Ik Ben Nono (My Name is Nono) - Part 1
Intro
Pada abad ke-16, Negeri Belanda tidak punya banyak pilihan untuk menghidupi rakyatnya selain berlayar ke Asia dan mencari rute perdagangan baru, daripada menghadapi konflik dagang di Eropa. Benua Eropa tidak se-maju dan se-berkembang sekarang. Perang, blokade, dan penjarahan kapal di kawasan perdagangan membuat Belanda kesulitan jika tetap menjalankan bisnis di sana. Benua Amerika sudah terlalu padat oleh kapal kapal Inggris, Spanyol, dan Portugis. Akhirnya, pada tahun 1596, mereka menemukan Indonesia, atau lebih dikenal pada saat itu sebagai Nusantara. Pada saat itu, lada dan rempah-rempah adalah komoditas yang paling dicari di seluruh dunia dan pada awalnya, Maluku sebagai wilayah produsen menjadi tujuan utama para pelaut Belanda. Satu hal yang harus kita akui, Indonesia, meskipun belum disatukan menjadi sebuah negara, adalah wilayah yang sangat kaya akan sumber daya alamnya. Bertahun setelah mengeksploitasi pala, berbagai macam hasil bumi dengan mudahnya ditemukan dan dikembangkan di tanah kita, tak terkecuali tebu sebagai bahan dasar gula. Belanda kemudian menjadi salah satu negara paling kaya di daratan Eropa.
Sekitar tahun 1920-1940, industri gula di Hindia Belanda mencapai puncak kejayaannya. Pada waktu itu, gula juga telah menjadi salah satu komoditas terpenting di seluruh dunia. Puncak produksi gula Hindia Belanda terjadi pada tahun 1930 dimana sekitar 3 juta ton gula diproduksi dan sekitar 2,4 juta ton diekspor. Saat itu, kapasitas produksi gula di Hindia Belanda hanya kalah dengan produksi Negara Kuba. Dan karena itu pula, banyak Orang Belanda ditempatkan di pabrik pabrik gula, khususnya Pulau Jawa, untuk menjalankan industri yang ada. Hingga setelah merdeka pun, Pulau Jawa tetap menjadi episenter dari produksi gula di Indonesia. Kekayaan unsur hara yang berasal dari muntahan gunung berapi memang telah menjadi keunikan tersendiri dari Pulau Jawa. Karena itu pula, kakek dan nenek moyangku dikirim dari Daratan Eropa ke Hindia Belanda sebagai tenaga ahli industri.
Kendati demikian, aku tidak ingin menceritakan lebih jauh tentang industri gula dari sisi teknis. Mungkin hanya sedikit dan tidak terlalu dalam karena bagaimanapun juga, aku lahir ke dunia dari industri gula yang ada dalam sejarah Negara Indonesia. Aku disini, untuk menceritakan sebuah kisah tentang bagaimana industri ini memainkan peran besar bagi kehidupan seseorang, yakni aku, Nono.
Tentang asal usulku
1. Sebelum Indonesia Merdeka
Dari banyak anggota keluarga orang tuaku, aku hanya tahu nama ibuku, Ana Maria dan saudara laki lakinya, Yakob. Aku memanggil ibuku Mami. Sosok yang sabar, penuh kasih sayang, dan perhatian. Kesabarannya melebihi apapun yang aku ketahui di dunia ini. Mami dulu tinggal di Kota Yogyakarta, tepatnya di daerah Pajangan, Bantul. Dahulu, ada sekitar 19 pabrik gula di Jogja dan ayah Mami bekerja di salah satu pabrik gula yang ada di daerah Pajangan. Terbayang suasana Jogja yang masih begitu asri dan nyaman ketika aku mendengarkan cerita Mami yang harus naik Andong setiap minggu untuk berbelanja di Pasar Beringharjo. Dengan jarak sekitar 15 kilometer, kalau aku hitung, mungkin membutuhkan waktu sekitar 1 jam dari Pajangan dengan naik Andong. Mami juga bercerita, dahulu rumah sakit yang kita kenal sebagai RS Panti Rapih, bernama Rumah Sakit Onder de Bogen (di bawah lengkungan) karena bentuk arsitekturnya yang melengkung. Setelah beberapa waktu di Jogja, Ayah dari Mami dipindah tugaskan ke Malang, Jawa Timur dan Mami pun ikut dengannya.
Aku adalah orang yang telah hidup di berbagai lintas generasi dan telah melihat bahwa dahulu, terlebih ketika negara kolonial masih ada, kaum perempuan tidak memiliki banyak kuasa atas hidupnya sendiri. Mami dijodohkan ketika masih berusia sangat muda, mungkin 17 tahun atau lebih muda. Dari hasil perkawinan itu, lahir dua saudara perempuanku, Herlina (kami memanggilnya Heerlen) dan Olive. Suami pertama Mami bekerja di angkatan militer Hindia Belanda. Sejauh yang aku tahu, beliau adalah orang yang kasar dan suka memukul orang. Tidak hanya terhadap keluarga, tapi juga kepada para asisten rumah tangga. Mami pun mengakui bahwa pernikahan tersebut sering diwarnai dengan pertengkaran dan Mami tidak bahagia. Satu waktu, salah seorang asisten rumah tangga Mami terluka parah karena suami Mami mengamuk hebat. Ia terpaksa dilarikan ke klinik terdekat untuk segera mendapatkan perawatan. Mungkin saat itu, keluarga juga tidak bisa melindungi apa yang telah dilakukannya, sehingga Ia diadili di pengadilan dan diberikan hukuman pelayanan komunitas selama seminggu. Rasa rasanya, seperti tidak mungkin bukan? Orang kulit putih dihukum secara semestinya, karena melukai seorang pribumi. Seperti ada yang aneh? Sebenarnya, hukum sudah sangat diupayakan untuk ditegakkan dimanapun tempatnya. Bukan apa-apa, tapi tujuannya memang untuk membuat kehidupan lebih teratur. Asisten kami, seorang pribumi dari Jawa Timur, babak belur di tangan orang kulit putih dan tetap mendapatkan perlindungan dan keadilan di fasilitas kesehatan dan di depan hukum. Di sisi lain, Suami Mami harus rela bekerja di proyek penggalian parit selama seminggu penuh, mencangkul dan mengurug tanah layaknya orang lain tanpa dibayar.
