelah naik kelas, aku tetap lanjut bermain band di perkebunan perkebunan milik Orang Belanda dan Inggris itu, malah semakin sering. Aku tidak bisa menghentikannya, dari yang awalnya bermain karena kebutuhan, sekarang aku mulai menyukainya. Mungkin aku bisa menjadi pemain musik profesional suatu saat nanti. Selain bermain drum, aku juga terkadang bermain gitar kalau musiknya tidak terlalu kompleks. Entah karena aku terlahir di zaman itu, atau memang karena aku menyukainya, genre yang sangat melekat denganku adalah jazz. Aku hanya bisa bermain rhythm ketika bermain jazz karena melodinya cukup sulit buatku. Tapi dengan drum, aku bisa bermain semua lagu yang band kami mainkan. Waktu itu juga, genre jazz sangat jarang didengar oleh Orang Indonesia. Kebanyakan orang lebih suka mendengarkan musik melayu dan dangdut dengan iramanya yang sangat khas dan membuat siapapun ingin bergoyang. Tapi aku rasa, musik dangdut adalah kebalikan dari musik jazz. Menurutku, musik dangdut sangatlah simpel dari segi ketukan maupun kord yang dimainkan. Hampir semua musik dangdut punya tempo yang sama dari awal hingga akhir lagu dan bisa dimainkan hanya dengan kunci dasar. Di sisi lain, jazz lebih sering punya hentakan, pergantian ketukan atau kadang tempo yang berubah, dan banyak sekali variasi kord seperti kord 7 dan 9. Bagi yang terbiasa bermain musik normal, belajar musik jazz akan punya tantangan tersendiri karena banyaknya variasi dari segi jumlah ketukan, tempo, maupun kord yang dimainkan. Kadang, jazz sendiri menjadi seperti genre yang hanya bisa dinikmati pemainnya dibandingkan penontonnya. Di sisi lain, musik dangdut seperti punya “aroma” yang mengundang siapapun yang mendengarnya untuk ikut bergoyang. Benar benar kebalikannya bukan?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Kesukaanku dalam bermusik kian membuat sekolahku berantakan. Aku menjadi sering tertidur di kelas karena terlalu lelah bermain musik semalaman suntuk. Aku mulai tidak bisa mengatur waktu belajar dan bekerjaku. Selain karena tidak bisa berhenti bekerja untuk membiayai sekolah dan hidupku di Jember, aku juga terlalu menyukai musik. Satu persatu, pertanda buruk pun mulai berdatangan. Aku mulai mendapatkan nilai buruk di ulangan harianku dan aku mulai ketinggalan materi pelajaran di kelas. Aku juga mulai jarang mengerjakan pekerjaan rumah yang semakin membuat nilai rata rataku menurun. Pada akhirnya, datanglah ujian akhir kenaikan kelas tiga. Aku mulai mengosongkan jadwal kerjaku di perkebunan itu dan belajar sungguh sungguh. Aku mencoba dengan sekuat tenaga untuk memahami seluruh materi dengan baik. Tetapi, sepertinya aku sudah terlambat untuk menyusul materi yang terlalu banyak itu. Ujianku gagal dan aku tidak mendapatkan nilai yang memuaskan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Aku sejenak terdiam ketika pengumuman nilai itu datang. Aku bingung tapi tidak sedih. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan setelah ini. Jangankan mendapat amarah dari orang tua, saran dan masukan pun tidak akan aku dapatkan karena aku sudah memutuskan untuk hidup sendiri disini. Tapi aku juga tidak merasakan kesedihan, karena seluruh biaya di Jember ini aku tanggung sendiri. Aku jugalah yang susah payah mencari rupiah dengan pekerjaanku. Meskipun bayaran bermain band cukup tinggi, aku masih berharap pada kesempatan pekerjaan formal setelah lulus SMEA. Setahuku, posisi posisi penting pada perusahaan waktu itu diisi oleh para lulusan SMEA. Waktu itu, perkebunan tebu dan pabrik gula masih menjadi primadona. Gaji yang cukup besar, ditambah dengan fasilitas pabrik berupa rumah dinas, transportasi keluarga, utilitas listrik, gas, air, dan bahkan telepon yang terpasang di rumah membuat bekerja di pabrik gula menjadi target banyak orang. Banyak orang tidak tahu, Kota Situbondo, yang sekarang mulai banyak ditinggalkan oleh penduduk aslinya, justru menjadi kota tujuan banyak orang dahulu. Setidaknya, ada lima pabrik gula yang beroperasi di Situbondo yang membuat banyak orang berdatangan untuk bekerja disini. Kota Jember pun tidak kalah ramai, di Jember ada pabrik gula yang pernah menjadi pabrik gula terbesar di Asia Tenggara, yakni Pabrik Gula Jatiroto. Saking besarnya pabrik gula ini, terdapat stasiun kereta api yang masih aktif beroperasi hingga saat ini. Tapi dengan adanya pengumuman nilai ini, sepertinya aku harus memupus harapanku untuk bekerja disana. Sebenarnya, bisa saja aku mendaftar ke pabrik gula dengan ijazah SLTA yang kupunya saat ini. Tetapi, sudah bisa dipastikan kalau mereka akan menanyakan pengalaman kerjaku sebagai tambahan. Aku pun dihadapkan pada pilihan untuk mengulang kelas SMEA atau langsung mencari pekerjaan. Keduanya bukan pilihan yang mudah, tapi apa boleh buat, inilah kondisiku sekarang yang harus kuterima. Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, aku harus menjalaninya.</span></p>
<h2>3. Keputusan untuk bekerja</h2>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Het kost geld, </span></i><span style="font-weight: 400;">ketidak lulusanku di SMEA datang dengan konsekuensinya sendiri. Aku mungkin tidak akan mempunyai kesempatan yang bagus untuk berkarir dengan jabatan yang menarik. Kendati demikian, aku bisa mencuri start dengan bekerja lebih muda. Walaupun aku tidak secara pasti tahu berapa usiaku - karena sertifikat kelahiranku sudah dibakar di masa penjajahan Jepang -  aku tidak harus menunggu dua tahun lagi untuk bekerja. Tempat pertamaku bekerja adalah PT Perkebunan di daerah Kalibaroe, Jember. Waktu itu, perusahaan ini juga masih dimiliki oleh Warga Negara Inggris. Perusahaan ini menjual berbagai macam hasil perkebunan seperti kopi dan kakao. Tempatku bekerja ini memiliki hawa yang sangat berbeda dari tempatku berasal, Situbondo. Di daerah dataran tinggi ini, matahari tidak pernah terasa menyengat dan justru sangat dingin. Curah hujan disini juga jauh lebih tinggi dibandingkan Situbondo. Mungkin kalian tidak percaya, tapi walaupun kulitku putih eropa seperti ini, aku sangat tidak tahan dingin, haha. Aku sudah tinggal di salah satu kota terpanas di Indonesia sejak lahir, Situbondo, apa yang bisa kuharapkan? Kota Jember pun sangat terasa berbeda bagiku. Apalagi di tahun 60-an awal, ketika populasi Indonesia masih sepertiga dari yang kita tahu sekarang, masih tidak banyak aktivitas manusia, kendaraan bermotor, maupun industri berat. Kota Jember sudah sangat sejuk bagiku. Lebih lebih, dengan tempo kerja yang cukup unik seperti ini, dimana hasil dari gunung sering kali dikirim malam subuh dan aku harus ikut dalam perjalanan produknya menuju Kota Jember, aku jadi sering sakit sakitan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang jaman dahulu sangat peka terhadap suatu pola hidup keseharian, atau yang biasa disebut dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">common sense</span></i><span style="font-weight: 400;">. Kami tidak dikelilingi </span><i><span style="font-weight: 400;">gadget </span></i><span style="font-weight: 400;">yang bisa menjawab pertanyaan apapun dalam sekejap. Kami harus bisa memperhatikan pola dari kejadian kejadian di setiap hari. Hal ini sebenarnya punya sisi positif, dimana kita bisa lebih fokus dalam pekerjaan kita dan membangun </span><i><span style="font-weight: 400;">long-term memory </span></i><span style="font-weight: 400;">yang pasti akan dibutuhkan di pekerjaan kita. Dalam kaitannya dengan pekerjaanku saat ini, kalian bisa</span><i><span style="font-weight: 400;"> </span></i><span style="font-weight: 400;">perhatikan pasar pasar tradisional di kota kalian. Seringkali, pasar dimulai ketika sebelum subuh dan hampir bisa dipastikan habis barang di pukul 8 pagi. Komoditas seperti sayur segar itu biasanya dikirim dari gunung jauh lebih pagi lagi, sekitar jam 1 atau 2 pagi, tergantung jaraknya dengan pusat kota. Volume barang pun biasanya akan tinggi di akhir pekan karena akan ada banyak orang berbelanja. Harga barang tersebut akan terdistribusi secara merata dan cenderung lebih murah ketika lokasi pasar yang menjual lebih dekat dengan sumbernya. Tidak seperti sekarang, dimana pasar modern bisa menjamin ketersediaan berbagai macam barang dan memiliki harga yang relatif sama di berbagai titik outlet. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kendati aku bekerja di tempat yang sangat asri, aku tidak paham, bagaimana bisa tempat seindah ini, di gunung yang sangat sepi dan menenangkan ini, aku bisa tidak kerasan. Ketika bangun di pagi hari, semua burung berkicau dengan sangat indahnya. Dari aula utama kantor kami di puncak bukit, bisa terlihat Terowongan Mrawan. Di sisi kiri dan kanan terowongan tersebut, tertulis angka ‘1901’ dan ‘1902’ yang menandakan tahun mulai dibangunnya terowongan tersebut. Sedangkan di bagian atas terowongan tertulis angka ‘1910’, tahun dimana terowongan ini diresmikan oleh pemerintahan Hindia Belanda pada saat itu. Terowongan ini memiliki panjang sekitar 690 meter, yang merupakan sebuah pencapaian pada waktu itu. Bahkan kabarnya, hingga saat ini terowongan ini menjadi terowongan aktif terpanjang kedua di Indonesia. Memang, Belanda tidak secara cuma cuma membuat negara koloninya di Indonesia. Meskipun, memang ini jelas sebuah fasilitas penunjang bisnis kala itu untuk mengangkut penumpang dan hasil bumi, nyatanya, hingga saat ini terowongan ini masih aktif digunakan oleh masyarakat luas. Terowongan ini menghubungkan jalur kereta api Kota Jember dan Banyuwangi yang dipisahkan oleh Gunung Gumitir dan aku boleh bilang, pemandangan di rute perjalanan kereta Jember - Banyuwangi ini adalah salah satu yang terindah. Dari Jember, kereta akan menuju Kalisat, tempat yang condong berada di utara untuk memutari gunung. Dari Kalisat, kereta akan bergerak menuju ke selatan lagi ke arah Gunung Gumitir, dimana kita akan melewati Terowongan Mrawan dan lanjut menuju ke Kalibaroe. Setelah Stasiun Kalibaroe, kita akan menjumpai Stasiun Glenmore. Sudah bisa dipastikan, nama Glenmore ini bukan dari kosa kata Bahasa Indonesia. Faktanya, Glenmore memang diambil dari Bahasa Gaelik, dari pendatang Inggris yang bermukim di tempat ini. Glenmore sendiri memiliki arti bukit besar, karena lokasinya yang berdekatan dengan bukit bukit atau gunung yang besar. Setelah dari Glenmore, kereta akan menuju Stasiun Kalisetail, Rogodjampi dan terus menuju Stasiun Ketapang yang berdekatan dengan penyebrangan kapal feri ke Pulau Bali. Wilayah kerjaku saat itu terbatas hingga di wilayah Kalisetail. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hari demi hari, aku rasa badanku semakin tidak karuan. Mulai dari mual, pusing, sakit pilek, semuanya datang dengan frekuensi yang semakin sering. Atasanku yang melihatku setiap hari seperti orang linglung akhirnya menanyakan kepadaku, “Dik Herry ini sepertinya tidak kerasan yah?”. Aku disini biasa dipanggil Herry. Aku terdiam sejenak, tidak berani melanjutkan sepatah kata apapun. Sudah bukan lulusan sekolah menengah atas, disini pun baru bekerja sekitar 3 bulan, apa yang harus aku katakan ke beliau? Sudah beruntung aku bisa melanjutkan hidup disini. Tempatnya asri, sejuk dan nyaman, pun tidak terlalu jauh dengan Kota Situbondo dimana Mami tinggal. Agaknya, justru aku yang kurang bersyukur dengan keadaanku. Belum selesai pikiran ini menerawang kemana-mana, Ia melanjutkan, “Bagaimana kalau saya pindahkan Dik Herry ke daerah Asembagoes? Disitu lokasinya lebih dekat dengan Situbondo”. Tanpa disangka, ternyata bosku menawarkan hal yang selama ini aku pikirkan. Memang rejeki datang tanpa disangka sangka. Selain lokasi yang lebih dekat dengan Situbondo, kabarnya pegawai yang bekerja di sini juga tidak memiliki tempo kerja seperti di daerah. Mereka memiliki jadwal yang lebih teratur seperti pekerja kantoran. Kami yang biasa bekerja di daerah harus selalu mengikuti jadwal panen dan pengiriman dari kebun, sementara pekerja kota punya ritme yang lebih stabil. Tanpa banyak berpikir lagi, aku menjawab dengan mantap, “Siap Pak!”.</span></p>
<p> </p>
<p><span style="font-weight: 400;">***</span></p>
<p> </p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selanjutnya, aku bekerja di proyek pemerintahan Bung Karno saat itu. Nama proyeknya adalah Komando Operasi Gerakan Makmur (KOGM). Program ini dilakukan sekitar 1959 hingga awal 1960-an untuk swasembada pangan. Di tiap daerah, fokus hasil pangannya berbeda. Di Situbondo dan Jawa Timur, pada umumnya beras dan gula menjadi komoditas utama. Tapi di Aceh, misalnya, program itu berfokus pada hasil tangkapan ikan laut. Pada awalnya, aku ditempatkan untuk bekerja di Kota Situbondo. Selang beberapa bulan bekerja, aku langsung dijadikan pemimpin proyek di area Asembagus. Aku bangga bukan main, hanya bekerja selama beberapa bulan, pangkatku sudah bisa menjadi pemimpin proyek. Walaupun, tetap saja, karena keterbatasan biaya dan transportasi, aku harus menumpang truk tetes tebu dari pabrik gula yang lewat di jalur pantura untuk bekerja setiap pagi dan sore. “Tidak apa, toh  aku adalah pemimpin proyek”, pikirku saat itu. Sampai suatu hari, seorang rekan lama bertemu denganku yang hendak turun dari truk tetes tebu di Situbondo. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Herman! Benar itu kamu?” teriak Pak Supriyono, seorang kepala Bank BKTN (Bank Koperasi Tani dan Nelayan) yang saat ini menjadi BRI setelah melebur dengan Bank Tani Nelayan dan Nederlandsche Maatschappij (NHM). “Mau pulang kamu Her?” tanya ia kembali. Aku pun segera mendekatinya, karena ia adalah orang yang cukup penting dalam lingkarang pertemananku. Kami kenal baik karena setiap ada acara, entah dari keluarganya maupun dari kantor, Pak Supriyono selalu mengundang grup bandku, tidak pernah yang lain. “Iya Pak, apa kabar?”, tanyaku kembali. Tanpa basa basi ia langsung bertanya dengan nada agak tinggi, “Kamu tahu Her, mau sampai kapan kamu bekerja di komando pemerintahan seperti ini?”. Awalnya aku kurang paham dan bingung sambil mengernyitkan dahi. Ia melanjutkan, “Yang namanya komando komando seperti ini, pasti akan ada habis masanya. Pasti akan selesai, tidak mungkin kamu bekerja disini selamanya!”. Seketika, rasa banggaku yang baru saja akan bercerita tentang posisiku di Asembagus langsung runtuh. Aku tidak mengira, posisi pentingku yang terpandang di organisasi ini ternyata tidak akan lama, dan aku akan harus segera mencari pekerjaan baru lagi. Dan benar saja, KOGM yang dicanangkan pemerintah untuk swasembada pangan ini hanya beroperasi hingga sekitar tahun 1963. “Kamu mau, bekerja di bank? Saya punya kenalan di kantor pusat BRI di Surabaya”, tanya Pak Supri. Sejenak aku berpikir, belum juga satu tahun aku bekerja disini, sama seperti sebelumnya, sudah akan pindah lagi. Apa benar ini cara yang baik untuk berkarir? Tapi, apa yang dikatakan Pak Supri benar juga, aku tidak mungkin selamanya ada di komando ini. Aku harus berpikir panjang untuk masa depanku. Belum habis aku berpikir, Pak Supri menjawab lagi, “Kalau mau, segera siapkan surat lamaran dan dokumen lainnya ya!”. </span></p>
<p> </p>
<p><span style="font-weight: 400;">***</span></p>
<p> </p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Aku mulai menyisihkan sebagian gajiku untuk berangkat ke Surabaya. Ternyata, tak berselang lama, lamaranku dijawab oleh kantor pusat dan aku harus berangkat untuk wawancara di Surabaya. Ternyata benar Pak Supriyono, walaupun pangkatku sudah pemimpin proyek, gajiku yang bisa kusisihkan hanya cukup untuk berangkat pulang pergi sekali ke Surabaya dan makan satu kali saja. Aku tidak dapat banyak dari pekerjaanku saat ini. Saatnya aku pindah dan mencari rejeki di tempat lain. Sebenarnya, di waktu waktu ini, pabrik gula adalah rajanya industri di Indonesia. Pegawainya banyak yang makmur dengan upah tinggi, fasilitas, dan perumahan dinas. Sehingga, gaji pegawai nyaris tidak terganggu dengan utilitas dan pengeluaran keseharian. Tapi, aku tidak suka dengan sistem yang mereka buat, yakni kelas pegawai. Berbagai macam fasilitas yang  kusebutkan tadi hanya bisa dinikmati oleh pegawai kelas satu, sementara pegawai kelas dua hanya mendapatkan gaji tanpa fasilitas. Paling paling, aku juga hanya akan menjadi pegawai kelas dua jika mendaftar bekerja disana. Yang kedua, aku tahu bahwa semua industri akan ada masanya, sama seperti proyek yang aku kerjakan sekarang, sedangkan semua perniagaan manusia akan membutuhkan uang. Sehingga aku rasa, bank menjadi kesempatan yang sangat bagus bagiku saat ini. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Hari Senin pagi, aku berangkat dari Situbondo menuju Surabaya dengan bus antar kota bersama beberapa temanku yang sama sama mengirimkan surat lamaran ke BRI. Kabarnya, memang ada banyak posisi kosong di Jawa Timur. Saat itu, tidak ada bus jurusan langsung Situbondo-Surabaya dan sebaliknya. Penumpang biasanya akan transit di Kota Probolinggo. Probolinggo ini memang menjadi tempat yang cocok untuk transit karena dari Kota Surabaya, jalurnya akan bercabang menuju Situbondo di jalur pantai utara dan Kota Lumajang dan Jember di bagian selatan. Sehingga, terminal di kota ini sangat ramai karena orang yang mau ke Surabaya dari Situbondo, Banyuwangi, Jember, dan Lumajang, akan transit disini. Sebenarnya ada juga moda transportasi darat tanpa transit, yaitu kereta api. Tapi, melihat harga yang relatif lebih murah dengan bus kota, bisa dipastikan mayoritas orang tetap memilih bus ketimbang kereta api. Bagi yang belum tahu juga, sebenarnya kereta api masih beroperasi juga di Situbondo hingga tahun 1980-an. Tetapi, satu satunya jalur yang tersedia ke Surabaya harus melalui Jember. Ini membuat selain harganya relatif lebih mahal, perjalanan juga menjadi lebih panjang karena kita harus pergi ke selatan terlebih dahulu. Memang, jalur pantura dari Kota Probolinggo ke Situbondo melewati beberapa gunung yang batuannya keras dan tanahnya cenderung naik turun. Selain itu, tidak banyak ditemukan komoditas dan hasil bumi di daerah ini, dibandingkan dengan daerah Lumajang dan Jember. Oleh sebab itulah, mungkin Belanda tidak membangun jalur kereta api dari Probolinggo langsung ke Situbondo, melainkan ke selatan, ke arah Lumajang, Jember, dan Banyuwangi. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Aku tiba di Surabaya sekitar waktu Shalat Dhuhur. Setelah menunaikan shalat, aku menghadap ke ruangan wawancara. Tak kusangka, orang yang mewawancarai aku adalah M.J. Kapers, salah satu pimpinan BRI di Jember. Aku pun sering bertemu dengannya karena diundang sebagai band pengiring waktu masih di Jember. Satu hal yang membuatku cukup gembira juga adalah kabarnya ia suka menolong Orang Indo, karena ia juga adalah campuran indo belanda. “Wah Her, nampaknya kamu akan sukses nih, Pak Kapers ini dikenal suka mencari orang keturunan indo belanda!”, sahut salah satu temanku dalam ruang tunggu wawancara. “Yaa, kita lihat sajalah nanti”, jawabku singkat. Aku sudah tidak mau banyak berharap soal pekerjaan. Terbukti, dua kali aku menjalani pekerjaan dalam kondisi yang kurang beruntung. Ya, mungkin lebih baik bersiap untuk yang terburuk dahulu, daripada menyesal dengan harapan harapan yang terlalu tinggi. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">“Selanjutnya, Bapak Herman!”, sahut sang asisten penunggu ruangan. “Inilah saatnya, aku harus bersiap dengan segala kemungkinan”. Aku masuk dengan jantung berdebar-debar. “Herman, betul? Silakan duduk”, sambut Pak Kapers dengan senyum. “Saya tidak akan lama, kita sedang butuh banyak tenaga di bank ini”, lanjut Pak Kapers. “Kalau mau kerja di bank, kamu tidak harus pintar, tapi kamu harus jujur!”, lanjut Pak Kapers dengan nada lebih tegas. Ia lantas bertanya, “Apakah kamu orang yang jujur, Herman?”. “Siap Pak, saya jujur”, jawabku dengan tegas juga. “</span><i><span style="font-weight: 400;">Goed</span></i><span style="font-weight: 400;">”, jawab Pak Kapers dalam Bahasa Belanda… Sejenak lalu ruangan Pak Kapers sunyi karena Ia tak langsung bertanya lagi. Beberapa waktu kemudian, Ia melanjutkan, “Tapi untuk posisi ini, kamu harus siap ditempatkan di seluruh Jawa Timur, dimanapun di Jawa Timur, apa kamu siap?”. Belum sempat aku menjawab, mungkin karena raut wajahku terlihat kurang yakin, Ia melanjutkan, “Jangan dipikir pikir di luar, disini sekarang, mau ambil, </span><i><span style="font-weight: 400;">op</span></i><span style="font-weight: 400;"> tidak?”. Seketika teringat pekerjaanku di Jember yang sangat menyiksaku waktu itu. Pekerjaan yang mengharuskanku tinggal di hutan belantara selama berminggu minggu dan hanya punya kesempatan untuk pergi ke kota sesekali waktu. Meskipun demikian, pekerjaan ini tidak bisa disamakan dengan pekerjaanku dulu. Dengan jenjang karir yang jelas, pekerjaan ini jelas lebih baik daripada yang sebelumnya. “Ya… mau saja Pak”, jawabku kemudian. “</span><i><span style="font-weight: 400;">Goed</span></i><span style="font-weight: 400;">”,jawab Pak Kapers lagi, dengan Bahasa Belandanya yang sebenarnya lebih punya aksen </span><i><span style="font-weight: 400;">medok</span></i><span style="font-weight: 400;">. “Ini, saya punya surat penempatan buat kamu, silakan dibawa pulang”. Dan begitu sajalah wawancaraku dengan Pak Kapers ini. Tanpa ada basa basi yang lainnya, kandidat lain langsung dipanggil. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Dalam perjalanan pulang, aku tidak berani membuka surat penempatan yang diberikan Pak Kapers. Semua temanku di perjalanan bilang, ”Mungkin itu kamu ditempatkan di Pacitan, Her, haha. Mereka bilang, untuk posisi yang kamu lamar, ada empat orang dibutuhkan di Pacitan”. Aku makin merasa linglung dan tidak berdaya. Pacitan itu jauh sekali, sudah dekat Jogja bukan? Dan posisinya yang berada di Pantai Selatan Pulau Jawa, akan membuat transportasi ke kota ini sangat sulit. Harus pakai apa nanti aku untuk kesana? Lamanya perjalanan sampai tidak terasa karena aku terlalu fokus memikirkan penempatan ini. Sampai di Probolinggo, rombongan kami turun dari bus untuk ganti bus dan istirahat sejenak. Kami lantas jajan bakso sambil menunggu bus tujuan Situbondo datang. Sambil menunggu pesanan datang, akhirnya aku beranikan diri untuk membuka isi surat penempatan dari Pak Kapers. Dengan jantung berdebar, perlahan kubuka surat tersebut. Alangkah kagetnya diriku setelah melihat isi surat Pak Kapers, yang menempatkan diriku di Kota Situbondo! Saat itu juga, teman temanku juga semuanya kaget. “Tidak disangka! Kau beruntung sekali Her!”, kata mereka. Ternyata selama ini Pak Kapers bermain drama di depanku. Ia ingin menguji mentalku saat wawancara, dan untungnya, aku lulus. Aku harus memberi tahu Mami soal ini, Ia pasti senang!</span></p>
<p> </p>
<p><span style="font-weight: 400;">***</span></p>
<p> </p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Sabtu sore di Dawuhan, Situbondo. Waktu yang tepat untuk mengumumkan kepada Mami bahwa aku sudah diterima menjadi pegawai bank di Situbondo. Aku pun kemungkinan besar akan tinggal di Dawuhan, bersama Mami, karena jaraknya yang sangat dekat dengan kantor. “Mami! </span><i><span style="font-weight: 400;">Hoe gaat het? </span></i><span style="font-weight: 400;">Nono punya kabar baik!”, sahutku dari jauh karena sudah tidak sabar. “</span><i><span style="font-weight: 400;">Nono! Goed! Kom, kom!”. </span></i><span style="font-weight: 400;">Setelah masuk, aku langsung mengabarkan kepada mami, “Mami, Nono diterima bekerja di bank! Di BKTN, lokasinya disini, di Kota Situbondo. Kantor Nono ada di Jalan Achmad Yani itu!”. Mami membalas, “</span><i><span style="font-weight: 400;">dat is goed nieuws, Nono! Gefeliciteerd! </span></i><span style="font-weight: 400;">Tinggallah disini, bersama saudara saudaramu”. Tanpa berkata banyak lagi, aku langsung mengiyakan Mami. Selain karena aku lebih suka tinggal bersama orang lain, tidak sendirian, aku juga tidak harus membayar uang kos lagi. Waktu itu, gajiku perbulan adalah 1200 rupiah. Gaji yang sebenarnya cukup lumayan, tetapi sayang juga kalau dipakai kos 200 hingga 300 perak perbulan. Hanya saja, tidak seperti sekarang dimana harga pangan sudah sangat terjangkau dengan berbagai macam pilihan juga. Waktu itu, beras sangatlah mahal dan bisa dibilang langka di pasaran. Waktu itu, masyarakat lebih banyak mengonsumsi bulgur, sejenis biji bijian gandum yang diimpor dari luar negeri, terutama Amerika Serikat. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bulgur tidak bisa tumbuh di Indonesia karena memang pada dasarnya gandum hanya berasal dari negara negara empat musim. Mungkin karena bisa disimpan dalam jangka waktu yang sangat lama, sampai dua tahun, bulgur ini diimpor dengan sangat masif pada waktu itu. Aku beruntung, tunjangan dari bank membuatku tidak harus membeli bahan makanan murah ini, yang ternyata kata orang orang sangat tidak enak. Teksturnya aneh, cepat matang, dan ketika sudah matang tidak lengket satu sama lain. Rasanya pun sangat hambar dibandingkan nasi. Aku heran, pulau jawa yang sangat subur dan penghasil padi di Indonesia ini… berasnya lari kemana? Beberapa bulan masyarakat luas mengonsumsi bulgur, ternyata di negara asalnya bahan makanan ini adalah pakan kuda! Awal tahun 60-an, sudah mulai banyak yang tidak simpati dengan Soekarno. Setelah berhasil mengusir penjajah, gerakan anti imperialismenya justru membuatnya berambisi untuk menghabisi Negara Malaysia dan Singapura yang dianggapnya negara bentukan barat. Imbasnya, bahan pokok sangat sulit dicari, ekonomi rusak, dan pembangunan macet. Sampai pada akhirnya kita semua tahu, kita diberi makanan kuda! Kalaupun gula produksi Indonesia ini sudah tidak lagi berjaya seperti dahulu Hindia Belanda memegang kekuasaan, bisa dimengerti. Aku yakin, pabrik hanyalah tempat produksi barang dan ekonomi tetap harus berjalan dari perdagangan. Gula yang sudah diproduksi tidak akan ada harganya jika tidak ada yang mau membelinya. Jalur perdagangan negara yang berkonflik pasti terganggu. Begitu pula orang orangnya yang mayoritas kulit putih, atau keturunan indo yang waktu itu banyak diusir, tidak bisa menjalankan perdagangan. Sangat bisa dipahami. Tapi apa kabar dengan beras? Bahan pokok yang berasal dari tanah kita sendiri untuk memenuhi kebutuhan pangan kita sendiri. Kenapa tiba tiba bahan ini tidak ada di pasar? Kemarahan masyarakat menyeruak dimana mana. Mungkin, ini menurut pendapatku saja, para pejabat negara kolonial Hindia Belanda yang sudah dipulangkan waktu itu tersenyum sinis di meja makannya sambil membaca berita ini, “Mengatur negara susah bukan, Soekarno?”. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Mami sangat bangga kepadaku, karena bisa mendapatkan pekerjaan yang sangat layak. Beberapa kali, bahan pokok yang kudapat dari kantor juga digunakan di rumah untuk seluruh anggota keluarga. Nampaknya, Mami lebih bangga kepadaku dibandingkan dengan saudara tiriku yang lain, meskipun ia tidak bisa berkata banyak karena takut kepada Mario. Mario ini agak aneh, anak anak laki lakinya tidak dididik dengan keras dan cenderung dimanja. Di sisi lain, entah kenapa Mami juga seperti membiarkan hal ini terjadi bertahun tahun. Aku melihatnya hampir seperti Mami tidak terlalu peduli. Ah, tapi memang membesarkan banyak anak itu tidak mudah. Pasti Mami lelah kalau harus memperhatikan semua anaknya dengan sangat detil. Anak anak harus bisa lebih mandiri di usia muda. Aku pun bisa dibilang sudah hidup sendiri sejak lulus SLTP, tanpa bantuan sepeserpun dari orang tua. Entah, aku harus bersyukur atau sedih atas hal ini. Yang jelas, dengan cara seperti ini aku bisa berhasil menjadi seorang pegawai. Aku hanya perlu untuk melanjutkan karir dan berkeluarga.</span></p>
<h2>4. Siti Fatimah</h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Aku bertemu dengannya di perkumpulan pengajian pemuda Situbondo. Parasnya yang sangat cantik, rambutnya keriting, kulit gelap, dan hidungnya yang kecil membuatku terpesona pada pandangan yang pertama. Kata banyak orang, Orang Belanda itu memang seleranya lain. Di saat standar kecantikan banyak orang adalah kulit putih, tubuh tinggi, dan rambut lurus, aku justru menyukai yang sebaliknya. Aku tidak berani mendekatinya di awal pertemuan kami. Tapi aku tahu, dia juga beberapa kali melihatku dengan sengaja. Namanya adalah Siti Fatimah. Ayahnya adalah Kyai terkemuka di Jawa Timur dan menurut kabar kakeknya juga demikian. Bahkan, kakeknya memiliki indra keenam yang bisa melihat masa depan. Kakeknya adalah salah satu pelopor dan pendiri organisasi Muhammadiyah yang berbasis di Bondowoso. Tidak seperti kebanyakan wanita di zamannya, Fatimah menyelesaikan pendidikan formal hingga SLTA PGRI dan ketika lulus, akan langsung diangkat menjadi guru olahraga. Semua orang hormat kepada keluarga besar Fatimah. Mungkin, di zaman Hindia Belanda dahulu pemuka agama tidak terlalu disorot dan dihormati karena orang lebih takut kepada tentara kolonial. Apalagi, kegiatan beragama tentu sangat dibatasi dibandingkan dengan saat ini. Tapi zaman sudah berubah. Setelah kemerdekaan Indonesia, banyak organisasi berbasis agama yang sudah mulai gencar berdakwah hingga ke pelosok. Dan tentu saja, pelopornya memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam kehidupan bermasyarakat di daerah tersebut. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saat ini, justru aku lah yang tidak memiliki nilai tawar apapun kepada Fatimah. Ayahku entah siapa dan dimana, sementara Mami dan Oma masih berdoa menggunakan Rosario, dengan cara Katolik. Beberapa kali aku diajarkan tentang Agama Islam oleh Mario. Mungkin, ini adalah satu satunya bekal yang baik dari Mario untuk hidupku saat ini. Aku mengerti tata cara shalat yang baik dan benar, tapi aku tidak rutin mengerjakannya lima waktu. Aku pun tidak lancar mengaji dan membaca Al Quran. Sedangkan Siti Fatimah, jangankan membaca, surat surat di dalam Al Quran pun ia sudah banyak yang hafal. Aku pikir, aku hanya bisa mengaguminya dari kejauhan. Kemungkinan untuk mendekatinya, sepertinya nol besar. Anak muda lain yang juga berasal dari keluarga Kyai dari daerah lain, sepertinya lebih cocok dengannya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tapi takdir berkata lain, karena Fatimah ternyata tertarik kepadaku. Beberapa kali kami bertemu dan mengobrol. Kami semakin merasa nyaman dan cocok satu sama lain. Bahkan, kami jadi lebih sering bertemu di luar hari pengajian. Aku merasa senang sekaligus takut, karena kesedihan yang terdalam biasanya datang di saat yang paling membuatmu bahagia. Sampai pada satu waktu, ada peristiwa yang membuatku hampir patah hati. Sore itu, saat kami sedang bertemu setelah pengajian, Fatimah berkata kepadaku, “</span><i><span style="font-weight: 400;">No, aku wedi. Aku gak oleh sir-siran ambek bapakku” </span></i><span style="font-weight: 400;">yang kira kira artinya adalah “No, aku takut. Aku tidak boleh pacaran oleh ayahku”. Waktu itu, kami lebih sering menggunakan bahasa jawa timuran dibandingkan bahasa madura karena masih agak canggung. Memang, bahasa jawa timuran menjadi bahasa yang sedikit formal disini karena banyak orang penting datang dari Surabaya. Perkataan Fatimah membuatku sedih saat itu. Aku sempat mengira, ini adalah pertemuan terakhir kami. Dan memang, setelah itu kami tidak bertemu untuk beberapa waktu. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tidak disangka, pada waktu itu terjadi perdebatan hebat dalam keluarga Fatimah. Fatimah yang kala itu sudah memiliki beberapa calon pelamar dari ayahnya tidak mau menerima lamaran. Ayahnya pun sebenarnya cukup demokratis, dengan tidak memutuskan pilihannya sendiri meskipun sedikit memaksa kepada Fatimah untuk menerimanya. Fatimah memanggil ayahnya dengan sebutan Rama. “Rama, Fatimah sudah punya pilihan sendiri”, sahut Fatimah dalam satu diskusi keluarga. “Ah, siapa Fatimah”, tanya ayahnya. Dengan ragu dan rasa takut, Fatimah menjawab, “Herman. Herman Nono, Rama”. “Apa!”, sontak seluruh orang di dalam rumah terkejut. Bukan karena Fatimah tidak memilih apa yang ditawarkan ayahnya, yang membuat beliau begitu marah. Tapi karena aku lah, pilihan Fatimah, yang membuat ayahnya marah besar. “Anak haram itu? Bagaimana dia bisa masuk dalam pikiranmu Fatimah!”, ayahnya bertanya. “Anak itu bisa shalat? Apa agamanya?”, ayahnya melanjutkan, “Kalau besok kalian menikah, siapa yang akan datang sebagai walinya? Bayangkan!”. Dan memang, Fatimah sudah tahu hal ini akan terjadi. Nama Herman Nono akan membuat ayahnya marah besar. Tapi Fatimah sudah membulatkan tekad untuk mengutarakannya kepada ayahnya, karena memang sudah saatnya. Waktu itu, banyak wanita yang sudah menikah dan memiliki anak di usia yang relatif sangat muda, antara 16 hingga 19 tahun. Fatimah sudah 20 tahun dan sudah saatnya menikah. Sayangnya, Fatimah tidak tertarik pada pilihan yang diberikan ayahnya dan lebih tertarik kepadaku. Sehingga, Fatimah sering mengulur waktu dengan alasan mau menyelesaikan sekolah dahulu, mau bekerja dulu, dan lain lain. Tapi setelah beberapa waktu, Fatimah pun memberanikan diri untuk berkata kepada ayahnya tentang perasaannya yang sebenarnya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selang beberapa waktu setelah kejadian tersebut, perlahan Rama mulai luluh kepada Fatimah. Ternyata, Rama dinasehati oleh ayahnya (yang merupakan kakek dari Fatimah) tentang keberadaanku. “Memangnya, bayi yang baru lahir punya pilihan untuk dilahirkan dari keluarga yang baik baik saja? Apakah Herry bisa memilih untuk tidak menjadi anak haram?”, ujar Kakek kepada Rama. “Ya, tapi kita tidak tahu apakah Herry mau shalat”, balas Rama. “Perkara itu, mari kita tanyakan kepada anaknya. Undang dia kesini dengan baik baik. Tanyakan niat dan tujuannya, serta sebutkan syaratmu sebagai walinya”. Perbincangan inilah yang menjadi awal pertemuanku dengan Fatimah lagi di rumahnya. Aku masih ingat betul waktu itu raut wajah Rama yang cenderung serius dan kaku, sementara Kakek Fatimah cenderung ramah dan santai. Waktu itu, aku ditanya tentang tiga hal penting yakni maksud dan tujuanku mendekati Fatimah, apa pekerjaanku, dan apakah aku mau untuk shalat. Ketiganya kujawab dengan mantap, aku sudah merasa nyaman dengan Fatimah dan aku ingin menjalani hubungan yang serius dengannya, aku sudah bekerja sebagai pegawai bank sehingga aku mampu untuk menafkahinya, dan aku juga mau dan berusaha untuk shalat dengan rutin. Dalam suasana yang cukup serius itu, Kakek berkata kepada Rama, “Sekarang, syarat sudah dicukupi oleh Nak Herry. Sisanya, Fatimah yang menentukan”. Tanpa berpikir dua kali, Fatimah langsung mengangguk kecil sambil menahan malu kepada orang tuanya. Akhirnya, disepakatilah tanggal pernikahan kami, 13 Mei 1963.</span></p>