Hari demi hari berlalu, Mami sebenarnya semakin tidak betah dengan perilaku suaminya. Tapi, apa daya, Mami hanyalah seorang ibu rumah tangga yang tidak memiliki penghasilan tetap. Ayahnya pun tidak lama lagi akan pensiun. Mungkin, justru Mami dinikahkan dini supaya tidak jadi beban finansial orang tuanya, siapa yang tahu? Yang jelas, Mami tidak memiliki banyak pilihan kecuali bertahan dalam pernikahannya untuk bisa bertahan hidup. Tapi tekad Mami akhirnya kalah dengan perlakuan kasar suaminya sendiri. Mami akhirnya berpisah dengan Papi. Di dalam sidang perceraian, Papi memenangkan hak asuh atas anak karena Mami tidak memiliki pekerjaan tetap dan tidak berpenghasilan. Satu hal yang paling membekas dalam benakku adalah saat itu di siang hari, di rumah Ayah Mami, dua orang berseragam polisi menjemput kedua kakakku, Heerlen dan Olive. Aku berlari, berteriak, menangis dan mengejar mereka, “Heerlen! Olive! Verlaat me niet!” (“Heerlen! Olive! Tetaplah disini!”). Waktu itu, usiaku sudah sekitar 5 tahun dan aku sudah mulai ingat beberapa hal. Aku pun kadang bertanya, kenapa aku tidak ikut dibawa Papi? Kenapa aku harus berpisah dengan kedua saudaraku? Sebuah pertanyaan yang akhirnya akan terjawab perlahan ketika aku sudah dewasa.
Negara Indonesia terbentuk tahun 1945, tapi aku tidak tahu pada tahun berapa aku lahir. Yang aku tahu, aku lahir beberapa tahun sebelum Indonesia merdeka. Pada tahun 1942, Jepang mulai menduduki Hindia Belanda untuk mendapatkan sumber daya alam, terutama minyak sebagai bahan bakar kendaraan perang mereka. Berbeda dengan Belanda yang datang sejak 350 tahun silam, Jepang menduduki Hindia Belanda dengan cepat dan dengan cara yang relatif lebih kasar dan agresif. Jepang juga melakukan propaganda kebencian terhadap kaum kulit putih kepada warga asli Indonesia. Banyak dari orang penting yang merupakan kulit putih maupun keturunan Indo-Belanda menjadi korban kekejaman mereka. Saking takutnya, Mami dan Nenek membakar sertifikat lahirku sehingga sampai saat ini, aku tidak tahu tahun lahirku sendiri. Aku lebih baik dianggap sebagai anak pungut yang tidak jelas garis keturunannya, dibandingkan harus mengalami kekejaman tentara Jepang. Sayangnya, Mami tetap ditawan dan dipenjara oleh tentara Jepang. Aku yang masih bayi kala itu menangis tak henti henti. Selain karena kondisi kamp konsentrasi yang penuh sesak dengan orang, ASI Mami sempat terganggu karena kurang makan. Di sisi lain, beberapa orang bahkan membakar sertifikat tanah mereka karena takut dirampas oleh Jepang. Kedatangan Jepang ke Indonesia pada waktu itu memang mendatangkan banyak masalah kepada orang kecil seperti kami, terlebih keturunan Belanda yang berkulit putih.
Ketika Jepang menyerbu Hindia Belanda, banyak orang kulit putih, baik Belanda totok maupun keturunan Indo-Belanda, merasa bahwa status mereka yang selama ini dianggap superior di tengah masyarakat Hindia Belanda tak akan goyah. Mereka percaya bahwa Jepang akan memperlakukan mereka sebagai kalangan yang istimewa, mirip dengan posisi mereka di bawah pemerintahan kolonial Belanda. Namun, harapan ini segera sirna.
Pada awal pendudukan, orang-orang Belanda dan Indo-Belanda mengalami ketakutan yang luar biasa. Berita tentang kekejaman Jepang yang brutal di tempat lain di Asia Tenggara, seperti di Tiongkok dan Filipina, membuat banyak orang kulit putih mulai menyadari ancaman yang nyata terhadap keselamatan mereka. Di saat yang sama, Jepang melancarkan kampanye propaganda yang mengklaim mereka datang untuk membebaskan Indonesia dari penjajah Eropa. Ini menciptakan sentimen anti-Belanda yang semakin memperburuk posisi orang-orang kulit putih di tengah masyarakat pribumi.