<h2>5. Pernikahan dan karir</h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Cinta menurutku adalah tanggung jawab. Tidak ada yang lebih besar dibandingkan dengan perbuatan kita. Kata kata tidak akan ada artinya tanpa perbuatan yang konkret. Aku juga bisa dibilang tidak romantis kepada Fatimah. Hampir tidak pernah kehidupan pernikahan kami diwarnai rayuan dan pujian. Apalagi, kalau bahasa sehari-harinya Bahasa Madura, sepertinya agak susah mencari kosa kata romantis di bahasa ini. Ah, jangankan romantis, ucapan selamat pagi saja tidak ada di bahasa ini. Dalam Bahasa Inggtis, sapaan ini dikenal dengan “</span><i><span style="font-weight: 400;">greetings</span></i><span style="font-weight: 400;">”. Ucapan seperti selamat datang, selamat pagi/ siang/ sore/ malam. Dalam Bahasa Jawa, kita mengenalnya dengan “</span><i><span style="font-weight: 400;">sugeng rawuh, sugeng enjing” </span></i><span style="font-weight: 400;">dan lain lain. Sayangnya, ucapan ini tidak dikenal di Bahasa Madura. Bahasa Madura adalah bahasa yang sangat lugas, tegas, </span><i><span style="font-weight: 400;">to the point, </span></i><span style="font-weight: 400;">sama dengan karakter orang orangnya. Mungkin juga terpengaruh secara budaya dan geografis, aku pun menjadi orang yang sangat lugas. Pokoknya, tujuanku dalam berumah tangga adalah kehidupan yang lebih layak bagi seluruh anggota keluargaku. Aku boleh saja terlahir di kondisi tidak sempurna. Ayah biologisku mungkin meninggalkanku dan Mami begitu saja, tetapi anak dan istriku tidak akan mengalami hal yang sama. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Di awal tahun pernikahan, kami masih tinggal di rumah Mario dan Mami. Bahkan sampai anak pertama kami lahir, kami masih berada di rumah tersebut. Anak pertama kami perempuan, lahir di tahun 1964, dengan nama Evelyn. Oma juga masih hidup waktu itu. Bahkan, nama Evelyn juga merupakan rekomendasi dan inspirasi dari Oma. Aku sangat ingat momen itu, momen dimana Fatimah sudah dekat waktu persalinan dan Oma mendoakan Fatimah siang dan malam. Bukan dengan cara Islam, melainkan dengan cara Katolik, menggunakan Rosario. Doa Rosario adalah doa Umat Katolik menggunakan semacam tasbih untuk membantu menghitung jumlah doa yang diucapkan. Aku tidak tahu persis apa yang dibacakan waktu itu, karena pada dasarnya aku juga tidak pernah belajar Agama Katolik. Mario menunjukkan tata cara shalat dan berdoa secara umum kepadaku, dan hanya itulah yang aku tahu soal agama. Uniknya, Mario juga tidak melarang Oma untuk berdoa sesuai keyakinannya. Selain beragama Katolik, Oma juga memiliki keyakinan kejawen dan kemampuan supranatural. Entah bagaimana, Oma bisa mengatur cuaca di sekitar rumah ini. Aku juga sempat melihat, selain berdoa menggunakan Rosario, Oma juga memiliki sebuah buku berisi mantra yang rutin dibaca tiap petang. Ilmunya hanya digunakan untuk membantu kehidupan sehari hari seperti menjemur pakaian dan hari hari penting seperti acara keluarga. Oleh karena itu, hampir tidak pernah kami sekeluarga menemui hal hal mistis di rumah kami. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Meskipun kami cukup merasa nyaman tinggal di rumah Mario dan Mami, aku rasa tidak pantas untuk berlama lama tinggal disini. Selain aku sekarang sudah menjadi kepala keluarga, jumlah anggota keluarga kami akan terus bertambah. Maka, aku bertekad untuk bisa memiliki rumah sendiri. Jelek dan sederhana tidak masalah, itu bisa dibangun seiring waktu. Yang penting, keluarga kami bisa hidup mandiri. Setelah beberapa waktu mencari tempat yang cocok, akhirnya aku bisa menemukan lahan seluas 300 meter persegi di Jalan Mawar, Patokan, Situbondo. Penjualnya meminta harga delapan ribu rupiah untuk tanah tersebut, sementara tabunganku ada enam ribu perak. Tabunganku pun tidak mungkin kuhabiskan untuk membeli tanahnya saja. Akhirnya, aku menjual sepeda onthelku seharga dua ribu rupiah, untuk membayar kepada pemilik tanah sebesar enam ribu perak. Sementara sisa dua ribu peraknya akan dicicil beberapa bulan ke depan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Bisa dibayangkan, gajiku sebagai pegawai bank biasa waktu itu bisa membeli tanah seluas 300 meter persegi dengan hanya waktu delapan bulan, luar biasa bukan? Sekarang, tanah disini mungkin dihargai 1 juta rupiah per meternya dan jika dibandingkan dengan gaji pegawai bank biasa, butuh waktu berpuluh puluh bulan lamanya untuk membeli tanah ini. Bisa dibilang, aku beruntung bisa hidup di waktu waktu seperti ini. Perang dunia telah usai, penjajah telah pergi, lulusan SLTP bisa bekerja sebagai pegawai bank, dan populasi manusia belum terlalu banyak. Kalaupun kehidupan kami terlihat sangat sederhana, itu bukan karena kami tidak mampu membeli barang, tapi karena barangnya belum tersedia di sini. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Rumah pertama kami terbuat dari anyaman bambu, biasa disebut </span><i><span style="font-weight: 400;">gedhek. </span></i><span style="font-weight: 400;">Alasnya pun tidak menggunakan lantai, melainkan tanah. Kamar mandi dan toiletnya dibuat terpisah di halaman belakang. Karena sebagian tanahnya dilewati selokan, di sini disebut dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">sok sok</span></i><span style="font-weight: 400;">, kamar mandinya pun kami alirkan ke aliran selokan tersebut. Kami membangun rumah di Jalan Mawar ini sedikit demi sedikit. Untuk sekarang, dengan Fatimah, Evelyn, dan Aku, rasanya ini sudah sangat cukup. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Anak kedua kami laki laki, bernama Fabian (lahir tahun 1965) dan anak ketiga kami perempuan bernama Deetje (lahir tahun 1968). Ketiga anak kami memiliki karakter yang sangat berbeda. Evelyn adalah anak yang rajin, cerdas, tangkas, ulet dan pemberani. Fabian adalah anak yang agak pendiam, keras kepala, pemberani, dan juga cerdas. Sementara itu, anak terakhir kami, Deetje, adalah anak yang cengeng, penakut, gemuk dan suka makan. Dibandingkan dengan saudaranya, Deetje adalah anak yang paling tidak menonjol secara akademik. Tetapi dia sangat penurut kepada orang tua. Dia tidak pernah sekalipun menjawab ketika sedang dimarahi orang tuanya. Aku juga masih ingat, dia sangat suka jajan bakso yang lewat di depan rumah. Waktu itu, harga satu mangkoknya 25 rupiah. Waktu aku pulang dari kantor, sekitar jam 3 sore, dan langsung Shalat Ashar, Deetje akan menungguku berada di posisi sujud dan merogoh uang di sakuku. Dengan tertawa bangga, dia akan langsung lari ke depan rumah dan pergi membeli semangkok bakso. </span></p>
<p> </p>
<p><span style="font-weight: 400;">***</span></p>
<p> </p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Di jaman itu, gula masih menjadi komoditas yang sangat menggiurkan bagi banyak orang. Jika kamu adalah pegawai golongan satu pabrik gula, hidupmu bisa dipastikan sangatlah berkecukupan. Rumah dinas, air, listrik, dan kebutuhan pokokmu ditanggung sepenuhnya oleh pabrik gula. Gaji pegawai pabrik gula tidak banyak berbeda dibandingkan pegawai bank seperti aku. Tapi aku harus memikirkan sendiri biaya utilitas dan operasional rumah yang kadang jumlahnya bisa sangat signifikan. Untungnya juga, aku sudah bisa membeli tanah sendiri hasil menabung dari pekerjaanku sebelumnya. Apabila tidak, aku harus sangat irit pengeluaranku untuk menabung rumah, atau sewa indekos. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Pada jaman itu juga, gaji karyawan dibagikan dalam bentuk amplop beserta slipnya. Momen awal bulan menjadi momen yang sangat dinanti nantikan semua karyawan. Kami semua akan mengantre di depan loket pembagian gaji sambil berbagi cerita bersama karyawan lain. Karena dibagikan dalam amplop, aku juga memiliki metode tersendiri dalam mengatur keuangan. Banyak yang bilang, ini karena aku keturunan belanda, jadi aku bisa mengaturnya dengan sangat rapi. Tidak banyak yang bisa mengatur keuangan sepertiku. Setiap tanggal gajian dan uang masuk, aku akan menyiapkan tiga buah amplop. Amplop pertama adalah belanja bulanan rumah yang di dalamnya aku sisipkan empat buah kertas lagi untuk membagi uangnya ke dalam empat minggu. Uang ini akan digunakan Fatimah untuk belanja bahan makanan di pasar dan keperluan rumah lainnya. Amplop kedua adalah untuk uang sekolah anak anak. Anak anakku ada tiga, dan jika aku tidak hati hati dalam mengatur keuangan, maka aku akan celaka. Amplop ketiga adalah untukku sendiri, yakni untuk keperluan sehari hari bekerja seperti beli bensin, ganti oli rutin, parkir, makan di luar bersama teman, dan lain lain. Sisa dari tiga amplop ini kalau tidak salah ada sekitar 20-30%, yang Fatimah dan aku simpan untuk ditabung dan keperluan darurat. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Fatimah dulunya juga bekerja sebagai guru olahraga dengan gaji 200 perak sebulan. Melihat perkembangan ketiga anak kami yang makin butuh perhatian dan waktu, sementara itu gaji Fatimah kurang memberikan nilai tukar yang sepadan, aku memintanya untuk berhenti bekerja dan mengurusi anak. Fatimah mengiyakan dan menurutiku. Memang, tidak mudah menjadi guru di waktu itu. Gajinya sangat minim sementara pekerjaannya memakan waktu yang hampir sama dengan karyawan perusahaan. Kendati demikian, Fatimah memainkan perannya menjadi seorang ibu dengan sangat luar biasa. Di meja makan kami, tidak pernah sekalipun makanan luput dari daging. Setiap pagi, Fatimah selalu bangun pukul empat subuh, melaksanakan Shalat Tahajud, mengaji sambil menunggu azan, lalu Shalat Subuh. Setelah itu, Fatimah akan mengecek bahan makanan ke dalam dapur dan mulai memasak. Apabila bahan makanan hari itu habis, Fatimah akan berangkat ke pasar menggunakan becak. Seusai memasak, Fatimah akan membangunkan kami semua dan mandi pagi. Satu hal yang membuatku salut kepada Fatimah, tak pernah sekalipun aku melihatnya sarapan pagi bersamaku dan anak anak jika belum mandi. Fatimah sangat rapi dan bersih. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Seusai sarapan pagi, aku pergi berangkat kerja, sementara Fatimah akan mengantar anak anak pergi ke sekolah. Ada satu kejadian lucu tentang ini yang aku tidak bisa lupa. Anak pertama dan keduaku punya karakter yang sangat pemberani dan jarang menangis. Sehingga, waktu mereka masuk SD, Fatimah dan aku merelakan mereka untuk sekolah di tengah kota yang posisinya agak jauh dari rumahku karena memang itu sekolah favorit. Sementara Deetje, ooh Deetje… Dia sangat berbeda dari kakak kakaknya. Deetje sangat cengeng dan penakut. Sampai sampai, kami sendiri khawatir tentangnya. Akhirnya, saat waktunya Deetje masuk SD, kami memasukkan Deetje ke SD yang ada di dekat rumah. Kepala sekolahnya waktu itu adalah tetangga rumah yang berhadapan dengan rumah kami sehingga kami menitipkan Deetje kepada beliau. Dan benar saja, Deetje selalu meminta Fatimah mengantarnya ke gerbang sekolah setiap pagi, kalau tidak dia akan menangis sejadi-jadinya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Aku cukup bersyukur bisa bekerja kerah putih, dimana mayoritas orang di desa, terutama di Kabupaten Situbondo, masih bekerja kerah biru sebagai petani, tukang, pedagang, maupun buruh harian. Saat itu juga, beban kerja masih belum terlalu berat. Aku ingat betul, masuk kerja jam 8 pagi, dan pekerjaan sudah selesai jam 1 siang. Hal ini masih berlangsung hingga kira kira tahun 80an. Aku rasa, salah satu beban terberat generasi muda adalah panjangnya jam kerja yang harus mereka hadapi di satu tempat saja, dengan gaji yang seadanya. Mungkin pada zaman dahulu gajinya tidak seberapa, tapi Aku masih bisa bekerja di tempat lain setelah pulang dari pekerjaan utamaku. Dan memang, Aku mencari pekerjaan tambahan setelah pulang dari bekerja di Bank. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Koh Ah Cong, itulah nama orang, pedagang keturunan Tiongkok, tempat Aku bekerja mencari tambahan untuk keluarga kecilku. Harus kuakui, untuk urusan perdagangan, mereka sangat pandai. Sejak dahulu kala, mereka sudah tahu bahwa </span><i><span style="font-weight: 400;">driving force </span></i><span style="font-weight: 400;">orang untuk berbelanja atau mengeluarkan uang bukanlah hal objektif dan masuk akal, tetapi justru emosi manusia lah yang menjadi faktor utamanya. Waktu itu, karena ada sekitar 6 pabrik gula yang masih aktif beroperasi, pabrik pabrik ini memiliki skema perputaran bisnis atau barang yang yang cukup besar. Pabrik gula biasanya memiliki kontrak dengan para petani atau pemilik lahan tebu, biasanya dalam bentuk luasan dan pada akhirnya nanti akan dikonversi jadi sejumlah kilogram atau kwintal tebu. Kemudian, tebu ini akan diproses dalam pabrik, sehingga menghasilkan gula. Jangan bayangkan gula yang dihasilkan ini putih bersih seperti saat ini. Gula pada waktu itu warnanya masih merah dan ada sedikit rasa pahitnya dari proses yang masih cukup sederhana. Kemudian, Pabrik Gula akan menerbitkan </span><i><span style="font-weight: 400;">delivery order </span></i><span style="font-weight: 400;">(DO) yang kemudian didistribusikan ke desa desa (kembali ke petani yang punya lahan tersebut) melalui kecamatan, kelurahan, atau kepala desa. Dari distribusi ini, DO dijual secara bebas, mirip seperti lelang. Saat mulai dibuka, harga satu kartu DO biasanya sekitar 175 rupiah. Mulailah terjadi tawar menawar antara petani dan pemilik toko toko distribusi gula seperti Koh Ah Cong. Petani disini juga tak kalah cerdik. Mereka suka mengaku-aku kartunya sudah ditawar orang lain dengan harga lebih tinggi, supaya dibelinya nanti lebih tinggi lagi. Saat terjadi transaksi dan di akhir lelang, harga akan bertahan di 176 - 177 rupiah, sedikit lebih tinggi daripada harga dibuka</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Disinilah kecerdasan Koh Ah Cong mulai bermain. “Bom saja No! Beli satu DO dengan harga 180! Lalu kita pulang atau makan sate di pinggir jalan dekat rumah saya”, perintah Koh Ah Cong kepadaku.  Lalu, Aku belikanlah satu DO dengan harga jauh diatas pasar yakni 180. Satu petani ini cukup beruntung, karena mungkin satu DO terbeli dengan harga mahal, sementara sisanya mungkin terjual dengan harga pasar. Saat membeli, aku pastikan transaksinya dengan orang yang berbeda beda (di setiap momen lelang), jauh dari keramaian, dan bukan petani yang punya lahan besar atau punya kartu DO banyak. Setelah terbeli, kami lalu pulang ke rumah masing masing atau sengaja membeli sate dulu di pinggir jalan. Tak sampai satu jam, dari mulut ke mulut, pasti petani petani lain mengejar kami keluar pasar lelang. Saat sudah di rumah kami, harga itu kami turunkan ke harga terbuka di 175 rupiah. “Pak Herman, tadi betul yang beli DO Pak Somad 180 rupiah?”, salah satu petani di rombongan itu bertanya di depan rumah. “Oiya Pak, betul…. Tapi sekarang saya sudah tidak pegang uang. Saya sekarang bisanya ya di harga awal 175 rupiah satunya”, Aku menjawab dengan alasan sekenanya, padahal memang inilah strategi kami. Para petani itu yang sudah kehilangan waktu dan tenaga kebanyakan tidak akan pergi melepaskan penawaran harga kami. Mungkin ada beberapa yang kembali ke pasar lelang, mencari peruntungan lain. Tapi tempat itu pasti sudah sangat sepi, dan orang orang luar yang menawar akan berada di harga 174 atau 173 rupiah per DO. Jadilah kami panen membeli DO di harga awal 175 rupiah. Tentunya, strategi ini tidak bisa dijalankan terus menerus. Koh Ah Cong adalah orang cerdas yang sangat tahu psikologi manusia dan pasar. Strategi yang paling manjur adalah dengan Bom harga dan kami tinggal ke warung sate. Petani petani yang mencari kami untuk menjual kartu DO nya seringkali tidak bisa menahan nikmatnya bau sate yang dibakar dan dimakan oleh kami. Melihat pemandangan itu, mereka segera ingin mendapatkan uang untuk membeli makanan juga. Seingatku, ada lebih banyak orang yang menjual DO nya kepada kami ketimbang kembali lagi ke pasar lelang. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pekerjaanku hanya sebatas membantu Koh Ah Cong mengantri di pasar lelang dan memegang kupon atau kartu DO ini. Selanjutnya, Koh Ah Cong akan menukarkan kartu DO ini ke pabrik pabrik gula. Setelah itu, Koh Ah Cong harus mengurusi tokonya yang tidak hanya menjual gula, tapi juga beras, jagung, dan beberapa kebutuhan primer lainnya. Dengan kata lain, pikiran Koh Ah Cong harus panjang sehingga barang barang di tokonya bisa laku dan tidak macet.  Kaum Tionghoa memang dikenal sangat ulet dan pekerja keras. Dari terbangunnya mereka di pagi hari, hingga sebelum tidur, Koh Ah Cong selalu memikirkan tentang neraca keuangan usahanya. Koh Ah Cong bukan seorang saudagar, tidak. Justru, masih jauh disebut mapan. Hanya saja, ketekunannya dan juga strategi dagangnya akan menjadikan dia orang yang sangat berada di masa depan, aku percaya itu. Tidak hanya pandai dalam berhitung dan merencanakan keuangan, Acong paham betul bahwa perdagangan itu tidak didasari oleh logika, melainkan faktor psikologis. Bisnis apapun di dunia ini, transaksinya adalah orang ke orang (</span><i><span style="font-weight: 400;">person to person</span></i><span style="font-weight: 400;">), sehingga untuk berhasil dalam bisnis apapun, kita harus memahami manusianya dahulu, bukan barangnya. Aku suka bekerja dengan Koh Ah Cong. Selain karena dia pekerja keras, dia juga adalah seorang yang sangat pintar. Akan kuingat pelajaran hidup ini selamanya, bahwa berbisnis itu adalah tentang manusia, bukan barangnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">***</span></p>