Banyak keluarga Belanda dan Indo-Belanda yang, sebelum invasi, hidup dengan nyaman di rumah-rumah besar dengan layanan dari asisten rumah tangga lokal. Namun, semua kenyamanan ini hilang dalam sekejap mata. Dalam hitungan minggu setelah Jepang menguasai Indonesia, tentara Jepang mulai memaksa orang-orang Belanda, terutama laki-laki dewasa, ke dalam kamp-kamp interniran. Ibu-ibu dan anak-anak Belanda juga tak luput dari penahanan. Mereka ditempatkan di kamp-kamp interniran yang terpisah dari suami dan ayah mereka.
Kehidupan di kamp interniran merupakan salah satu aspek yang jarang terungkap dalam narasi sejarah resmi. Orang-orang kulit putih yang sebelumnya hidup dalam kemewahan mendadak harus berjuang untuk sekadar bertahan hidup. Kamp-kamp interniran ini sering kali dipadati oleh ribuan orang dalam kondisi yang sangat tidak layak. Banyak orang dewasa yang harus tidur di lantai tanah atau di atas tikar jerami, sementara makanan dan air bersih sangat terbatas.
Dalam kamp-kamp ini, para perempuan Belanda dan Indo-Belanda juga menghadapi pelecehan fisik dan mental dari para penjaga Jepang. Tak jarang para perempuan, baik yang sudah menikah maupun masih muda, menjadi korban kekerasan seksual yang dilakukan oleh tentara Jepang. Kisah ini sering kali tertutupi oleh stigma sosial pada saat itu, serta ketakutan akan pembalasan dari pihak Jepang. Para korban biasanya memilih untuk tetap diam demi melindungi keluarga mereka, atau karena takut akan stigma yang akan mereka terima setelah perang berakhir.
Selain kekerasan fisik, salah satu penderitaan paling menyakitkan yang dialami oleh orang-orang Belanda dan Indo-Belanda di kamp interniran adalah kelaparan. Ransum yang diberikan oleh Jepang kepada para tahanan sering kali sangat minim, tidak seimbang dengan kebutuhan kalori mereka yang bekerja paksa atau hidup dalam kondisi kumuh. Beras yang didapatkan pun sering kali berisi kutu atau dicampur dengan jagung tua. Keluarga yang sebelumnya terbiasa makan makanan mewah kini harus berjuang untuk sekadar bertahan hidup dengan makanan yang bahkan tak layak diberikan pada ternak.
Dahulu, dan mungkin sampai sekarang, wilayah pedesaan sangat menggantungkan hidup dari hasil bumi. Beberapa yang memiliki ladang tebu, kopi, dan tembakau dapat berbisnis dengan Orang Belanda. Perjanjiannya pun banyak macamnya. Mulai dari sewa lahan, maupun menjual langsung hasil bumi tersebut. Kalau sawah yang ditanami padi, biasanya hasil panennya akan disimpan dalam bentuk gabah karena Orang Belanda tidak terlalu suka nasi. Kecuali keluarga kami, yang notabene sudah memiliki darah campuran. Ketika Jepang datang, hampir semua hasil bumi tersebut mereka rampas dengan seenaknya. Caranya pun sangat tidak persuasif dan cenderung kasar. Di awal masa tanam, mereka akan mengawasi ladang ladang mana saja yang akan diambil. Di masa panen, para Tentara Jepang akan mulai turun ke pedesaan mengambil paksa hasil bumi tersebut. Mana bisa kami menolak? Mereka membawa pistol dan pedang kebanggaan mereka untuk mengancam kami. Mana bisa kami menyembunyikan hasil panen? Sawah dan ladang kami terhampar luas di berbagai tempat. Orang orang hanya bisa berlari ke dalam kampung sebelum peluru peluru yang ditembakkan tak terarah itu benar benar menembus badannya. Satu satunya yang menjadi penghambat mereka hanyalah karena hamparan sawah dan ladang yang terlalu luas untuk mereka eksplorasi sendiri. Sehingga, memang masih ada beberapa lokasi panen yang tidak bisa mereka jangkau, meskipun menggunakan kendaraan. Selebihnya, kami hanya bisa pasrah, berlari dan mencari tempat perlindungan untuk menyelamatkan nyawa. Sebagai salah satu cara perlindungan diri, orang orang kampung dengan sengaja membuat nada Kentongan yang berbeda untuk mendeteksi kedatangan Tentara Jepang. Lambat laun, semua orang mulai hafal dengan ketukan nada yang berbeda tersebut, sehingga perasaan hati bisa menjadi sedikit lebih lega, meskipun tetap berbahaya.
Memang, bisa dipahami bahwa Jepang datang ke Indonesia bukan untuk berdagang tetapi untuk memenuhi kebutuhan perang, terutama minyak. Sehingga, cara persuasif, kondusif, dan pelan pelan mungkin tidak cocok. Terlebih dengan kondisi Jepang yang mulai mengalami banyak kekalahan di berbagai front, pasti tentara mereka frustasi dengan kondisi mereka sendiri. Namun demikian, setidaknya memang Jepang menularkan semangat nasionalisme kepada Bangsa Indonesia. Aku tidak paham banyak tentang sejarah, terlebih politik di dalamnya. Namun, aku sendiri berpendapat bahwa kedatangan Jepang adalah sebuah katalisator dalam perumusan Kemerdekaan Indonesia. Mulai dari digunakannya Bahasa Indonesia di berbagai lembaga formal, hingga dibentuknya Dokuritsu Junbi Cosakai, sebuah badan persiapan kemerdekaan atau BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) pada 1 Maret 1945 sebagai bentuk dari janji Perdana Menteri Jepang Kuniaki Koiso untuk memperkenankan kemerdekaan bagi Indonesia. Walaupun mungkin, Jepang tidak akan melepaskan dan memerdekakan Indonesia semudah itu, paling tidak kedatangan mereka membakar semangat para Pejuang Indonesia.
Perang adalah hal yang membingungkan, menurutku. Setidaknya, pasti ada dua sudut pandang yang berbeda dalam setiap pertikaian, lebih lebih perang. Kekalahan satu pihak bisa menjadi sebuah anugerah bagi pihak lain. Hanya saja, nyawa selalu menjadi taruhannya. Tanggal 6 dan 9 Agustus 1945 akan menjadi hari yang selalu diingat oleh setiap Warga Dunia, khususnya Jepang. Dua bom atom diledakkan di Kota Hiroshima dan Nagasaki. Tak banyak yang diketahui tentang Bom Atom kala itu. Dua kota yang dinilai sebagai kota industri penting bagi Jepang, diratakan dengan seisi penduduknya oleh Amerika Serikat dengan Bom Atom. Di Hiroshima, kematian dari dampak langsung bom tersebut adalah sekitar 70.000 orang. Tak disangka, dalam kurun waktu dua hingga empat bulan setelahnya, kematian bertambah menjadi sekitar 90.000 - 146.000 jiwa. Bom tersebut memiliki efek radiasi yang sangat dahsyat, yang mampu merusak sel dalam tubuh manusia, sehingga walaupun tidak terkena ledakan secara langsung dapat mematikan apabila tingkat radiasi yang diterima terlalu tinggi. Dua bom atom tersebut mengubah banyak nasib orang di Dunia, tak terkecuali di Hindia Belanda. Sepertinya kami, yang selama 3,5 tahun belakangan telah dijajah, diperas, dan disiksa oleh Jepang, tidak tahu harus bersikap apa kecuali bergembira karena para penjajah harus segera pergi dari bumi pertiwi. Dari tragedi yang menewaskan ratusan ribu orang dan menyiksa jutaan orang lainnya di Jepang, lahir kegembiraan bagi seluruh warga tanah air di Indonesia. Saat itu, aku masih terlalu kecil untuk merasakan bahagianya merdeka. Tapi aku yakin, orang tuaku termasuk dalam golongan orang orang yang bersuka cita atas kekalahan Jepang di Perang Dunia kedua.
Kendati demikian, pendudukan Jepang memunculkan situasi yang sangat kompleks bagi masyarakat pribumi Indonesia. Di satu sisi, Jepang memanfaatkan ketidakpuasan rakyat Indonesia terhadap pemerintahan kolonial Belanda dan membangun propaganda bahwa mereka adalah pembebas Asia dari cengkeraman kolonialisme Barat. Di sisi lain, banyak pribumi yang masih memiliki hubungan baik dengan keluarga-keluarga Indo-Belanda yang telah lama tinggal di Indonesia.
Hubungan ini menempatkan sebagian orang pribumi dalam dilema moral. Ada banyak kasus di mana penduduk pribumi diam-diam membantu keluarga Indo-Belanda yang dipenjara atau melarikan diri dari kamp-kamp interniran. Mereka memberikan makanan, air, atau tempat berlindung sementara, meskipun tindakan ini dapat membawa risiko besar bagi mereka sendiri. Sering kali, aksi-aksi kecil ini tidak tercatat dalam sejarah resmi, tetapi mereka menjadi contoh nyata tentang bagaimana kemanusiaan dapat melampaui batas-batas ras dan status sosial.
Namun, tidak semua penduduk pribumi bersikap demikian. Ada juga yang merasa bahwa penderitaan orang-orang kulit putih adalah pembalasan yang adil atas penindasan kolonial yang dialami oleh bangsa Indonesia selama ratusan tahun. Tidak jarang ada insiden di mana kelompok-kelompok tertentu mengambil keuntungan dari kelemahan orang kulit putih di bawah pendudukan Jepang untuk membalas dendam pribadi atau memanfaatkan situasi demi kepentingan mereka sendiri.