<p> </p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ada kalanya juga pekerjaanku di bank menjadi sangat menuntut. Aku masih ingat, di tahun 70-an, dimana BKTN masih ekspansi di desa-desa pedalaman di Situbondo, aku ditugaskan ke Desa Wonorejo, Baluran. Desa ini terletak di ujung Kabupaten Situbondo dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Banyuwangi. Jaraknya sekitar 90 km dari pusat Kota Situbondo dan perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam menggunakan motor. Apakah kalian tahu, di Baluran ada apa? Ya, waktu itu Harimau Jawa masih belum punah dari Pulau Jawa. Di musim kemarau, terutama, Harimau Jawa sangat sering terlihat keluar dari hutan dan masuk ke pemukiman warga. Menurut cerita warga, harimau harimau itu sebenarnya tidak dengan sengaja berburu dan memangsa manusia, melainkan hanya mencari sumber air yang letaknya ada di sekitar Waduk Badjulmati. Warga biasanya menyiapkan wadah air di malam hari, di luar pemukiman, agar harimau harimau tadi bisa minum dan langsung bergegas kembali ke hutan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Satu peristiwa yang seumur hidup aku tidak akan pernah lupakan, waktu itu aku pulang dari Desa Wonorejo setelah Shalat Isya’, sekitar pukul 7 malam. Di tengah perjalanan yang saat ini menjadi Jalur Pantura, aku melihat ada sekitar tiga hingga lima ekor harimau di depanku. Ajaib bukan? Aku tidak masuk ke Taman Nasional Baluran, melainkan di jalur utama Pantura. Untungnya, aku ditemani oleh mantri (polisi) setiap kali hendak melalui jalur ini. Kata bapak mantri, kita harus berhenti sekitar 300 hingga 500 meter dari kawanan harimau tersebut dan menunggu kendaraan bermuatan berat seperti truk datang lewat. Tidak seperti sekarang, dimana kita bisa menjumpai truk dengan sangat mudahnya. Waktu itu, jalan ini masih sangat sepi dan kami harus menunggu lumayan lama, sekitar satu jam. Anehnya, saat truk akhirnya datang, harimau harimau tadi tidak langsung pergi. Mereka dengan santainya tidur tiduran di Jalur Pantura ini sekitar 2 hingga 3 jam lamanya. Aku pun terpaksa menunggu harimau harimau tadi menyingkir dari jalan raya. Pernah ada pengalaman orang yang nekat menerobos kawanan harimau ini ditemukan tewas tercabik cabik hingga tidak bisa dikenali wajahnya. Kata orang sekarang, aku termasuk sangat beruntung bisa menyaksikan Harimau Jawa dengan mata kepala sendiri, terlebih untuk waktu yang sangat lama. Tapi bagiku, itu adalah salah satu pengalaman paling menakutkan dalam hidupku. Setelah harimau pergi sekitar jam 10 atau 11 malam, barulah kami berani melanjutkan perjalanan pulang ke Situbondo. Sayang seribu sayang, Harimau Jawa dinyatakan punah sekitar tahun 90-an. Setahuku, hanya spesies macan tutul dan panther (macan kumbang hitam) yang tersisa di Baluran, meskipun keberadaannya juga sangat langka. Mungkin, yang membuat mereka bisa bertahan adalah kebiasaannya menyeret mangsa dan menyantapnya di atas pohon. Sedangkan harimau, cenderung lebih banyak berada di tanah. Kabarnya, kedua kucing besar ini tidak bisa berbagi - mereka sangat teritorial. Harimau, hampir selalu memenangkan pertarungan antara keduanya karena badannya yang lebih besar. Tak disangka, kelebihan inilah yang malah membuat harimau di Pulau Jawa punah. Mereka dulunya banyak ditemukan di hutan hutan Jember dan Banyuwangi seperti Meru Betiri dan Alas Purwo. </span></p>
<p> </p>
<p><span style="font-weight: 400;">***</span></p>
<p> </p>
<p><span style="font-weight: 400;">Indonesia adalah negara agraris. Terlebih di Pulau Jawa, dimana masih ada banyak gunung aktif yang sewaktu waktu bisa meledak dan meluapkan isi perut bumi yang sangat kaya akan nutrisi. Begitulah kata orang, semua peradaban maju di dunia pasti diawali dengan adanya sumber mata air yang melimpah dan tanah subur dimana nutrisinya datang tak lain dari letusan gunung berapi di sekitarnya. Di daerah Situbondo, Jember, dan Banyuwangi, ada banyak sekali komoditas yang bisa dimanfaatkan seperti tebu, kopi, teh, cokelat, karet, padi, dan lainnya. Saat masih berstatus Hindia Belanda, mayoritas dari hasil alam tersebut akan dikirim (ekspor) ke Benua Eropa. Penduduk asli atau </span><i><span style="font-weight: 400;">Inlander </span></i><span style="font-weight: 400;">kebanyakan hanya bisa menjadi penonton dan pekerja di kebun kebun milik orang asing. Tapi sekarang, setelah merdeka, Rakyat Indonesia bisa bercocok tanam, merawat, memanen dan menikmati hasil bumi itu sendiri. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam prosesnya, bank hadir sebagai pemberi modal kepada petani yang membutuhkan tambahan dana untuk bibit, pupuk, atau menyewa lahan. Dari uang pinjaman yang diberikan oleh bank, petani akan mengembalikan uangnya di waktu yang sudah ditentukan, plus hasil tani yang Ia panen nanti. Kalau saat ini kebanyakan bank sudah memakai sistem bunga yang berarti si petani akan mengembalikan uang dalam jumlah lebih besar dari yang dipinjam, waktu itu petani diperbolehkan untuk mengembalikan modalnya menggunakan hasil bumi, karena jumlah uang yang beredar masih belum terlalu banyak. Dan dengan cara seperti inilah bank di daerah pedesaan mengambil keuntungan dan berkembang. Kami bekerja sama dengan para petani untuk menyediakan pangan yang cukup bagi masyarakat Indonesia. Aku yakin, sampai sekarang model bisnis perbankan tidak banyak berubah dibandingkan dengan waktu itu, hanya saja, peminjam modal sekarang semakin beragam aktivitas bisnisnya. Mulai dari pengembang properti, usaha makanan, transportasi, dan lainnya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Bisa dibilang, aku cukup bahagia dengan pekerjaan dan kehidupanku di Situbondo. Pekerjaan sebagai pegawai bank ini cocok dengan karakterku yang sangat rapi, disiplin, dan tertata. Sempat teringat di benakku, Heerlen, kakakku yang paling tua. Hal terakhir yang aku tahu, Ia bersama suaminya pergi ke Belanda mengikuti program repatriasi. Aku tak menyebutnya sebagai “pulang”, karena memang Heerlen ini lahirnya di Kalisetail, Jawa Timur. Program repatriasi yang bermakna “pulang”, tidak benar benar dirasa pulang oleh Heerlen. Dia sebenarnya lebih memilih untuk tinggal di Indonesia. Akan tetapi, karena Indonesia sedang menghadapi masa masa sulit waktu itu, ditambah tidak adanya banyak pilihan pekerjaan bagi kaum wanita, Heerlen terpaksa ikut suaminya ke Belanda bersama kedua anaknya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sampai aku menikah, aku merasa hanya ada tiga orang yang mengasihiku dengan sepenuh hati, yakni Oma, Mami, dan Heerlen. Aku merindukan Heerlen, karena Ia sempat menjadi pelipur laraku. Ia tidak pernah menganggapku berbeda dari anak yang lain, meskipun kenyataannya memang demikian. Sayangnya, aku tidak tahu kabarnya seperti apa, karena pada waktu itu belum ada ponsel, lebih lebih internet. Di sisi lain, aku sangat bersyukur karena saat ini aku diberikan anugerah hidup bersama Fatimah dan ketiga anakku. Aku bisa mencukupi mereka, memberi mereka tempat tinggal, bahan makanan, dan sekolah yang layak. Rasanya, ini semua lebih dari cukup. </span></p>
<h2>6. Surat kabar Tong Tong</h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Dahulu, ada semacam surat kabar atau koran yang dipajang di kota (seperti koran yang ditempel di kelurahan atau kecamatan saat ini) bernama Tong Tong. Disini, orang bisa saling berkirim kabar, seperti post Facebook tapi dengan cara manual. Semua orang bisa melihat surat yang ditulis dan menghubungi penulisnya karena alamat sang penulis akan ditulis di halamannya, mirip seperti iklan. Suatu pagi, Pak Slamet, salah satu tetanggaku di Jalan Mawar berlari tergesa gesa ke rumah dan berteriak, “Pak Herman! Pak Herman! Bapak harus lihat ini Pak!”. Aku yang sedang duduk santai sambil menikmati secangkir kopi mendadak kaget melihat Pak Slamet. “Ya, ada apa Pak Slamet? Bapak dari mana?”, sahutku bertanya kepadanya. Dia langsung masuk pagar dan sambil terengah engah, dia berkata, “Pak Herman, ayo ikut saya! Ada yang harus Pak Herman lihat di alun-alun kota”. Ternyata Pak Slamet dari alun alun Kota Situbondo, tapi aku masih tidak tahu apa yang mau diperlihatkannya kepadaku. “Sebentar dulu Pak, ada apa? Tolong jelaskan”, jawabku. “Pak, Ibu Pak Herman namanya Ana Maria kan? Dan Pak Herman punya saudara di Belanda sana? Sudah, ayo ikut saya ke alun alun”, sahutnya dengan nada Bahasa Madura yang umum di sini. Tiba tiba jantungku berdebar, “mungkinkah itu…?”.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Tanpa banyak bertanya, aku berangkat ke alun-alun bersama Pak Slamet dengan becak. “Loh, Pak Slamet naik apa tadi ke rumah saya?”, tanyaku penasaran karena dia terlihat sangat kelelahan dan berkeringat. “Ya lari Pak, hehe”, jawabnya dengan singkat. Jarak rumahku dengan alun-alun memang tidak terlalu jauh, tapi kalau harus jalan kaki ya pasti lumayan berat juga. Mungkin Pak Slamet ini sudah panik ingin segera memberi kabar kepada saya, jadi Ia langsung berlari tanpa banyak berpikir. Sesampainya di alun-alun, Pak Slamet langsung menunjukkan surat di Koran Tong Tong yang dipajang di sana.</span></p>
<p> </p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><i><span style="font-weight: 400;">“Naar Ana Maria, Herman Baptis,</span></i></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Ik zoek waar je bent. Bel me alsjeblieft terug als je deze krant ziet. Mijn adres is Columbusstraat 4 Heerlen, Nederland.</span></i></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Dank je</span></i></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Heerlen”</span></i></p>
<p> </p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Tidak sulit untuk mengetahui kalau isi surat ini ditujukan kepadaku. Hanya ada satu orang bernama Herman, yang punya Ibu dan kerabat Orang Indo di seluruh Situbondo. Sehingga, Pak Slamet langsung tahu kalau surat ini memang ditujukan kepadaku. Seketika aku langsung lemas membacanya di depan semua orang. Aku tidak bisa berkata kata lagi, itu benar dari Heerlen, kakakku yang paling tua. Ia ternyata masih ingat keberadaan Mami dan Aku di Indonesia. Langsung saja aku catat alamat Heerlen di Belanda sana. Aku akan mengirimnya surat dan alamatku di Situbondo. Sebelumnya, Mami dan Aku tinggal di Pandji dan Oolean, di rumah dinas orang tua Mami. Tetapi, sekarang Mami tinggal bersama Mario di Dawuhan dan Aku tinggal di Jalan Mawar, Patokan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Setelah mendengar kabar itu, Mami terlihat biasa saja, seperti tidak ada yang spesial. Aku tahu, pada saat Mami pertama kali melihat surat dari Heerlen Ia terlihat tersenyum dan bahagia. Tetapi setelah itu, Mami terlihat seperti tidak ada apa-apa. Kami sepakat, akan membalas surat dari Heerlen secepatnya sehingga dia bisa segera mendengar kabar dari kami. Kendati demikian, rasanya sulit sekali mengajak Mami untuk mencurahkan isi hatinya dalam surat yang akan kukirim kembali ke Heerlen. Setiap kali Aku berkunjung ke rumah Mami, Mami seolah sibuk dengan pekerjaan rumah dan tidak terlalu memperdulikan kepentingan ini. Saat itu, aku tidak bisa menebak apa pun, mungkin Mami hanya sibuk saja. Akhirnya, kami mengirim surat ke alamat yang sudah diberikan Heerlen di Belanda dengan isi seadanya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kami mengatakan, kondisi di Indonesia tidaklah mudah, semua orang harus bekerja keras selepas kemerdekaan. Negara yang baru lahir ini harus berjuang setelah kota-kotanya menjadi medan peperangan kemerdekaan. Meskipun barang-barang langka, makanan kadang mahal, kami sedikit beruntung karena Nono sudah bekerja di Bank, dan Mario (suami Mami sekarang) adalah seorang veteran yang cukup berpengaruh di lingkungannya. Nono sudah menikah dengan Fatimah, perempuan asal Bondowoso, keturunan Madura, tetapi tinggalnya tidak jauh dari Mami di Situbondo. Kira-kira, itulah isi pesan pertamaku kepada Heerlen di Belanda. Aku tidak bisa bilang bahwa kami bisa pergi mengunjungi mereka di Belanda, karena kondisi ekonomi masyarakat Indonesia memang sangat jauh dari kata makmur saat itu. Tapi aku berharap, Heerlen bisa mengunjungi Indonesia suatu waktu, karena aku tahu suaminya juga adalah seorang Indo keturunan Solo. Pasti Ia merindukan Indonesia suatu saat nanti. Rasa rasanya, tak layak pemerintah mengatakan mereka mengikuti program repatriasi. Mereka lahir di Indonesia, tumbuh dan besar di Tanah Jawa, memakan segala macam hasil bumi di Indonesia. Kalau boleh bilang, Indonesia-lah tanah air mereka. Mereka tidak pulang ke Belanda. Mereka justru pergi ke Belanda, meninggalkan Nusantara yang sudah berbaik hati memberi kehidupan kepada semua orang yang pernah hidup di dalamnya. Maka Aku yakin, Heerlen pasti akan kembali ke Indonesia, meskipun hanya untuk berkunjung. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Tak lama setelah suratku terkirim ke Belanda, Aku mendapat surat balasan dari Heerlen. Heerlen sangat senang kami membalas surat kabar Tong Tong itu. Heerlen membalas suratku dengan sangat antusias, Ia mengirimkan surat satu lembar penuh. Ia bercerita banyak. Heerlen berjanji, dalam waktu dekat akan berkunjung ke Indonesia, terutama saat kondisi sudah semakin stabil. Ia juga bercerita, kalau Olive tinggal dekat dengannya dan akan berkunjung ke Indonesia juga. Selain itu, Heerlen prihatin mendengar kabar dari Indonesia yang masih kurang stabil dan juga sedang berjuang untuk keluar dari kondisi ekonomi yang susah. Heerlen berjanji mengirimkan uang bulanan untuk Mami dalam bentuk Gulden, sehingga Aku harus menukarkannya dengan Rupiah di Indonesia. Sungguh, Heerlen adalah orang yang sangat baik. Ia selalu memperhatikan kami, meskipun sekarang kami terpisah ribuan kilometer jauhnya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Setiap bulan sejak hari itu, aku selalu menukarkan Gulden kiriman dari Heerlen ke rupiah dan memberikannya ke Mami. Sayangnya, ongkos penukaran uang pada saat itu sangat mahal. Seingatku, nilai asli mata uang yang dikirimkan oleh Heerlen bisa tinggal setengahnya ketika sudah dikonversikan menjadi Rupiah. Inilah dampak dari negara yang sedang kesusahan. Negara itu akan mencari berbagai macam sumber pemasukan dari berbagai sumber seperti pajak, cukai, impor-ekspor, dan valuta asing seperti penukaran uang seperti ini. Kendati demikian, uang kiriman Heerlen masih lebih dari cukup untuk Mami, karena Mario juga masih menafkahi Mami. Setelah berjalan beberapa bulan, akhirnya datanglah hari itu, hari dimana Heerlen mengumumkan rencana tanggal kedatangannya ke Indonesia. Dalam surat yang dikirimkan oleh Heerlen, Ia meminta untuk dijemput di Bandar Udara Juanda, Surabaya pada tanggal 16 Juli 1970.</span></p>
<p> </p>
<p><span style="font-weight: 400;">***</span></p>