2. Kelahiran Republik Indonesia
Nama asliku adalah Herman Baptis, seperti nama kakekku yang asli Jerman. Tapi, aku sering dipanggil Sinyo oleh orang tuaku karena penampakan wajah eropaku yang sangat kuat. Selain itu, aku juga memiliki postur tubuh yang sangat tinggi, sebagaimana Orang Belanda terkenal akan tinggi tubuhnya. Saat dewasa, aku memiliki tinggi badan 192 cm. Di sisi lain, aku terlahir di generasi yang menyaksikan bagaimana negara ini lahir dan lepas dari belenggu penjajah Eropa maupun Jepang. Tapi aku tidak tahu persis berapa umurku saat itu. Maklum, bahkan akta lahir pun aku sendiri tidak punya hingga saat ini. Yang jelas aku ingat, aku sempat masuk Sekolah Dasar (saat itu bernama Europeesche Lagere School atau ELS). ELS menggunakan Bahasa Belanda menjadi bahasa wajib dalam proses belajar mengajarnya. ELS dikenal sebagai Sekolah Rendah Eropa yang diperuntukkan untuk keturunan peranakan Eropa seperti diriku, keturunan timur asing atau pribumi dari tokoh terkemuka. Cara Orang Belanda mengklasifikasikan manusia tergolong feodal. Meskipun murid ELS juga belajar Bahasa Belanda, kami tidak dapat bergaul dengan keturunan murni Belanda karena sekolah kami dibedakan. Meskipun demikian, aku masih ingat murid ELS dididik dengan cara Orang Belanda yang sangat ketat. Kuku tangan yang terlalu panjang akan dihukum sepuluh kali pukulan penggaris. Jangan membayangkan penggaris mika ataupun plastik 30 cm yang banyak digunakan di sekolah sekarang. Penggaris yang dipakai untuk menghukum kami adalah penggaris kayu papan tulis yang berukuran sekitar satu meter. Rambut panjang, dihukum dengan potong rambut di sekolah dan setrap di depan kelas selama seharian. Aturan yang sangat disiplin ini membuat murid ELS pada saat itu sangat teratur dan disiplin. Meskipun kehidupanku berasal dari kampung, aku memiliki setidaknya tata krama yang lebih baik dibandingkan dengan anak seusiaku. Saat Jepang mengambil alih Hindia Belanda, sekolah ini sempat berganti nama menjadi Sekolah Rakjat atau SR. Aku yang ketika itu seharusnya sudah duduk di kelas tiga, harus kembali ke kelas satu lagi hanya karena tidak bisa menggunakan Bahasa Indonesia. Namun demikian, nilai ulangan matematika ku selalu mendapat nilai sempurna karena pelajarannya sudah pernah kulalui. Salah satu adaptasi terberatku pada saat sekolah berganti menjadi Sekolah Rakjat adalah masuknya murid murid baru dari kampung. Anak anak yang sebelumnya tidak pernah merasakan pendidikan, akhirnya bisa masuk ke Sekolah Rakjat. Memang, ini adalah inisiasi yang sangat bagus. Tapi di saat yang sama, ini adalah tragedi tersendiri bagiku dan teman temanku yang sebelumnya pernah bersekolah di ELS.
Sebelumnya, aku sudah menjelaskan bahwa sekolah di ELS sangat ketat dan disiplin. Hal ini membuat anak anaknya sangat tahu dan paham akan tata krama. Sayangnya, hal ini tidak sama dengan kondisi anak anak dari kampung yang belum pernah sekolah. Disini, aku tidak ingin merendahkan kaum tertentu. Aku hanya akan bercerita tentang fakta dan catatan perjalanan hidupku. Saat di ELS, kami selalu membawa bekal makanan ke sekolah. Pukul 10.00, kami istirahat keluar kelas dan biasanya menaruh bekal makanan dan alat tulis kami ke dalam laci meja. Saat kembali ke kelas, kami tidak perlu khawatir dimana barang barang itu berada. Sangat jarang atau bahkan tidak ada dari kami yang akan mengambil dan mencuri barang milik orang lain. Kalaupun ada, hukumannya akan sangat serius dan murid akan terlalu takut untuk membayangkan hidupnya selama sekolah nantinya. Setelah menjadi Sekolah Rakjat, rasanya sekolah ini menjadi sangat tidak terkendali. Beberapa kali alat tulisku dan makan siang ku, bahkan wadah makan siang ku hilang oleh anak anak tidak tahu diuntung itu. Aku pun tidak paham, seolah hal ini menjadi kejadian lumrah bagi semua orang. Lapor ke guru menjadi tidak efektif juga karena yang mencuri beramai-ramai. Sekolah menjadi tempat yang tidak aman setelah anak anak kampung itu menjadi murid disini. Sekarang aku jadi paham, kenapa Orang Belanda memisahkan dan mengklasifikasikan sekolah sekolah menjadi beberapa kasta. Tampaknya, pekerjaan rumah bangsa ini sudah mulai terlihat bahkan sebelum Indonesia merdeka.
Sekolah Rakjat tidak bertahan lama. Setelah Indonesia merdeka, Sekolah Rakjat diganti menjadi Sekolah Dasar pada tahun 1946. Ketika itu, aku masih belum tahu banyak. Salah satu yang aku ketahui adalah kondisi negara baru yang masih tidak kondusif. Selepas Jepang mengakui kekalahannya pada Perang Dunia kedua, Belanda berbondong-bondong datang lagi ke Indonesia dengan pasukannya ke nusantara. Tidak sendirian, mereka datang bersama tentara sekutu. Alasannya cukup sederhana. Salah satu klausul dalam perjanjian perdamaian mengharuskan pihak yang kalah mengembalikan wilayah jajahannya ke pihak sekutu. Belanda yang selama ini berada di pihak sekutu, memang secara perjanjian internasional boleh mengambil kembali wilayah nusantara. Walaupun, sebenarnya Indonesia telah merdeka. Perjuangan para pahlawan pun dimulai sejak Indonesia menyatakan merdeka. Peperangan akan segera muncul di banyak tempat, dan keluargaku, akan harus memilih satu diantara dua pihak: Republik Indonesia atau Hindia Belanda.
Keluargaku sekarang tinggal di Situbondo, Jawa Timur. Ayah Mami ditempatkan di Pabrik Gula Olean, pabrik gula yang dinobatkan menjadi pabrik gula terkecil di Indonesia, bahkan mungkin di dunia. Situbondo hingga saat ini diisi oleh mayoritas Orang Madura. Orang Madura terkenal akan keberaniannya, terutama soal keyakinan. Secara turun temurun, Islam telah mendarah daging dalam budaya Orang Madura dan berangkat haji ke Mekkah, Arab Saudi, merupakan tujuan hidup paling utama bagi kebanyakan Orang Madura. Banyak Orang Madura yang menjadi pedagang, bahkan penjual makanan di pinggir jalan tanpa modal. Lupakan soal gaji tetap, perlindungan, asuransi dan kesehatan. Berbekal clurit (senjata khas Orang Madura) untuk mempertahankan diri dan keyakinan yang kuat akan rezeki dari Allah SWT, mereka berani bekerja dimanapun dan kapanpun. Karena ini jugalah Kota Situbondo tergolong unik. Mereka dengan berani meyakini bahwa Republik Indonesia yang merdeka lebih baik daripada pemerintahan Hindia Belanda. Banyak pejuang dan pahlawan yang lahir dari Kota Situbondo. Keluarga kami, meskipun memiliki garis keturunan Belanda, sebenarnya tidak pernah menginjakkan kaki di Belanda. Aku sendiri lahir di Malang, Jawa Timur, sedangkan Mami berasal dari Yogyakarta. Jadi, aku lebih pantas menyebut nusantara ini sebagai tanah airku, bukan Belanda. Dari fakta tersebut dan juga rasa semangat perjuangan kemerdekaan, keluarga kami mendukung Republik Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaannya. Setiap ada hasil panen yang disimpan dalam rumah kami, seringkali dalam bentuk gabah, akan kami sisipkan amunisi persenjataan yang akan digunakan oleh para pejuang. Rumah kami di Olean menjadi tempat pertukaran antara penyuplai amunisi senjata, petani panen, dan para pejuang kemerdekaan. Bertahun kami menjalankan operasi ini secara rahasia, puji syukur tidak pernah sekalipun ketahuan oleh pihak Belanda. Mungkin, kami dapat dengan mudah dipercaya oleh Tentara Belanda karena warna kulit kami yang cenderung cerah seperti mereka. Mungkin juga, karena kami adalah peranakan Belanda yang hidup miskin di kampung sehingga mereka tidak menaruh curiga.
Meskipun keluarga kami mendapatkan banyak dukungan dan bantuan dari para pejuang dan orang di kampung, faktanya, Mami adalah seorang wanita. Setelah bercerai dengan suaminya, Mami tidak akan banyak mendapatkan perlindungan dari siapapun, terlebih di negara yang hukumnya masih belum tegas ditegakkan. Dengan pertimbangan tersebut, akhirnya Mami memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang veteran asli Blitar, Jawa Tengah. Walaupun pada awalnya pihak keluarga tidak setuju dengan keputusan tersebut, terlebih Oma ku, namun pada akhirnya semua harus paham dengan keadaan yang sedang terjadi di Indonesia. Akhirnya, Mami menikah dengan pria veteran tersebut, Mario. Mario memiliki rekam jejak yang penting dalam perjuangan di wilayah Situbondo. Mario juga mendapatkan imbalan yang tidak sedikit. Kala itu, Mario mampu memiliki rumah dan tanah di daerah Dawuhan, Situbondo. Mario juga sangat fasih berbahasa Belanda, sehingga Ia tidak memiliki kesulitan untuk berkomunikasi dengan Mami.
3. Masa masa tersulit
“Anak haram!”, anak anak itu mengejarku sambil melempariku dengan batu dan kerikil. Aku tidak bisa berlari lebih kencang untuk menghindari serangan mereka, karena aku sedang membawa beras 10 kilogram dari toko kelontong yang jaraknya agak jauh dari rumah. Kalau bukan disuruh oleh Mario, aku sangat takut kepadanya. Aku masih berusia sangat muda, masih di tingkat akhir sekolah dasar. Tapi mungkin karena kelebihan genetik yang aku miliki, tinggi badanku sudah lebih dari kebanyakan orang dewasa disini, jadi aku sudah dianggap kuat membawa beban seberat ini, rutin setiap minggu. Atau bisa juga karena aku harus mengulang Sekolah Rakjat, jadi aku sudah 2 tahun lebih tua daripada tingkat sekolahku sekarang. Entahlah, tapi yang jelas aku menangis, aku bingung, apa salahku kepada mereka? Saat ini, aku hanya ingin pulang dan memeluk Mami ataupun Oma. Aku akan mengadu kepada mereka. Di satu sisi, aku tidak tahu apa maksud dari “Anak haram” karena aku masih belum lancar berbahasa Indonesia. Sesampainya di rumah, aku menangis sejadi jadinya di pangkuan Mami. Sambil terisak, aku bertanya apa maksudnya “Anak Haram”, kata yang diucapkan oleh anak anak nakal yang mengejarku tadi. Mami terhentak, berhenti mengusapku sambil menatapku dalam. Tiba tiba air matanya mengalir, “No, Je hoeft het niet te weten, mijn zoon” (Nono, kau tidak perlu tahu, anakku). Mami kembali memelukku erat, kali ini aku lah yang berhenti menangis dan merasakan hangatnya air mata tangisan Mami di dadaku. Waktu itu, aku benar benar tidak paham apa arti kata itu, kata yang akan selamanya menempel pada diriku, kata yang sebenarnya aku pun tidak memiliki kuasa untuk mengubahnya, kata yang akan mengubah jalan hidupku selamanya.