<p> </p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Minggu minggu itu, cuaca sedang tidak baik. Hujan badai terjadi di beberapa kota di Jawa Timur. Hingga tepat seminggu sebelum kedatangan Heerlen ke Indonesia, jalan utama pantai utara (Pantura) di sekitar Kota Kraksaan terjadi longsor. Kabar itu tersebar dengan sangat cepat karena semua kendaraan sekarang dialihkan ke jalur selatan, melewati Jember. Perjalanan Surabaya - Denpasar (juga Situbondo) harus bertambah sekitar lima jam lamanya. Terlebih, jangan dibayangkan jalan itu sama seperti sekarang yang sudah mulus. Jalan dari Pabrik Kertas Leces di Probolinggo ke arah selatan hingga Pabrik Gula Jatiroto di Jember kebanyakan masih belum di aspal dan belum dilebarkan seperti sekarang. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Mario menyewa mobil minibus (dahulu kami menyebutnya mobil kol) yang cukup untuk seluruh anggota keluarga dari Situbondo dan keluarga Heerlen. Heerlen datang ke Indonesia bersama suami dan anaknya, Robert. Robert adalah anak laki laki dari suami kedua Heerlen yang berusia 6 tahun. Pagi pagi buta, kami berangkat dari Situbondo ke Surabaya, agar sampai disana tidak terlalu sore. Seingatku, perjalanan Situbondo - Surabaya waktu itu sangat melelahkan. Sepanjang perjalanan, semua penumpang mengeluhkan jalan yang sangat bergeronjal yang membuat mereka mual dan mulas. Belum lagi karena rutenya yang diputar ke selatan, membuat durasi perjalanan yang normalnya hanya 5 hingga 6 jam, sekarang menjadi 10 jam perjalanan. Tetapi tidak apa, toh kami akan bertemu saudara kami yang sangat kami rindukan, Heerlen. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Sesampainya di Bandar Udara, kami hanya bisa menunggu Heerlen di depan terminal kedatangan berbekal surat dari Heerlen. Kami tidak tahu maskapai apa yang digunakan, tidak tahu juga pesawat itu turun jam berapa. Pokoknya, Heerlen akan datang di hari ini di Bandar Udara Juanda, Surabaya. Kami sempat bertanya kepada penjaga dan petugas bandara. Mereka semua mengkonfirmasi, akan ada pesawat mendarat nanti jam 5 sore dari Jakarta. Tapi apakah pesawat itu yang membawa Heerlen, mereka tidak bisa memastikan. Lucu juga kalau kuingat saat itu. Kami belum mengenal telepon genggam, dan hanya bisa berharap Heerlen benar-benar datang berdasarkan surat yang Ia kirimkan beberapa minggu yang lalu. Sekarang, orang mungkin tidak akan mungkin melakukan perjalanan jauh untuk menjemput anggota keluarga kalau tidak ada konfirmasi sehari sebelumnya. Aku memang hidup di jaman peralihan teknologi yang sangat pesat perkembangannya. Sudah banyak hal yang berubah sejak hari itu hingga saat ini. Sangat berbeda, sehingga ketika kejadian ini kuceritakan kepada cucu-cucuku, semuanya mengernyitkan dahi dan bertanya, “Opa menunggu Oma Heerlen hari itu hanya dari surat? Hanya dari tanggal kedatangan?”. Lucu, mereka tidak akan mengerti bagaimana caranya bersabar menunggu karena teknologi sekarang sudah sangat serba bisa.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Akhirnya, jam menunjukkan pukul 5 sore. Kami menunggu dengan sangat antusias satu persatu orang yang keluar dari terminal kedatangan. Jantungku berdebar-debar berharap wajah Heerlen segera muncul dari pintu kedatangan itu. Tak berselang lama kemudian, aku melihat seorang perempuan tinggi, berambut ikal dengan kulit cerah yang memanggilku dengan sangat keras, “</span><i><span style="font-weight: 400;">Nono! Nono! Hoe gaat het</span></i><span style="font-weight: 400;">?”. Disampingnya, ada seorang anak yang berlari-lari sambil ikut berteriak, “</span><i><span style="font-weight: 400;">Nono! Nono! Wie is Nono, Mama?</span></i><span style="font-weight: 400;">”. Anak itu terlihat sangat aktif, dia berlarian dengan sangat kencang. Anak kecil itu bernama Bari. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Aku cenderung sering membanding-bandingkan segala hal tentang Indonesia dan Belanda. Tentu saja, dengan tendensi untuk meninggikan segala hal tentang Belanda. Tapi hal ini tidak bisa sepenuhnya disalahkan kalau kita hidup di tengah masyarakat yang masih berkembang dan sangat homogen, seperti di Situbondo ini. Ketika Heerlen dan anaknya datang ke rumah kami, mereka bak bangsawan yang disambut oleh rakyatnya. Semua orang berdiri di jalan rumah kami hanya untuk melihat Heerlen yang wajahnya memang sangat totok Belanda. Walaupun memang, mereka pasti tahu seluk beluk keluarga kami dan mengenal bahwa Heerlen ini adalah saudara kandungku, tapi keingintahuan mereka sangat tak terbendung hingga mereka rela berdiri berjam-jam menunggu kedatangan kami. Ketika Bari bermain bersama anak anakku, penduduk desa pun banyak yang mengikutinya, padahal mereka hanya melempar batu di sungai, main petak umpet, atau permainan anak anak pada umumnya. Segala hal ini membuat kami sedikit banyak merasa ‘spesial’ di tengah masyarakat. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Kendati demikian, ada satu hal yang sangat berbeda yang aku amati dari anak anakku dan anak Heerlen, Bari. Sejak matahari terbit, hingga terbenam lagi, Bari seperti tidak pernah kehilangan stamina. Dia kuat berlari kesana kemari sedangkan anakku mungkin sudah cukup lelah. Akhirnya, Bari sering bermain bersama anak dari tetangga atau desa lain yang baru mulai bermain di tengah hari. Tetapi pada waktu malam, Bari cepat sekali tertidur tanpa ada drama. Tubuhnya seperti punya jam biologis yang sangat disiplin dan teratur. Mungkin gizinya di Belanda sana juga terpenuhi dengan sangat baik. Entahlah, kami di negara ini sudah lama mengalami banyak krisis dari era kemerdekaan hingga pergantian kekuasaan, walaupun saat ini sudah jauh lebih baik daripada waktu aku kecil dulu. Bagaimana tidak, kami pun berebut makan dengan ayam dan kuda dengan makan bekatul dan bulgur. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Dalam kunjungan Heerlen ke Indonesia, kami bepergian ke banyak tempat. Salah satu yang paling membekas adalah kunjungan kembali Heerlen ke kota kelahirannya, Kalisetail. Kami pergi bersama Mario, Mami, Heerlen, Bari dan keluargaku. Pada waktu ini, jalur kereta api di Situbondo masih terhubung dengan Jember dan Banyuwangi. Dari Stasiun Kalisetail, kami menuju ke utara dengan transportasi umum setempat, mirip oplet di Jakarta. Terdapat beberapa penginapan, dekat dengan kaki Gunung Raung, dengan taman taman yang luas, hutan pinus, dan pemandangan yang sangat indah. Heerlen pasti sangat menikmati waktu waktu seperti ini. Tempat ini tidak akan terasa asing baginya, karena dia lahir disini. Aku berani bertaruh, dia sebenarnya mau untuk tinggal disini, apabila keadaan memungkinkan. Tapi meskipun sekarang Indonesia sudah relatif lebih aman dan stabil, tak mungkin ada pekerjaan layak yang bisa suaminya ambil disini, lebih lebih Heerlen sendiri. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Sudah banyak kebun kebun yang dinasionalisasi disini, dan sepertinya pengelolaannya pun sangat terbatas. Mau bagaimanapun juga, hasil bumi dan pabrik yang dimiliki oleh Orang Belanda pada jaman dahulu itu harus ekspor produknya untuk mendapatkan nilai tambah yang tinggi dan layak. Setelah Indonesia merdeka, Orang Belanda pergi, kemudian lahan dan perusahaan dinasionalisasikan, prediksiku, mereka kehilangan pasar yang sangat besar di skala internasional. Belum juga kalau kita hitung ada banyak pabrik yang dirusak selama masa perjuangan. Tidak, aku tidak menyalahkan proses perjuangan dan kemerdekaan itu, karena kemerdekaan adalah mutlak harga mati. Aku hanya sedang berpikir, besarnya dampak pergolakan suatu negara, terhadap nasib warganya. Keluargaku terbilang masih cukup bernasib baik. Banyak yang tidak selamat dari proses penjajahan Jepang, repatriasi, maupun masa “bersiap”. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><i><span style="font-weight: 400;">“Nono! Wat doe je daar? Kom, laten we samen eten. Het is al lunchtijd!”, </span></i><span style="font-weight: 400;">suara Heerlen memanggilku yang sedang duduk termenung di depan teras penginapan kami. Tiba tiba bau harum masakan Heerlen dan Mami menyeruak di rumah penginapan yang sederhana ini. </span><i><span style="font-weight: 400;">“Sayur Asem, No, Het is alweer een tijdje geleden dat ik mijn laatste authentieke Sayur Asem heb gemaakt”, </span></i><span style="font-weight: 400;">Heerlen menjelaskan bahwa dia sudah lama kangen makan Sayur Asem di Indonesia. Meskipun kami seolah tidak memiliki banyak, ternyata ada segudang hal yang Heerlen rindukan dari Indonesia. Dari hangatnya iklim tropis disini, buah buahan segar, dan masakan yang kaya akan bumbu dan citarasa. Tapi mungkin untuk beberapa kasus, Heerlen tidak cocok, haha. Seperti Situbondo yang sangat panas dan jarang sekali hujan. Di Jember, Banyuwangi, dan Bandung, kota tempat tinggal Heerlen yang terakhir, mungkin cocok karena curah hujannya yang cukup tinggi dan iklimnya yang tidak terlalu panas. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Anehnya, Mario tidak terlihat sama sekali dari tadi. Mungkin dia sedang berjalan menyusuri hutan pinus yang berdekatan dengan lapangan di depan rumah. Karena sudah sangat lapar, akhirnya Mami dan Heerlen makan duluan. Tiba tiba dengan lirih Heerlen berkata kepada Mami, “Mami, ayo ikut bersama saya ke Belanda. </span><i><span style="font-weight: 400;">Ik weet waar Hij is”. </span></i><span style="font-weight: 400;">Mami lalu menjawab, “</span><i><span style="font-weight: 400;">Hem?</span></i><span style="font-weight: 400;">”. Heerlen dengan sigap membalas, “</span><i><span style="font-weight: 400;">Ja! Luis!”. </span></i><span style="font-weight: 400;">Seketika Mami terdiam. Alat makannya diletakkan dan Ia menangis lirih. Tetapi belum sempat Mami berkata dan mengungkapkan isi hatinya, suara keras pintu yang dibanting dari teras depan mengagetkan kami “Duarr!!”. Mario masuk dengan sangat marah dan berkata kepada semua orang di ruang makan, “</span><i><span style="font-weight: 400;">Luis is dood. Mami blijft bij ons hier in Indonesië”. </span></i><span style="font-weight: 400;">Tak disangka ternyata Mario sudah ada di rumah. Dan mungkin Heerlen lupa bahwa Mario bukanlah Orang Indonesia seperti kebanyakan. Mario adalah orang yang sempat bersekolah di tempat yang berbahasa Belanda. Bahkan kadang, bahasanya lebih fasih dibandingkan dengan Mami. Mario menyambung, sambil mengambil sayur asem yang sudah disiapkan di meja makan, “</span><i><span style="font-weight: 400;">Als hij een man was, zou hij er nog zijn, Ana”, </span></i><span style="font-weight: 400;">yang artinya “kalau dia benar seorang pria, dia akan bersamamu disini Ana”. Aku pikir, ada benarnya juga perkataan Mario. Aku sama sekali tidak tersinggung, meskipun disini aku adalah anak dari Luis. Lihatlah diriku ini, meskipun sudah habis babak belur dan banting tulang, aku tidak lari, aku ada disini untuk anak anakku. Kami pun melanjutkan makan siang, meskipun keadaan menjadi agak sedikit canggung. Mungkin ini alasan Heerlen kemari, aku tak tahu. Mungkin dia hanya ingin Mami pergi bersamanya ke Belanda, dan meninggalkan Indonesia. Mungkin juga, Ia tak tega melihat kehidupan kami yang serba sederhana. Aku tak tahu, apapun alasannya, Heerlen tak pernah membicarakan hal itu lagi dan Mami tetap berada di Indonesia. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Hati manusia, terutama seorang perempuan, bagaikan lautan yang luas dan dalam. Tidak ada yang pernah tahu apa isi hati Mami ketika Heerlen memberitahukan bahwa Luis masih hidup di Belanda. Apakah itu sedih, kecewa, marah, atau masih cinta kah Mami kepada Luis, tidak ada yang pernah tahu. Hanya ada satu hal yang aku tahu, nama Luis tidak pernah ada lagi dalam perbincangan keluarga kami. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">***</span></p>
<p> </p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Kunjungan Heerlen dan Bari tidaklah singkat, mereka berada di Indonesia kurang lebih dua bulan lamanya. Selama sebulan penuh, mereka ada di Jawa Timur. Sedangkan satu bulan sisanya, mereka bertemu dengan Ayah Bari di Solo, lalu melanjutkan perjalanan ke Bandung dan pulang ke Belanda dari Jakarta. Ayah Bari adalah suami kedua Heerlen, seorang Indo-Belanda keturunan Solo yang sekarang bekerja di kantor pos di Amsterdam. Hebatnya, kata Heerlen, dengan gaji seorang pegawai kantor pos biasa di Amsterdam, Ia dapat mengajak keluarganya keluar negeri setiap tahun. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tapi dalam hatiku berkata, ya jelas, Belanda kan negara kecil. Hanya bermodalkan naik kereta api atau bus selama 3 jam saja, mungkin sudah pindah negara. Kalau disini, ya mungkin sama dengan bepergian dari Situbondo ke Surabaya atau ke Banyuwangi. Begitulah kadang aku menghibur diri, di tengah perjuangan kami sebagai warga negara yang baru saja lahir di tahun 1945. Pekerjaan kami tidaklah mudah, kami harus banyak berkorban dan berjuang untuk negara yang baru lahir ini. Tapi tidak apa lah, setidaknya aku tidak harus merasakan kedinginan di tengah musim salju seperti cerita Heerlen. Atau harus berpindah pindah apartemen, karena harga rumah di Belanda sudah sangat tidak tercapai, kata Heerlen. Disini aku punya sebidang tanah yang bisa kutanami berbagai macam tumbuhan, sampai membuat kandang ayam maupun bebek. Aku juga tidak perlu repot repot membuat insulasi maupun pengatur suhu untuk unggasku, karena disini sudah hangat. “Ah! Dibayarpun tak akan mau aku pindah ke Belanda, Heerlen”, aku suka membercandainya. “</span><i><span style="font-weight: 400;">Well, Ja</span></i><span style="font-weight: 400;">, kamu sudah bernasib baik disini Nono. Kamu seorang pegawai bank milik negara. Kamu punya tanah, seorang istri cantik, dan tiga orang anak. Kau tak lagi hidup di rumah orang tuamu, dan sudah bisa membiayai keluargamu sendiri. Kau sudah berkembang sangat baik, Nono. Aku bangga padamu”, Heerlen berkata kepadaku di salah satu perbincangan yang cukup serius. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kunjungan Heerlen terasa sangat singkat, tapi sangat berkesan. Aku tak menyangka surat kabar Tong-tong itu berhasil menghubungkan keluarga kami kembali. Aku jadi teringat, dua momen terakhir aku melihatnya adalah saat dia dijemput oleh polisi dan aku menangis berlari mengejar mobil polisi itu, dan saat Heerlen kembali ke Situbondo setelah menikah dan berusaha mengambilku dari Mario. Entah kenapa, Heerlen selalu punya rasa sayang dan iba melihat diriku ini. Mungkin dia kasihan melihatku yang tidak punya ayah, mungkin saja demikian. </span></p>
<h2>7. Mami berpulang</h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Kehidupan waktu itu relatif lebih sulit dibandingkan saat ini. Jangankan asuransi kesehatan, fasilitas rumah sakit pun sangat sangat jauh dari kata layak, terutama di kota kecil seperti Kota Situbondo. Seingatku, sebelum akhir hayatnya, Mami sempat terjatuh dua kali, dan yang kedua membuatnya buta total dan hanya bisa terbaring dan duduk di kamar. “Seharusnya saya ini </span><i><span style="font-weight: 400;">ndak </span></i><span style="font-weight: 400;">begini hidupnya”, kata Mami beberapa kali berkata lirih kepada kami anak anaknya. Kami semua tahu, Mami memiliki beberapa hektar tanah warisan dari ayahnya yang cukup berada di masa lampau. Sehingga, mungkin untuk sekadar berobat ke dokter harusnya Mami tidak risau lagi soal biaya. Bahkan, sudah cukup umum untuk keluarga kalangan atas dulu untuk punya dokter pribadi yang siap datang kapanpun ke rumah. Tapi, memang, setelah datangnya Jepang dan merdekanya Indonesia, tanah tanah dan kebun luas milik Orang orang Belanda dijarah dan dirampas sehingga banyak yang kehilangan harta bendanya. Seolah tanah tanah itu kembali ke masyarakat, nyatanya juga banyak yang tidak. Aku sendiri lebih sering menyaksikan tanah itu berpindah tangan ke orang orang berseragam yang mengaku membebaskan tanah air dari penjajah. Kalaulah memang pengelolaannya benar dan bertanggung jawab, pastilah warga dan masyarakat itu banyak yang dimakmurkan. Tapi tanpa harus memberikan penilaian pribadi, kurasa semua orang tahu dari jaman Majapahit hingga sekarang, nasib petani sawah dan kebun tidak banyak berubah. Seringkali upah mereka hanya cukup sekadar untuk makan. Ah, tapi sudah lah, cerita itu sering berulang dan tak pernah ada ujungnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Kondisi fisik Mami sebenarnya memang terbatas, tapi tidak ada masalah dengan organ dalamnya, sehingga Mami berusia cukup tua sampai saat Ia meninggal dunia. Mungkin, kalau sakit Mami itu hanya batuk dan pilek biasa, itupun obatnya hanya minyak kayu putih setetes dua tetes dilarutkan kedalam segelas air hangat untuk diminumnya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Suatu malam, di bulan November tahun 2008, Aku mendapat telepon dari saudaraku. Saat itu, kira kira jam 11 malam. Dengan nada sangat sedih dan tangis yang ramai (mungkin ada beberapa orang di telepon itu), saudara saudaraku mengabarkan bahwa Mami telah berpulang. Memang, selama ini Mami tinggal bersama 2 anak terakhirnya dari Mario. Satu anak tinggal seatap dengan Mami, sedangkan yang satunya lagi membangun rumah persis disampingnya. Meskipun Aku berbeda tempat tinggal, rumah Mami hanya berjarak 10 menit naik becak dari rumahku. Sehingga, Aku bisa langsung bergegas datang ke rumah Mami. Aku mengajak Fatimah ke rumah Mami di malam itu. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Dengan sedikit rasa tidak percaya, Mami, Ibu yang telah merawatku dari kecil hingga dewasa, sudah terbaring tanpa nyawa dihadapanku. Mami, yang dimasukkan dalam sel penjara ketika aku masih berusia 2 tahun dan hanya bisa menangis, kini telah tiada. Mami, yang juga sudah bersedia melakukan apapun, termasuk menikah dengan seorang veteran demi menjaga kelangsungan hidupku, kini telah tiada. Mami yang kukenal tidak pernah sakit dan sangat kuat, kini telah pergi meninggalkanku. Dia adalah seorang yang sangat pragmatis tapi tetap cerdas dalam menjalani kehidupan. Dia tahu bahwa sebagai seorang perempuan, kecantikan dirinya (yang mungkin juga karena Ia berkulit putih) adalah salah satu senjatanya dalam melangsungkan kehidupan di dunia. Dalam masa krisis dan perang, semua keputusan sulit harus diambil dan ditelan mentah mentah. Terimakasih Mami, Mami telah mengantarkanku sejauh ini dalam kehidupan. Akan selalu kukenang Mami sepanjang hidupku. </span></p>
            ]]>
        </content>