Waktu berlalu, aku pun lulus sekolah dasar dan melanjutkan ke jenjang sekolah lanjut tingkat pertama (SLTP). Suatu siang, Mami mengundangku secara diam diam ke dalam kamarnya. Waktu itu, Mario belum pulang dari bekerja sehingga kami memiliki kesempatan untuk berbicara empat mata. “Mungkin, ini waktunya kamu tahu, Nono”, waktu itu Mami dan aku sudah bisa berbahasa Indonesia dengan lancar. “Lihat ini, simpan foto ini seumur hidupmu. Ia adalah Ayahmu yang sebenarnya. Namanya adalah Luis Mol”. Pelan pelan Mami mengeluarkan foto Luis Mol dari lemari kayunya.

Perlahan air mataku mulai menetes di pipiku. Ternyata ini jawaban atas pertanyaanku selama ini. Jawaban dari kata “Anak haram” yang dilontarkan anak anak dan orang orang disekitar kampung kepadaku. Mami melanjutkan ceritanya, “Ayahnya adalah seorang Belanda dan Ibunya adalah Inlander. Fisiknya sama persis denganmu sekarang, tegap, kurus, dan tinggi. Tapi sepertinya kamu lebih tinggi daripada Luis, No, haha”, aku bisa merasakan satirnya suasana itu, Mami berusaha untuk mengingat satu dan dua hal tentang Luis Mol. “Ia adalah seorang Ingenieur di pabrik gula. Kalau kau sedang rewel dan sakit dahulu, Ia lebih untuk menemanimu di rumah dan tidak berangkat ke pabrik. Ia sangat sayang denganmu”. Kali ini, aku tidak bisa menahan untuk bertanya, “Lalu, kalau Ia sayang kepadaku, kenapa Ia meninggalkan Mami dan aku?”. Mami sejenak menghela napas, lalu melanjutkan ceritanya dengan nada yang sedikit lebih berat, “Negara ini sungguh kacau saat itu. Belanda tidak mau melepaskan Indonesia dan operasi militer terjadi dimana-mana. Belum lagi Jepang yang tiba tiba masuk ke Indonesia”. Terlihat wajah Mami yang menyesalkan banyak hal, tapi tidak punya kuasa untuk mengubahnya. “Akhirnya, Belanda mengeluarkan program repatriasi warga negara karena kondisi disini sudah sangat tidak kondusif. Belum lagi, faktanya memang banyak perusahaan disini dimiliki oleh warga negara Belanda dan tenaga ahlinya pun juga. Luis Mol mendapatkan kesempatan repatriasi tersebut dan memiliki tawaran bekerja di Belanda”. Aku semakin tidak terima, aku sedikit meninggikan nadaku kepada Mami, “Apa! Bagaimana itu bisa terjadi? Mengapa…”, “Kamu pun sebenarnya akan dibawa ke Belanda waktu itu”, Mami memotong pertanyaanku. “Tapi akulah yang memilih untuk menetap disini. Dan aku tidak mau kehilanganmu. Heerlen dan Olive sudah dibawa suami pertamaku. Aku tidak bisa menahan rasa kehilangannya. Aku tidak bisa kehilangan satu Anak lagi”, dan seketika aku terdiam. Tidak apa apa, aku cinta Mami. Mami saja sudah cukup bagiku untuk hidup di dunia ini. Kalau memang ini jalan hidup yang Mami inginkan, untuk tinggal di Indonesia dengan segala ketidak pastiannya, maka aku harus menjadi orang pertama yang mendukung keputusannya. Aku malah justru harus bisa melindunginya. Aku harus menjadi orang kuat! Aku bisa, pasti bisa! Siang itu, aku berterimakasih kepada Mami karena telah menjelaskan semuanya kepadaku. Meskipun, masih belum jelas bagaimana hubungan Luis Mol dan Mami bisa terjalin, paling tidak aku sekarang sudah tahu siapa Ayahku yang sebenarnya. Papi sudah jelas bukan ayahku karena setelah perceraian, aku tidak dibawa pergi bersamanya. Lebih lebih Mario, yang hadir ketika aku bahkan sudah bisa bicara. Penjelasan itu sudah cukup untuk sekarang.
Suatu hari, aku sedang melihat dan memandangi foto Ayahku, Luis Mol. Tidak ada informasi lagi selain namanya, yang sebenarnya akupun tidak tahu cara mengejanya dengan benar, dan pekerjaan terakhirnya sebagai insinyur mesin di pabrik gula. Kata Mami, dalam lain kesempatan, Luis Mol awalnya adalah seorang yang indekos di rumah orang tua Mami. Mungkin, memang dengan cara itu mereka bertemu dahulu. Apakah hubungannya diresmikan secara negara maupun agama, itu persoalan lain, aku tidak diceritakan lebih lanjut. Mungkin, hanya Mami dan Luis Mol yang tahu akan hal itu. Bagaimana kabarmu sekarang Papi? Sedang apa sekarang di Belanda? Kuharap Engkau sedang baik baik saja. Tiba tiba saja, ada suara menggelegar di rumah, “Anak haram! Ini semua gara gara Anak harammu itu!”, Mario berteriak saat pulang dari kerja. Mario adalah seorang veteran perang Indonesia yang memiliki pengaruh cukup kuat di Situbondo. Ia memiliki beberapa usaha dengan teman teman seperjuangannya. Tapi, tampaknya juga Ia sering ditipu oleh beberapa orang. Ia terlalu mudah menerima tawaran berbunga tinggi dari usaha yang belum jelas. Dan ketika sudah gagal, semua itu Ia lampiaskan ke Mami dengan menyebut “Anak haram” yang notabene adalah diriku sendiri.