    </entry>
    <entry>
        <title>Ik Ben Nono (My Name is Nono) - Part 1</title>
        <author>
            <name>Andreas Putera</name>
        </author>
        <link href="https://aputera.com/ik-ben-nono-my-name-is-nono-part-1.html"/>
        <id>https://aputera.com/ik-ben-nono-my-name-is-nono-part-1.html</id>

        <updated>2026-08-26T10:59:28+10:00</updated>
            <summary type="html">
                <![CDATA[
                    Intro Pada abad ke-16, Negeri Belanda tidak punya banyak pilihan untuk menghidupi rakyatnya selain berlayar ke Asia dan mencari rute perdagangan baru, daripada menghadapi konflik dagang di Eropa. Benua Eropa tidak se-maju dan se-berkembang sekarang. Perang, blokade, dan penjarahan kapal di kawasan perdagangan membuat Belanda&hellip;
                ]]>
            </summary>
        <content type="html">
            <![CDATA[
                <h1><strong>Intro</strong></h1>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada abad ke-16, Negeri Belanda tidak punya banyak pilihan untuk menghidupi rakyatnya selain berlayar ke Asia dan mencari rute perdagangan baru, daripada menghadapi konflik dagang di  Eropa. Benua Eropa tidak se-maju dan se-berkembang sekarang. Perang, blokade, dan penjarahan kapal di kawasan perdagangan membuat Belanda kesulitan jika tetap menjalankan bisnis di sana. Benua Amerika sudah terlalu padat oleh kapal kapal Inggris, Spanyol, dan Portugis. Akhirnya, pada tahun 1596, mereka menemukan Indonesia, atau lebih dikenal pada saat itu sebagai Nusantara. Pada saat itu, lada dan rempah-rempah adalah komoditas yang paling dicari di seluruh dunia dan pada awalnya, Maluku sebagai wilayah produsen menjadi tujuan utama para pelaut Belanda. Satu hal yang harus kita akui, Indonesia, meskipun belum disatukan menjadi sebuah negara, adalah wilayah yang sangat kaya akan sumber daya alamnya. Bertahun setelah mengeksploitasi pala, berbagai macam hasil bumi dengan mudahnya ditemukan dan dikembangkan di tanah kita, tak terkecuali tebu sebagai bahan dasar gula. Belanda kemudian menjadi salah satu negara paling kaya di daratan Eropa. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sekitar tahun 1920-1940, industri gula di Hindia Belanda mencapai puncak kejayaannya. Pada waktu itu, gula juga telah menjadi salah satu komoditas terpenting di seluruh dunia. Puncak produksi gula Hindia Belanda terjadi pada tahun 1930 dimana sekitar 3 juta ton gula diproduksi dan sekitar 2,4 juta ton diekspor. Saat itu, kapasitas produksi gula di Hindia Belanda hanya kalah dengan produksi Negara Kuba. Dan karena itu pula, banyak Orang Belanda ditempatkan di pabrik pabrik gula, khususnya Pulau Jawa, untuk menjalankan industri yang ada. Hingga setelah merdeka pun, Pulau Jawa tetap menjadi episenter dari produksi gula di Indonesia. Kekayaan unsur hara yang berasal dari muntahan gunung berapi memang telah menjadi keunikan tersendiri dari Pulau Jawa. Karena itu pula, kakek dan nenek moyangku dikirim dari Daratan Eropa ke Hindia Belanda sebagai tenaga ahli industri. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kendati demikian, aku tidak ingin menceritakan lebih jauh tentang industri gula dari sisi teknis. Mungkin hanya sedikit dan tidak terlalu dalam karena bagaimanapun juga, aku lahir ke dunia dari industri gula yang ada dalam sejarah Negara Indonesia. Aku disini, untuk menceritakan sebuah kisah tentang bagaimana industri ini memainkan peran besar bagi kehidupan seseorang, yakni aku, Nono.</span></p>
<p> </p>
<h1><strong>Tentang asal usulku</strong></h1>
<h2>1. Sebelum Indonesia Merdeka</h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari banyak anggota keluarga orang tuaku, aku hanya tahu nama ibuku, Ana Maria dan saudara laki lakinya, Yakob. Aku memanggil ibuku Mami. Sosok yang sabar, penuh kasih sayang, dan perhatian. Kesabarannya melebihi apapun yang aku ketahui di dunia ini. Mami dulu tinggal di Kota Yogyakarta, tepatnya di daerah Pajangan, Bantul. Dahulu, ada sekitar 19 pabrik gula di Jogja dan ayah Mami bekerja di salah satu pabrik gula yang ada di daerah Pajangan. Terbayang suasana Jogja yang masih begitu asri dan nyaman ketika aku mendengarkan cerita Mami yang harus naik Andong setiap minggu untuk berbelanja di Pasar Beringharjo. Dengan jarak sekitar 15 kilometer, kalau aku hitung, mungkin membutuhkan waktu sekitar 1 jam dari Pajangan dengan naik Andong. Mami juga bercerita, dahulu rumah sakit yang kita kenal sebagai RS Panti Rapih, bernama Rumah Sakit </span><i><span style="font-weight: 400;">Onder de Bogen</span></i><span style="font-weight: 400;"> (di bawah lengkungan) karena bentuk arsitekturnya yang melengkung. Setelah beberapa waktu di Jogja, Ayah dari Mami dipindah tugaskan ke Malang, Jawa Timur dan Mami pun ikut dengannya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Aku adalah orang yang telah hidup di berbagai lintas generasi dan telah melihat bahwa dahulu, terlebih ketika negara kolonial masih ada, kaum perempuan tidak memiliki banyak kuasa atas hidupnya sendiri. Mami dijodohkan ketika masih berusia sangat muda, mungkin 17 tahun atau lebih muda. Dari hasil perkawinan itu, lahir dua saudara perempuanku, Herlina (kami memanggilnya Heerlen) dan Olive. Suami pertama Mami bekerja di angkatan militer Hindia Belanda. Sejauh yang aku tahu, beliau adalah orang yang kasar dan suka memukul orang. Tidak hanya terhadap keluarga, tapi juga kepada para asisten rumah tangga. Mami pun mengakui bahwa pernikahan tersebut sering diwarnai dengan pertengkaran dan Mami tidak bahagia. Satu waktu, salah seorang asisten rumah tangga Mami terluka parah karena suami Mami mengamuk hebat. Ia terpaksa dilarikan ke klinik terdekat untuk segera mendapatkan perawatan. Mungkin saat itu, keluarga juga tidak bisa melindungi apa yang telah dilakukannya, sehingga Ia diadili di pengadilan dan diberikan hukuman pelayanan komunitas selama seminggu. Rasa rasanya, seperti tidak mungkin bukan? Orang kulit putih dihukum secara semestinya, karena melukai seorang pribumi. Seperti ada yang aneh? Sebenarnya, hukum sudah sangat diupayakan untuk ditegakkan dimanapun tempatnya. Bukan apa-apa, tapi tujuannya memang untuk membuat kehidupan lebih teratur. Asisten kami, seorang </span><span style="font-weight: 400;">pribumi dari Jawa Timur</span><span style="font-weight: 400;">, babak belur di tangan orang kulit putih dan tetap mendapatkan perlindungan dan keadilan di fasilitas kesehatan dan di depan hukum. Di sisi lain, Suami Mami harus rela bekerja di proyek penggalian parit selama seminggu penuh, mencangkul dan mengurug tanah layaknya orang lain tanpa dibayar. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hari demi hari berlalu, Mami sebenarnya semakin tidak betah dengan perilaku suaminya. Tapi, apa daya, Mami hanyalah seorang ibu rumah tangga yang tidak memiliki penghasilan tetap. Ayahnya pun tidak lama lagi akan pensiun. Mungkin, justru Mami dinikahkan dini supaya tidak jadi beban finansial orang tuanya, siapa yang tahu? Yang jelas, Mami tidak memiliki banyak pilihan kecuali bertahan dalam pernikahannya untuk bisa bertahan hidup. Tapi tekad Mami akhirnya kalah dengan perlakuan kasar suaminya sendiri. Mami akhirnya berpisah dengan Papi. Di dalam sidang perceraian, Papi memenangkan hak asuh atas anak karena Mami tidak memiliki pekerjaan tetap dan tidak berpenghasilan. Satu hal yang paling membekas dalam benakku adalah saat itu di siang hari, di rumah Ayah Mami, dua orang berseragam polisi menjemput kedua kakakku, Heerlen dan Olive. Aku berlari, berteriak, menangis dan mengejar mereka, “</span><i><span style="font-weight: 400;">Heerlen! Olive! Verlaat me niet!” </span></i><span style="font-weight: 400;">(“Heerlen! Olive! Tetaplah disini!”). Waktu itu, usiaku sudah sekitar 5 tahun dan aku sudah mulai ingat beberapa hal. Aku pun kadang bertanya, kenapa aku tidak ikut dibawa Papi? Kenapa aku harus berpisah dengan kedua saudaraku? Sebuah pertanyaan yang akhirnya akan terjawab perlahan ketika aku sudah dewasa. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Negara Indonesia terbentuk tahun 1945, tapi aku tidak tahu pada tahun berapa aku lahir. Yang aku tahu, aku lahir beberapa tahun sebelum Indonesia merdeka. Pada tahun 1942, Jepang mulai menduduki Hindia Belanda untuk mendapatkan sumber daya alam, terutama minyak sebagai bahan bakar kendaraan perang mereka. Berbeda dengan Belanda yang datang sejak 350 tahun silam, Jepang menduduki Hindia Belanda dengan cepat dan dengan cara yang relatif lebih kasar dan agresif. Jepang juga melakukan propaganda kebencian terhadap kaum kulit putih kepada warga asli Indonesia. Banyak dari orang penting yang merupakan kulit putih maupun keturunan Indo-Belanda menjadi korban kekejaman mereka. Saking takutnya, Mami dan Nenek membakar sertifikat lahirku sehingga sampai saat ini, aku tidak tahu tahun lahirku sendiri. Aku lebih baik dianggap sebagai anak pungut yang tidak jelas garis keturunannya, dibandingkan harus mengalami kekejaman tentara Jepang. Sayangnya, Mami tetap ditawan dan dipenjara oleh tentara Jepang. Aku yang masih bayi kala itu menangis tak henti henti. Selain karena kondisi kamp konsentrasi yang penuh sesak dengan orang, ASI Mami sempat terganggu karena kurang makan. Di sisi lain, beberapa orang bahkan membakar sertifikat tanah mereka karena takut dirampas oleh Jepang. Kedatangan Jepang ke Indonesia pada waktu itu memang mendatangkan banyak masalah kepada orang kecil seperti kami, terlebih keturunan Belanda yang berkulit putih. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika Jepang menyerbu Hindia Belanda, banyak orang kulit putih, baik Belanda totok maupun keturunan Indo-Belanda, merasa bahwa status mereka yang selama ini dianggap superior di tengah masyarakat Hindia Belanda tak akan goyah. Mereka percaya bahwa Jepang akan memperlakukan mereka sebagai kalangan yang istimewa, mirip dengan posisi mereka di bawah pemerintahan kolonial Belanda. Namun, harapan ini segera sirna.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada awal pendudukan, orang-orang Belanda dan Indo-Belanda mengalami ketakutan yang luar biasa. Berita tentang kekejaman Jepang yang brutal di tempat lain di Asia Tenggara, seperti di Tiongkok dan Filipina, membuat banyak orang kulit putih mulai menyadari ancaman yang nyata terhadap keselamatan mereka. Di saat yang sama, Jepang melancarkan kampanye propaganda yang mengklaim mereka datang untuk membebaskan Indonesia dari penjajah Eropa. Ini menciptakan sentimen anti-Belanda yang semakin memperburuk posisi orang-orang kulit putih di tengah masyarakat pribumi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Banyak keluarga Belanda dan Indo-Belanda yang, sebelum invasi, hidup dengan nyaman di rumah-rumah besar dengan layanan dari asisten rumah tangga lokal. Namun, semua kenyamanan ini hilang dalam sekejap mata. Dalam hitungan minggu setelah Jepang menguasai Indonesia, tentara Jepang mulai memaksa orang-orang Belanda, terutama laki-laki dewasa, ke dalam kamp-kamp interniran. Ibu-ibu dan anak-anak Belanda juga tak luput dari penahanan. Mereka ditempatkan di kamp-kamp interniran yang terpisah dari suami dan ayah mereka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kehidupan di kamp interniran merupakan salah satu aspek yang jarang terungkap dalam narasi sejarah resmi. Orang-orang kulit putih yang sebelumnya hidup dalam kemewahan mendadak harus berjuang untuk sekadar bertahan hidup. Kamp-kamp interniran ini sering kali dipadati oleh ribuan orang dalam kondisi yang sangat tidak layak. Banyak orang dewasa yang harus tidur di lantai tanah atau di atas tikar jerami, sementara makanan dan air bersih sangat terbatas.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam kamp-kamp ini, para perempuan Belanda dan Indo-Belanda juga menghadapi pelecehan fisik dan mental dari para penjaga Jepang. Tak jarang para perempuan, baik yang sudah menikah maupun masih muda, menjadi korban kekerasan seksual yang dilakukan oleh tentara Jepang. Kisah ini sering kali tertutupi oleh stigma sosial pada saat itu, serta ketakutan akan pembalasan dari pihak Jepang. Para korban biasanya memilih untuk tetap diam demi melindungi keluarga mereka, atau karena takut akan stigma yang akan mereka terima setelah perang berakhir.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selain kekerasan fisik, salah satu penderitaan paling menyakitkan yang dialami oleh orang-orang Belanda dan Indo-Belanda di kamp interniran adalah kelaparan. Ransum yang diberikan oleh Jepang kepada para tahanan sering kali sangat minim, tidak seimbang dengan kebutuhan kalori mereka yang bekerja paksa atau hidup dalam kondisi kumuh. Beras yang didapatkan pun sering kali berisi kutu atau dicampur dengan jagung tua. Keluarga yang sebelumnya terbiasa makan makanan mewah kini harus berjuang untuk sekadar bertahan hidup dengan makanan yang bahkan tak layak diberikan pada ternak.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dahulu, dan mungkin sampai sekarang, wilayah pedesaan sangat menggantungkan hidup dari hasil bumi. Beberapa yang memiliki ladang tebu, kopi, dan tembakau dapat berbisnis dengan Orang Belanda. Perjanjiannya pun banyak macamnya. Mulai dari sewa lahan, maupun menjual langsung hasil bumi tersebut. Kalau sawah yang ditanami padi, biasanya hasil panennya akan disimpan dalam bentuk gabah karena Orang Belanda tidak terlalu suka nasi. Kecuali keluarga kami, yang notabene sudah memiliki darah campuran. Ketika Jepang datang, hampir semua hasil bumi tersebut mereka rampas dengan seenaknya. Caranya pun sangat tidak persuasif dan cenderung kasar. Di awal masa tanam, mereka akan mengawasi ladang ladang mana saja yang akan diambil. Di masa panen, para Tentara Jepang akan mulai turun ke pedesaan mengambil paksa hasil bumi tersebut. Mana bisa kami menolak? Mereka membawa pistol dan pedang kebanggaan mereka untuk mengancam kami. Mana bisa kami menyembunyikan hasil panen? Sawah dan ladang kami terhampar luas di berbagai tempat. Orang orang hanya bisa berlari ke dalam kampung sebelum peluru peluru yang ditembakkan tak terarah itu benar benar menembus badannya. Satu satunya yang menjadi penghambat mereka hanyalah karena hamparan sawah dan ladang yang terlalu luas untuk mereka eksplorasi sendiri. Sehingga, memang masih ada beberapa lokasi panen yang tidak bisa mereka jangkau, meskipun menggunakan kendaraan. Selebihnya, kami hanya bisa pasrah, berlari dan mencari tempat perlindungan untuk menyelamatkan nyawa. Sebagai salah satu cara perlindungan diri, orang orang kampung dengan sengaja membuat nada </span><i><span style="font-weight: 400;">Kentongan </span></i><span style="font-weight: 400;">yang berbeda untuk mendeteksi kedatangan Tentara Jepang. Lambat laun, semua orang mulai hafal dengan ketukan nada yang berbeda tersebut, sehingga perasaan hati bisa menjadi sedikit lebih lega, meskipun tetap berbahaya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Memang, bisa dipahami bahwa Jepang datang ke Indonesia bukan untuk berdagang tetapi untuk memenuhi kebutuhan perang, terutama minyak. Sehingga, cara persuasif, kondusif, dan pelan pelan mungkin tidak cocok. Terlebih dengan kondisi Jepang yang mulai mengalami banyak kekalahan di berbagai front, pasti tentara mereka frustasi dengan kondisi mereka sendiri. Namun demikian, setidaknya memang Jepang menularkan semangat nasionalisme kepada Bangsa Indonesia. Aku tidak paham banyak tentang sejarah, terlebih politik di dalamnya. Namun, aku sendiri berpendapat bahwa kedatangan Jepang adalah sebuah katalisator dalam perumusan Kemerdekaan Indonesia. Mulai dari digunakannya Bahasa Indonesia di berbagai lembaga formal, hingga dibentuknya Dokuritsu Junbi Cosakai, sebuah badan persiapan kemerdekaan atau BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) pada 1 Maret 1945 sebagai bentuk dari janji Perdana Menteri Jepang Kuniaki Koiso untuk memperkenankan kemerdekaan bagi Indonesia. Walaupun mungkin, Jepang tidak akan melepaskan dan memerdekakan Indonesia semudah itu, paling tidak kedatangan mereka membakar semangat para Pejuang Indonesia. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perang adalah hal yang membingungkan, menurutku. Setidaknya, pasti ada dua sudut pandang yang berbeda dalam setiap pertikaian, lebih lebih perang. Kekalahan satu pihak bisa menjadi sebuah anugerah bagi pihak lain. Hanya saja, nyawa selalu menjadi taruhannya. Tanggal 6 dan 9 Agustus 1945 akan menjadi hari yang selalu diingat oleh setiap Warga Dunia, khususnya Jepang. Dua bom atom diledakkan di Kota Hiroshima dan Nagasaki. Tak banyak yang diketahui tentang Bom Atom kala itu. Dua kota yang dinilai sebagai kota industri penting bagi Jepang, diratakan dengan seisi penduduknya oleh Amerika Serikat dengan Bom Atom. Di Hiroshima, kematian dari dampak langsung bom tersebut adalah sekitar 70.000 orang. Tak disangka, dalam kurun waktu dua hingga empat bulan setelahnya, kematian bertambah menjadi sekitar 90.000 - 146.000 jiwa. Bom tersebut memiliki efek radiasi yang sangat dahsyat, yang mampu merusak sel dalam tubuh manusia, sehingga walaupun tidak terkena ledakan secara langsung dapat mematikan apabila tingkat radiasi yang diterima terlalu tinggi. Dua bom atom tersebut mengubah banyak nasib orang di Dunia, tak terkecuali di Hindia Belanda. Sepertinya kami, yang selama 3,5 tahun belakangan telah dijajah, diperas, dan disiksa oleh Jepang, tidak tahu harus bersikap apa kecuali bergembira karena para penjajah harus segera pergi dari bumi pertiwi. Dari tragedi yang menewaskan ratusan ribu orang dan menyiksa jutaan orang lainnya di Jepang, lahir kegembiraan bagi seluruh warga tanah air di Indonesia. Saat itu, aku masih terlalu kecil untuk merasakan bahagianya merdeka. Tapi aku yakin, orang tuaku termasuk dalam golongan orang orang yang bersuka cita atas kekalahan Jepang di Perang Dunia kedua. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kendati demikian, pendudukan Jepang memunculkan situasi yang sangat kompleks bagi masyarakat pribumi Indonesia. Di satu sisi, Jepang memanfaatkan ketidakpuasan rakyat Indonesia terhadap pemerintahan kolonial Belanda dan membangun propaganda bahwa mereka adalah pembebas Asia dari cengkeraman kolonialisme Barat. Di sisi lain, banyak pribumi yang masih memiliki hubungan baik dengan keluarga-keluarga Indo-Belanda yang telah lama tinggal di Indonesia.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hubungan ini menempatkan sebagian orang pribumi dalam dilema moral. Ada banyak kasus di mana penduduk pribumi diam-diam membantu keluarga Indo-Belanda yang dipenjara atau melarikan diri dari kamp-kamp interniran. Mereka memberikan makanan, air, atau tempat berlindung sementara, meskipun tindakan ini dapat membawa risiko besar bagi mereka sendiri. Sering kali, aksi-aksi kecil ini tidak tercatat dalam sejarah resmi, tetapi mereka menjadi contoh nyata tentang bagaimana kemanusiaan dapat melampaui batas-batas ras dan status sosial.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun, tidak semua penduduk pribumi bersikap demikian. Ada juga yang merasa bahwa penderitaan orang-orang kulit putih adalah pembalasan yang adil atas penindasan kolonial yang dialami oleh bangsa Indonesia selama ratusan tahun. Tidak jarang ada insiden di mana kelompok-kelompok tertentu mengambil keuntungan dari kelemahan orang kulit putih di bawah pendudukan Jepang untuk membalas dendam pribadi atau memanfaatkan situasi demi kepentingan mereka sendiri.</span></p>
<h2>2. Kelahiran Republik Indonesia</h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Nama asliku adalah Herman Baptis, seperti nama kakekku yang asli Jerman. Tapi, aku sering dipanggil Sinyo oleh orang tuaku karena penampakan wajah eropaku yang sangat kuat. Selain itu, aku juga memiliki postur tubuh yang sangat tinggi, sebagaimana Orang Belanda terkenal akan tinggi tubuhnya. Saat dewasa, aku memiliki tinggi badan 192 cm. Di sisi lain, aku terlahir di generasi yang menyaksikan bagaimana negara ini lahir dan lepas dari belenggu penjajah Eropa maupun Jepang. Tapi aku tidak tahu persis berapa umurku saat itu. Maklum, bahkan akta lahir pun aku sendiri tidak punya hingga saat ini. Yang jelas aku ingat, aku sempat masuk Sekolah Dasar (saat itu bernama Europeesche Lagere School atau ELS). ELS menggunakan Bahasa Belanda menjadi bahasa wajib dalam proses belajar mengajarnya. ELS dikenal sebagai Sekolah Rendah Eropa yang diperuntukkan untuk keturunan peranakan Eropa seperti diriku, keturunan timur asing atau pribumi dari tokoh terkemuka. Cara Orang Belanda mengklasifikasikan manusia tergolong feodal. Meskipun murid ELS juga belajar Bahasa Belanda, kami tidak dapat bergaul dengan keturunan murni Belanda karena sekolah kami dibedakan. Meskipun demikian, aku masih ingat murid ELS dididik dengan cara Orang Belanda yang sangat ketat. Kuku tangan yang terlalu panjang akan dihukum sepuluh kali pukulan penggaris. Jangan membayangkan penggaris mika ataupun plastik 30 cm yang banyak digunakan di sekolah sekarang. Penggaris yang dipakai untuk menghukum kami adalah penggaris kayu papan tulis yang berukuran sekitar satu meter. Rambut panjang, dihukum dengan potong rambut di sekolah dan setrap di depan kelas selama seharian. Aturan yang sangat disiplin ini membuat murid ELS pada saat itu sangat teratur dan disiplin. Meskipun kehidupanku berasal dari kampung, aku memiliki setidaknya tata krama yang lebih baik dibandingkan dengan anak seusiaku. Saat Jepang mengambil alih Hindia Belanda, sekolah ini sempat berganti nama menjadi Sekolah Rakjat atau SR. Aku yang ketika itu seharusnya sudah duduk di kelas tiga, harus kembali ke kelas satu lagi hanya karena tidak bisa menggunakan Bahasa Indonesia. Namun demikian, nilai ulangan matematika ku selalu mendapat nilai sempurna karena pelajarannya sudah pernah kulalui. Salah satu adaptasi terberatku pada saat sekolah berganti menjadi Sekolah Rakjat adalah masuknya murid murid baru dari kampung. Anak anak yang sebelumnya tidak pernah merasakan pendidikan, akhirnya bisa masuk ke Sekolah Rakjat. Memang, ini adalah inisiasi yang sangat bagus. Tapi di saat yang sama, ini adalah tragedi tersendiri bagiku dan teman temanku yang sebelumnya pernah bersekolah di ELS. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Sebelumnya, aku sudah menjelaskan bahwa sekolah di ELS sangat ketat dan disiplin. Hal ini membuat anak anaknya sangat tahu dan paham akan tata krama. Sayangnya, hal ini tidak sama dengan kondisi anak anak dari kampung yang belum pernah sekolah. Disini, aku tidak ingin merendahkan kaum tertentu. Aku hanya akan bercerita tentang fakta dan catatan perjalanan hidupku. Saat di ELS, kami selalu membawa bekal makanan ke sekolah. Pukul 10.00, kami istirahat keluar kelas dan biasanya menaruh bekal makanan dan alat tulis kami ke dalam laci meja. Saat kembali ke kelas, kami tidak perlu khawatir dimana barang barang itu berada. Sangat jarang atau bahkan tidak ada dari kami yang akan mengambil dan mencuri barang milik orang lain. Kalaupun ada, hukumannya akan sangat serius dan murid akan terlalu takut untuk membayangkan hidupnya selama sekolah nantinya. Setelah menjadi Sekolah Rakjat, rasanya sekolah ini menjadi sangat tidak terkendali. Beberapa kali alat tulisku dan makan siang ku, bahkan wadah makan siang ku hilang oleh anak anak tidak tahu diuntung itu. Aku pun tidak paham, seolah hal ini menjadi kejadian lumrah bagi semua orang. Lapor ke guru menjadi tidak efektif juga karena yang mencuri beramai-ramai. Sekolah menjadi tempat yang tidak aman setelah anak anak kampung itu menjadi murid disini. Sekarang aku jadi paham, kenapa Orang Belanda memisahkan dan mengklasifikasikan sekolah sekolah menjadi beberapa kasta. Tampaknya, pekerjaan rumah bangsa ini sudah mulai terlihat bahkan sebelum Indonesia merdeka. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Sekolah Rakjat tidak bertahan lama. Setelah Indonesia merdeka, Sekolah Rakjat diganti menjadi Sekolah Dasar pada tahun 1946. Ketika itu, aku masih belum tahu banyak. Salah satu yang aku ketahui adalah kondisi negara baru yang masih tidak kondusif. Selepas Jepang mengakui kekalahannya pada Perang Dunia kedua, Belanda berbondong-bondong datang lagi ke Indonesia dengan pasukannya ke nusantara. Tidak sendirian, mereka datang bersama tentara sekutu. Alasannya cukup sederhana. Salah satu klausul dalam perjanjian perdamaian mengharuskan pihak yang kalah mengembalikan wilayah jajahannya ke pihak sekutu. Belanda yang selama ini berada di pihak sekutu, memang secara perjanjian internasional boleh mengambil kembali wilayah nusantara. Walaupun, sebenarnya Indonesia telah merdeka. Perjuangan para pahlawan pun dimulai sejak Indonesia menyatakan merdeka. Peperangan akan segera muncul di banyak tempat, dan keluargaku, akan harus memilih satu diantara dua pihak: Republik Indonesia atau Hindia Belanda. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Keluargaku sekarang tinggal di Situbondo, Jawa Timur. Ayah Mami ditempatkan di Pabrik Gula Olean, pabrik gula yang dinobatkan menjadi pabrik gula terkecil di Indonesia, bahkan mungkin di dunia. Situbondo hingga saat ini diisi oleh mayoritas Orang Madura. Orang Madura terkenal akan keberaniannya, terutama soal keyakinan. Secara turun temurun, Islam telah mendarah daging dalam budaya Orang Madura dan berangkat haji ke Mekkah, Arab Saudi, merupakan tujuan hidup paling utama bagi kebanyakan Orang Madura. Banyak Orang Madura yang menjadi pedagang, bahkan penjual makanan di pinggir jalan tanpa modal. Lupakan soal gaji tetap, perlindungan, asuransi dan kesehatan. Berbekal </span><i><span style="font-weight: 400;">clurit </span></i><span style="font-weight: 400;">(senjata khas Orang Madura) untuk mempertahankan diri dan keyakinan yang kuat akan rezeki dari Allah SWT, mereka berani bekerja dimanapun dan kapanpun. Karena ini jugalah Kota Situbondo tergolong unik. Mereka dengan berani meyakini bahwa Republik Indonesia yang merdeka lebih baik daripada pemerintahan Hindia Belanda. Banyak pejuang dan pahlawan yang lahir dari Kota Situbondo. Keluarga kami, meskipun memiliki garis keturunan Belanda, sebenarnya tidak pernah menginjakkan kaki di Belanda. Aku sendiri lahir di Malang, Jawa Timur, sedangkan Mami berasal dari Yogyakarta. Jadi, aku lebih pantas menyebut nusantara ini sebagai tanah airku, bukan Belanda. Dari fakta tersebut dan juga rasa semangat perjuangan kemerdekaan, keluarga kami mendukung Republik Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaannya. Setiap ada hasil panen yang disimpan dalam rumah kami, seringkali dalam bentuk gabah, akan kami sisipkan amunisi persenjataan yang akan digunakan oleh para pejuang. Rumah kami di Olean menjadi tempat pertukaran antara penyuplai amunisi senjata, petani panen, dan para pejuang kemerdekaan. Bertahun kami menjalankan operasi ini secara rahasia, puji syukur tidak pernah sekalipun ketahuan oleh pihak Belanda. Mungkin, kami dapat dengan mudah dipercaya oleh Tentara Belanda karena warna kulit kami yang cenderung cerah seperti mereka. Mungkin juga, karena kami adalah peranakan Belanda yang hidup miskin di kampung sehingga mereka tidak menaruh curiga. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Meskipun keluarga kami mendapatkan banyak dukungan dan bantuan dari para pejuang dan orang di kampung, faktanya, Mami adalah seorang wanita. Setelah bercerai dengan suaminya, Mami tidak akan banyak mendapatkan perlindungan dari siapapun, terlebih di negara yang hukumnya masih belum tegas ditegakkan. Dengan pertimbangan tersebut, akhirnya Mami memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang veteran asli Blitar, Jawa Tengah. Walaupun pada awalnya pihak keluarga tidak setuju dengan keputusan tersebut, terlebih Oma ku, namun pada akhirnya semua harus paham dengan keadaan yang sedang terjadi di Indonesia. Akhirnya, Mami menikah dengan pria veteran tersebut, Mario. Mario memiliki rekam jejak yang penting dalam perjuangan di wilayah Situbondo. Mario juga mendapatkan imbalan yang tidak sedikit. Kala itu, Mario mampu memiliki rumah dan tanah di daerah Dawuhan, Situbondo. Mario juga sangat fasih berbahasa Belanda, sehingga Ia tidak memiliki kesulitan untuk berkomunikasi dengan Mami.</span></p>
<h2>3. Masa masa tersulit</h2>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Anak haram!</span></i><span style="font-weight: 400;">”, anak anak itu mengejarku sambil melempariku dengan batu dan kerikil. Aku tidak bisa berlari lebih kencang untuk menghindari serangan mereka, karena aku sedang membawa beras 10 kilogram dari toko kelontong yang jaraknya agak jauh dari rumah. Kalau bukan disuruh oleh Mario, aku sangat takut kepadanya. Aku masih berusia sangat muda, masih di tingkat akhir sekolah dasar. Tapi mungkin karena kelebihan genetik yang aku miliki, tinggi badanku sudah lebih dari kebanyakan orang dewasa disini, jadi aku sudah dianggap kuat membawa beban seberat ini, rutin setiap minggu. Atau bisa juga karena aku harus mengulang Sekolah Rakjat, jadi aku sudah 2 tahun lebih tua daripada tingkat sekolahku sekarang. Entahlah, tapi yang jelas aku menangis, aku bingung, apa salahku kepada mereka? Saat ini, aku hanya ingin pulang dan memeluk Mami ataupun Oma. Aku akan mengadu kepada mereka. Di satu sisi, aku tidak tahu apa maksud dari “Anak haram” karena aku masih belum lancar berbahasa Indonesia. Sesampainya di rumah, aku menangis sejadi jadinya di pangkuan Mami. Sambil terisak, aku bertanya apa maksudnya “Anak Haram”, kata yang diucapkan oleh anak anak nakal yang mengejarku tadi. Mami terhentak, berhenti mengusapku sambil menatapku dalam. Tiba tiba air matanya mengalir, “</span><i><span style="font-weight: 400;">No,</span></i><span style="font-weight: 400;"> </span><i><span style="font-weight: 400;">Je hoeft het niet te weten, mijn zoon</span></i><span style="font-weight: 400;">” (Nono, kau tidak perlu tahu, anakku). Mami kembali memelukku erat, kali ini aku lah yang berhenti menangis dan merasakan hangatnya air mata tangisan Mami di dadaku. Waktu itu, aku benar benar tidak paham apa arti kata itu, kata yang akan selamanya menempel pada diriku, kata yang sebenarnya aku pun tidak memiliki kuasa untuk mengubahnya, kata yang akan mengubah jalan hidupku selamanya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Waktu berlalu, aku pun lulus sekolah dasar dan melanjutkan ke jenjang sekolah lanjut tingkat pertama (SLTP). Suatu siang, Mami mengundangku secara diam diam ke dalam kamarnya. Waktu itu, Mario belum pulang dari bekerja sehingga kami memiliki kesempatan untuk berbicara empat mata. “Mungkin, ini waktunya kamu tahu, Nono”, waktu itu Mami dan aku sudah bisa berbahasa Indonesia dengan lancar. “Lihat ini, simpan foto ini seumur hidupmu. Ia adalah Ayahmu yang sebenarnya. Namanya adalah Luis Mol”. Pelan pelan Mami mengeluarkan foto Luis Mol dari lemari kayunya. </span></p>
<figure class="post__image"><img loading="lazy"  src="https://aputera.com/media/posts/5/Screenshot-2026-08-26-105708-2.png" alt="" width="647" height="480" sizes="(max-width: 1920px) 100vw, 1920px" srcset="https://aputera.com/media/posts/5/responsive/Screenshot-2026-08-26-105708-2-xs.png 640w ,https://aputera.com/media/posts/5/responsive/Screenshot-2026-08-26-105708-2-sm.png 768w ,https://aputera.com/media/posts/5/responsive/Screenshot-2026-08-26-105708-2-md.png 1024w ,https://aputera.com/media/posts/5/responsive/Screenshot-2026-08-26-105708-2-lg.png 1366w ,https://aputera.com/media/posts/5/responsive/Screenshot-2026-08-26-105708-2-xl.png 1600w ,https://aputera.com/media/posts/5/responsive/Screenshot-2026-08-26-105708-2-2xl.png 1920w"></figure>
<p><span style="font-weight: 400;">Perlahan air mataku mulai menetes di pipiku. Ternyata ini jawaban atas pertanyaanku selama ini. Jawaban dari kata “Anak haram” yang dilontarkan anak anak dan orang orang disekitar kampung kepadaku. Mami melanjutkan ceritanya, “Ayahnya adalah seorang Belanda dan Ibunya adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">Inlander. </span></i><span style="font-weight: 400;">Fisiknya sama persis denganmu sekarang, tegap, kurus, dan tinggi. Tapi sepertinya kamu lebih tinggi daripada Luis, No, haha”, aku bisa merasakan satirnya suasana itu, Mami berusaha untuk mengingat satu dan dua hal tentang Luis Mol. “Ia adalah seorang </span><i><span style="font-weight: 400;">Ingenieur </span></i><span style="font-weight: 400;">di pabrik gula. Kalau kau sedang rewel dan sakit dahulu, Ia lebih untuk menemanimu di rumah dan tidak berangkat ke pabrik. Ia sangat sayang denganmu”. Kali ini, aku tidak bisa menahan untuk bertanya, “Lalu, kalau Ia sayang kepadaku, kenapa Ia meninggalkan Mami dan aku?”. Mami sejenak menghela napas, lalu melanjutkan ceritanya dengan nada yang sedikit lebih berat, “Negara ini sungguh kacau saat itu. Belanda tidak mau melepaskan Indonesia dan operasi militer terjadi dimana-mana. Belum lagi Jepang yang tiba tiba masuk ke Indonesia”. Terlihat wajah Mami yang menyesalkan banyak hal, tapi tidak punya kuasa untuk mengubahnya. “Akhirnya, Belanda mengeluarkan program repatriasi warga negara karena kondisi disini sudah sangat tidak kondusif. Belum lagi, faktanya memang banyak perusahaan disini dimiliki oleh warga negara Belanda dan tenaga ahlinya pun juga. Luis Mol mendapatkan kesempatan repatriasi tersebut dan memiliki tawaran bekerja di Belanda”. Aku semakin tidak terima, aku sedikit meninggikan nadaku kepada Mami, “Apa! Bagaimana itu bisa terjadi? Mengapa…”, “Kamu pun sebenarnya akan dibawa ke Belanda waktu itu”, Mami memotong pertanyaanku. “Tapi akulah yang memilih untuk menetap disini. Dan aku tidak mau kehilanganmu. Heerlen dan Olive sudah dibawa suami pertamaku. Aku tidak bisa menahan rasa kehilangannya. Aku tidak bisa kehilangan satu Anak lagi”, dan seketika aku terdiam. Tidak apa apa, aku cinta Mami. Mami saja sudah cukup bagiku untuk hidup di dunia ini. Kalau memang ini jalan hidup yang Mami inginkan, untuk tinggal di Indonesia dengan segala ketidak pastiannya, maka aku harus menjadi orang pertama yang mendukung keputusannya. Aku malah justru harus bisa melindunginya. Aku harus menjadi orang kuat! Aku bisa, pasti bisa! Siang itu, aku berterimakasih kepada Mami karena telah menjelaskan semuanya kepadaku. Meskipun, masih belum jelas bagaimana hubungan Luis Mol dan Mami bisa terjalin, paling tidak aku sekarang sudah tahu siapa Ayahku yang sebenarnya. Papi sudah jelas bukan ayahku karena setelah perceraian, aku tidak dibawa pergi bersamanya. Lebih lebih Mario, yang hadir ketika aku bahkan sudah bisa bicara. Penjelasan itu sudah cukup untuk sekarang. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Suatu hari, aku sedang melihat dan memandangi foto Ayahku, Luis Mol. Tidak ada informasi lagi selain namanya, yang sebenarnya akupun tidak tahu cara mengejanya dengan benar, dan pekerjaan terakhirnya sebagai insinyur mesin di pabrik gula. Kata Mami, dalam lain kesempatan, Luis Mol awalnya adalah seorang yang indekos di rumah orang tua Mami. Mungkin, memang dengan cara itu mereka bertemu dahulu. Apakah hubungannya diresmikan secara negara maupun agama, itu persoalan lain, aku tidak diceritakan lebih lanjut. Mungkin, hanya Mami dan Luis Mol yang tahu akan hal itu. Bagaimana kabarmu sekarang Papi? Sedang apa sekarang di Belanda? Kuharap Engkau sedang baik baik saja. Tiba tiba saja, ada suara menggelegar di rumah, “Anak haram! Ini semua gara gara Anak harammu itu!”, Mario berteriak saat pulang dari kerja. Mario adalah seorang veteran perang Indonesia yang memiliki pengaruh cukup kuat di Situbondo. Ia memiliki beberapa usaha dengan teman teman seperjuangannya. Tapi, tampaknya juga Ia sering ditipu oleh beberapa orang. Ia terlalu mudah menerima tawaran berbunga tinggi dari usaha yang belum jelas. Dan ketika sudah gagal, semua itu Ia lampiaskan ke Mami dengan menyebut “Anak haram” yang notabene adalah diriku sendiri. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebenarnya, aku bingung akan ketidakadilan di dunia ini. Kalau boleh memilih, aku juga tidak akan memilih untuk menjadi anak haram. Maksudku, siapa yang bisa memilih untuk tidak terlahir dalam kondisi ini? Kelahiran manusia sendiri adalah sebuah fitrah dari Tuhan. Tidak ada bayi yang terlahir kotor, semuanya terlahir suci. Lalu bagaimana bisa orang orang memandangku sebagai anak pembawa sial, anak kotor dan berbeda dari anak lainnya? Sungguh, sikap itu sangat tidak adil. Tapi, orang yang mengamuk kali ini adalah orang yang melindungi keberadaan Mami. Aku harus bisa paham situasi. Mami bagaimanapun juga membutuhkan keberadaan Mario. Begitu juga kelima saudaraku yang lahir dari pernikahan mereka. Di sisi lain, Mami juga memiliki tanggung jawab kepada mereka. Kali ini, aku lebih baik diam untuk Mami. Mami pun meminta maaf kepada Mario atas setiap kegagalan yang Mario alami, walaupun Mario sendiri jugalah penyebabnya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tapi, tak bisa dipungkiri kalau aku mulai merasa sendirian di dunia ini. Mami yang sudah tunduk kepada Mario akan selalu berada pada posisi ini sepanjang hidupnya. Mami tidak mungkin memiliki pekerjaan formal, karena Ia tidak memiliki pendidikan khusus untuk bekerja, lebih lebih pengalaman pekerjaan. Apalagi zaman dahulu, kaum perempuan memang tidak banyak yang bisa memiliki pekerjaan formal. Pada satu siang, tiba tiba ada kabar yang sangat menggembirakan. Heerlen akan datang ke Situbondo! Aku senang bukan main. Menurut kabar, Heerlen sudah menikah di usianya yang sangat muda dengan seorang dari Ambon. Suaminya bekerja di Staatsspoorwegen (SS) yang dikenal sebagai PT Kereta Api Indonesia dan mereka tinggal di Bandung sekarang. Mereka dikaruniai seorang anak laki laki bernama Petra, dan seorang putri bernama Meti. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Heerlen akan berada di Situbondo untuk waktu yang cukup lama, sekitar 3 bulan. Mungkin inilah satu satunya kenangan manis di masa kecilku. Sejak aku lahir, Mami sudah harus merasakan ditawan Jepang, ditinggal oleh suami dan anak anaknya, menikahi seorang veteran untuk bertahan hidup, dan aku ikut menyaksikan itu semua. Kedatangan Heerlen bagaikan angin segar di tengah padang gurun yang panas. Meskipun aku tahu ini hanya sementara, aku akan menikmati waktu bersamanya. Ketika Heerlen datang, aku sering diajak nonton bioskop di dekat alun alun. Film yang paling sering diputar adalah film koboi. Aku sudah lupa apa judulnya, tidak penting. Yang penting, aku bisa mengingat hangatnya rasa kasih sayang seorang kakak. Heerlen juga sering memasak untuk kami. Masakan Heerlen sangat enak. Bahkan, Ia akan mengundang saudaranya yang lain untuk makan. Kedatangan Heerlen membawa suasana yang sangat berbeda di rumah ini. Aku merasa bahwa ini adalah waktu waktu dalam hidupku. </span></p>
<figure class="post__image align-center"><img loading="lazy"  src="https://aputera.com/media/posts/5/Screenshot-2026-08-26-105836.png" alt="" width="476" height="475" sizes="(max-width: 1920px) 100vw, 1920px" srcset="https://aputera.com/media/posts/5/responsive/Screenshot-2026-08-26-105836-xs.png 640w ,https://aputera.com/media/posts/5/responsive/Screenshot-2026-08-26-105836-sm.png 768w ,https://aputera.com/media/posts/5/responsive/Screenshot-2026-08-26-105836-md.png 1024w ,https://aputera.com/media/posts/5/responsive/Screenshot-2026-08-26-105836-lg.png 1366w ,https://aputera.com/media/posts/5/responsive/Screenshot-2026-08-26-105836-xl.png 1600w ,https://aputera.com/media/posts/5/responsive/Screenshot-2026-08-26-105836-2xl.png 1920w"></figure>
<p><span style="font-weight: 400;">Kami mengabadikan momen itu dengan berfoto bersama seluruh anggota keluarga. Dari kiri atas ada Mario, Mami, Heerlen, Oma dan Meti. Dari kiri bawah ada aku (Nono), Leen (anak pertama Mario), Petra (anak pertama Heerlen), Illise, dan Irene (Saudara kandung Leen). Bisa dilihat, adakah sesuatu yang membuat foto ini terasa berbeda? Benar, ekspresiku yang tersenyum lebar memang bukan sesuatu yang umum kala itu. Entah kenapa, foto foto orang zaman dahulu selalu tanpa ekspresi dan cenderung serius. Tapi, kalau memang ini adalah momen yang diabadikan, aku akan bercerita betapa senangnya aku atas kedatangan Heerlen ke Situbondo lagi. Aku akan selalu mengingatnya sepanjang hidupku. Terimakasih Heerlen, setidaknya kehadiranmu bisa sejenak membuatku lupa akan penat dan kesuraman yang setiap hari aku rasakan disini. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dasar anak haram! Sialan kau!”, entah dari mana Mario siang hari ini, tiba tiba Ia kasar denganku. Tangannya pun memukulku berulang kali. Aku tidak bisa apa apa kecuali menangis dan sedikit menghalangi pukulannya dengan tanganku, meskipun tidak seberapa berpengaruh, badanku tetap sakit. Mario semakin menjadi-jadi siang itu, tampaknya Ia sudah tertipu dengan jumlah yang cukup banyak. Kalau diingat ingat, sepertinya memang beginilah kondisi dan mental orang orang di sekitar sini. Bahkan mulai sekolah dasar saja aku sudah mulai merasakannya. Seolah mengambil yang bukan hak nya itu hal lumrah, biasa saja. Kalau aku sih, sudah tahu perilaku seperti itu jadi aku tidak akan menaruh harapan apapun kepada mereka. Mungkin Mario sedikit berbeda. Dia lahir di Blitar yang memang memiliki budaya yang agak berbeda. Mungkin Mario memang mudah menaruh harapan dan kepercayaan ke orang orang itu. Dengan iming iming bunga besar, Ia dengan mudahnya menitipkan uang dalam jumlah yang lumayan kepada mereka. Eh, tidak tahunya lagi lagi investasi bodong yang dia terima. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Hou op!”, </span></i><span style="font-weight: 400;">(“hentikan!”) tiba tiba suara lantang hadir di tengah amukan Mario kepadaku. Tidak ada yang pernah menghentikan Mario selama ini kalau sudah mengamuk. Tidak ada yang berani, toh ini rumah Mario. Mario adalah penguasa disini, semua harus tunduk dan patuh kepada Mario. Lalu siapa yang berani berteriak seperti itu, padahal semua tahu Mario tidak akan mendengarkannya. Tapi kali ini beda, kali ini situasinya sangat berbeda. Ya, orang yang berteriak tadi adalah Heerlen. Aku bersyukur untuk kesekian kalinya kepada Tuhan, karena telah mendatangkan seorang malaikat dalam hidupku. Tidak hanya untuk memperhatikanku disini, tapi juga untuk melindungiku dari kekasaran bapak tiriku sendiri. “</span><i><span style="font-weight: 400;">Als je niet voor Nono kunt zorgen, dan kan Nono maar beter met mij meegaan!”, (“</span></i><span style="font-weight: 400;">kalau Kau tidak bisa merawat Nono, lebih baik Nono ikut dengan saya!”) Heerlen menambahkan dengan tegas. Heerlen sudah membulatkan tekad. Ia tidak tega melihatku yang selalu disalahkan dan tersiksa akan kondisi ini. Ia lebih baik merawatku dan membesarkanku daripada harus terpikir saudaranya sendiri hidup tersiksa di rumah Mario. Aku pun akan dengan senang hati menerima tawaran Heerlen. Aku lebih baik tinggal bersama Heerlen daripada Mario, meskipun aku tahu akan terpisah dengan Mami. Setidaknya, kalau tidak ada aku, Mami juga tidak akan dimarah-marahi oleh Mario. Aku paham, aku adalah alasan utama dan bulan bulanan Mario selama Ia mengalamai kegagalan. Setiap musibah dalam keluarga ini, aku yang selalu menjadi kambing hitamnya. “Tidak apa apa”, dalam hati aku bergumam, “Setidaknya aku akhirnya bisa pergi dari rumah ini dan Mario akan berhenti menyalahkan keadaan”. Tapi, aku tidak berani masuk dalam perbincangan orang orang. Aku hanya berani berkata dalam hati. “</span><i><span style="font-weight: 400;">Nee!”, </span></i><span style="font-weight: 400;">tiba tiba Mami masuk dalam suasana yang sedikit canggung. “</span><i><span style="font-weight: 400;">vergeef Mario, ik zal voor Nono zorgen”, </span></i><span style="font-weight: 400;">Mami meyakinkan Heerlen untuk tetap menjagaku di rumah Mario. Mario meninggalkan ruangan dengan terdiam. Sementara itu, semua orang dalam ruangan ini tetap terdiam untuk beberapa saat, sebelum semuanya kembali ke aktivitas masing masing. Aku tahu, tidak akan ada yang berubah setelah ini. Semuanya akan kembali normal dan aku masih akan menjadi bulan bulanan Mario untuk beberapa waktu ke depan. Setidaknya, sampai aku lulus sekolah menengah pertama. </span></p>
            ]]>
        </content>
    </entry>
    <entry>
        <title>Hidup 5 Tahun dengan Kista Tarlov</title>
        <author>
            <name>Andreas Putera</name>
        </author>
        <link href="https://aputera.com/test.html"/>
        <id>https://aputera.com/test.html</id>

        <updated>2026-08-25T13:17:37+10:00</updated>
            <summary type="html">
                <![CDATA[
                    Tulisan ini adalah update dari apa yang saya tulis di medium di tahun 2022. Update terakhir mengenai kondisi saya, yakni saya di operasi 2x di tahun 2022 dan awal 2025. Yang operasi pertama parah banget sampai gabisa duduk 1 bulan karena pusing (sampai sekarang gatau&hellip;
                ]]>
            </summary>
        <content type="html">
            <![CDATA[
                <figure class="post__image"><img loading="lazy"  src="https://aputera.com/media/posts/1/eyes.jpg" alt="" width="960" height="640" sizes="(max-width: 1920px) 100vw, 1920px" srcset="https://aputera.com/media/posts/1/responsive/eyes-xs.jpg 640w ,https://aputera.com/media/posts/1/responsive/eyes-sm.jpg 768w ,https://aputera.com/media/posts/1/responsive/eyes-md.jpg 1024w ,https://aputera.com/media/posts/1/responsive/eyes-lg.jpg 1366w ,https://aputera.com/media/posts/1/responsive/eyes-xl.jpg 1600w ,https://aputera.com/media/posts/1/responsive/eyes-2xl.jpg 1920w"></figure>
<p>Tulisan ini adalah update dari apa yang saya tulis di medium di tahun 2022. Update terakhir mengenai kondisi saya, yakni saya di operasi 2x di tahun 2022 dan awal 2025. Yang operasi pertama parah banget sampai gabisa duduk 1 bulan karena pusing (sampai sekarang gatau kenapa pusingnya). Alhamdulillah berangsur pulih tapi kemudian memilih operasi lagi tahun 2025, yang dimana dilakukan di RS Mayapada Bandung oleh dokter agung. Alhamdulillaah....prosedur ini lancar dan saya seminggu pasca operasi udah bisa kemana2 dan sakitnya relatif terobati sekarang saya menjalani hidup 80-90% seperti orang normal. hanya mencegah angkat berat dan mengejan berlebihan/ gerakan tiba2 kayak main badminton yang isinya smash kilat. sakitnya masih ada, tapi kalau saya "fokus" kerja dan tidak angkat2 berat, sakitnya tidak mengganggu.</p>
<p> </p>
<p>Berikut tulisan saya di Tahun 2022 lalu di Medium:</p>
<p> </p>
<p dir="auto"><em>“Tidak ada gading yang tak retak”</em></p>
<p dir="auto">adalah peribahasa yang dapat menggambarkan cerita kali ini.</p>
<p dir="auto">Mungkin semua orang sudah tahu, bahwa tidak ada dari kita yang sempurna atau 100% normal sejak dari lahir — itulah mengapa kita semua unik. Tapi bagiku, mungkin ceritanya sedikit berbeda. Mungkin kalau pakai bahasa data, aku sedikit cenderung berada pada daerah outliers.</p>
<p dir="auto">Hingga hari ini, 8 Juli 2022, total sudah 5 kali aku menjalani operasi yang membekas di tubuh. Kalau operasi amandel ikut dihitung, ya sudah 6 kali aku menjalani operasi. Sayangnya, sepertinya angka ini akan bertambah tahun depan. Dari 5 operasi tadi, 3 operasi dilakukan di daerah yang sama: perut abdomen. Tahun 2008, aku menjalani operasi laparatomi usus buntu yang sudah agak parah. Sayangnya, di Tahun 2019 ternyata ada perlengketan usus dan usus buntu lagi karena ternyata di tahun 2008 pemotongan usus buntunya tidak sampai pangkal. Tahun 2022 Bulan Mei kemarin, terpaksa ada operasi laparatomi lagi karena kasus perlengketan usus kembali. Walaupun terlihat parah, sebenarnya kasusnya tidak se menakutkan itu. Aku hanya mendapat “jatah” dari Yang Mahakuasa untuk menjalani itu, tidak lebih. Kabarnya, kalau kita bisa melaluinya dengan rasa syukur, kita bisa mendapat ganjaran yang luar biasa sekaligus menggugurkan dosa kita.</p>
<p dir="auto">Beberapa hari setelah operasi, aku merasa ada yang aneh dengan punggung dan kaki kiriku. Kedua area itu sakit sekali sehingga aku tidak bisa melakukan gerakan rukuk dengan benar. Selain itu, aku juga kesulitan duduk dalam jangka waktu yang lama, bahkan hingga tulisan ini dibuat. Sebenarnya, aku sudah merasa ada yang aneh di area ini sejak 2017, tepatnya setelah bermain futsal. Waktu itu, aku melakukan gerakan “jangkah” yang berlebihan dan seketika terdengar suara robekan di daerah pantat. Karena sakitnya tidak terlalu parah, sepulang futsal aku masih bisa menyetir pulang pergi Jogja-Wonosari sekaligus tracking ke Pantai Timang sejauh 3 km.</p>
<p dir="auto">Keanehan mulai terjadi 3 hari setelah futsal. Saat naik tangga, tiba tiba kaki kiriku tidak bisa diangkat ketika hendak menaiki anak tangga. Karena masih tidak terlalu sakit juga, aku hanya fisioterapi dan banyak renang. Jaman jaman itu, bisa dibilang aku cukup aktif secara fisik. Banyak renang, banyak lari, bukan perokok aktif. Hanya saja, setelah beberapa waktu akhirnya 2018 saya memutuskan untuk MRI dan hasilnya, memang ada kista sebesar 1 cm di sacral 1–2 (tulang ekor). Karena ukurannya yang kecil dan tidak terlalu mengganggu — rasa sakit konstan di skala 1–2 saja setiap hari, kista ini dibiarkan saja oleh dokter dan solusinya hanya banyak terapi. Tapi aku tidak bisa bohong, kalau ditanya apakah kaki kiri dan kanan berbeda? beda. Apakah ada rasa sakit yang konstan setiap hari (tidak bisa hilang dengan cara apapun) di kaki kiri? Ya, betul.</p>
<p dir="auto">Waktu pun berlalu, selama 2018 hingga 2022 ini aku sudah banyak traveling dan tracking. Bukan apa-apa, tapi kalau mau dibilang kemampuan fisik, aku masih bisa dibilang di atas rata rata. Aku bisa renang di laut lepas tanpa pelampung ketika di New Zealand. Jalan lebih cepat dan lebih jauh ketika tracking — meskipun dengan sakit punggungku. Bersepeda 10 km dibawah terik matahari, berenang dan diving di Pantai Pulau Rottnest, Australia, aku sikat semua. Sakit kah di punggung? Iya. Tapi aku tidak mau memikirkan itu lebih daripada menikmati perjalanan dan alam yang indah di depan mataku.</p>
<p dir="auto">Hingga sebelum 2022, kista itu tidak memberikan rasa sakit yang berarti. Sebulan yang lalu, karena kista itu sudah terlalu menyakitkan, akhirnya aku putuskan untuk MRI kembali dan hasilnya kistanya sudah berkembang jadi 1.6 cm. Saat ini, aku masih berjuang untuk bisa mengumpulkan data S3 ku di Melbourne, Australia. Dengan sedikit pain management mindset dan beberapa painkiller (mostly parasetamol, nothing serious), aku harap aku bisa melewati 6 bulan di Melbourne dengan lancar. Tahun 2023 awal nanti, insyaAllah aku akan menjalani operasi pengambilan kista di Jogja.</p>
<p dir="auto">Aku tidak sabar menanti 2023! Aku yakin setelah itu rasa sakitnya bisa hilang dan who knows? I am ready for my next adventure!</p>
<p dir="auto">Untuk para pembaca, mungkin cerita ini bisa jadi penyemangat bagaimana kalian menghadapi rasa sakit — tidak nyaman, tapi tidak ada yang bisa mengalahkan pikiran yang sehat, optimis, dan penuh semangat. Semoga sedikit cerita ini bisa memberi dampak positif bagi pembaca :)</p>
<p dir="auto">Best,</p>
<p dir="auto">Andreas</p>
<p dir="auto"> </p>
<p dir="auto"> </p>
            ]]>
        </content>
    </entry>
</feed>