Sebenarnya, aku bingung akan ketidakadilan di dunia ini. Kalau boleh memilih, aku juga tidak akan memilih untuk menjadi anak haram. Maksudku, siapa yang bisa memilih untuk tidak terlahir dalam kondisi ini? Kelahiran manusia sendiri adalah sebuah fitrah dari Tuhan. Tidak ada bayi yang terlahir kotor, semuanya terlahir suci. Lalu bagaimana bisa orang orang memandangku sebagai anak pembawa sial, anak kotor dan berbeda dari anak lainnya? Sungguh, sikap itu sangat tidak adil. Tapi, orang yang mengamuk kali ini adalah orang yang melindungi keberadaan Mami. Aku harus bisa paham situasi. Mami bagaimanapun juga membutuhkan keberadaan Mario. Begitu juga kelima saudaraku yang lahir dari pernikahan mereka. Di sisi lain, Mami juga memiliki tanggung jawab kepada mereka. Kali ini, aku lebih baik diam untuk Mami. Mami pun meminta maaf kepada Mario atas setiap kegagalan yang Mario alami, walaupun Mario sendiri jugalah penyebabnya.
Tapi, tak bisa dipungkiri kalau aku mulai merasa sendirian di dunia ini. Mami yang sudah tunduk kepada Mario akan selalu berada pada posisi ini sepanjang hidupnya. Mami tidak mungkin memiliki pekerjaan formal, karena Ia tidak memiliki pendidikan khusus untuk bekerja, lebih lebih pengalaman pekerjaan. Apalagi zaman dahulu, kaum perempuan memang tidak banyak yang bisa memiliki pekerjaan formal. Pada satu siang, tiba tiba ada kabar yang sangat menggembirakan. Heerlen akan datang ke Situbondo! Aku senang bukan main. Menurut kabar, Heerlen sudah menikah di usianya yang sangat muda dengan seorang dari Ambon. Suaminya bekerja di Staatsspoorwegen (SS) yang dikenal sebagai PT Kereta Api Indonesia dan mereka tinggal di Bandung sekarang. Mereka dikaruniai seorang anak laki laki bernama Petra, dan seorang putri bernama Meti.
Heerlen akan berada di Situbondo untuk waktu yang cukup lama, sekitar 3 bulan. Mungkin inilah satu satunya kenangan manis di masa kecilku. Sejak aku lahir, Mami sudah harus merasakan ditawan Jepang, ditinggal oleh suami dan anak anaknya, menikahi seorang veteran untuk bertahan hidup, dan aku ikut menyaksikan itu semua. Kedatangan Heerlen bagaikan angin segar di tengah padang gurun yang panas. Meskipun aku tahu ini hanya sementara, aku akan menikmati waktu bersamanya. Ketika Heerlen datang, aku sering diajak nonton bioskop di dekat alun alun. Film yang paling sering diputar adalah film koboi. Aku sudah lupa apa judulnya, tidak penting. Yang penting, aku bisa mengingat hangatnya rasa kasih sayang seorang kakak. Heerlen juga sering memasak untuk kami. Masakan Heerlen sangat enak. Bahkan, Ia akan mengundang saudaranya yang lain untuk makan. Kedatangan Heerlen membawa suasana yang sangat berbeda di rumah ini. Aku merasa bahwa ini adalah waktu waktu dalam hidupku.

Kami mengabadikan momen itu dengan berfoto bersama seluruh anggota keluarga. Dari kiri atas ada Mario, Mami, Heerlen, Oma dan Meti. Dari kiri bawah ada aku (Nono), Leen (anak pertama Mario), Petra (anak pertama Heerlen), Illise, dan Irene (Saudara kandung Leen). Bisa dilihat, adakah sesuatu yang membuat foto ini terasa berbeda? Benar, ekspresiku yang tersenyum lebar memang bukan sesuatu yang umum kala itu. Entah kenapa, foto foto orang zaman dahulu selalu tanpa ekspresi dan cenderung serius. Tapi, kalau memang ini adalah momen yang diabadikan, aku akan bercerita betapa senangnya aku atas kedatangan Heerlen ke Situbondo lagi. Aku akan selalu mengingatnya sepanjang hidupku. Terimakasih Heerlen, setidaknya kehadiranmu bisa sejenak membuatku lupa akan penat dan kesuraman yang setiap hari aku rasakan disini.
“Dasar anak haram! Sialan kau!”, entah dari mana Mario siang hari ini, tiba tiba Ia kasar denganku. Tangannya pun memukulku berulang kali. Aku tidak bisa apa apa kecuali menangis dan sedikit menghalangi pukulannya dengan tanganku, meskipun tidak seberapa berpengaruh, badanku tetap sakit. Mario semakin menjadi-jadi siang itu, tampaknya Ia sudah tertipu dengan jumlah yang cukup banyak. Kalau diingat ingat, sepertinya memang beginilah kondisi dan mental orang orang di sekitar sini. Bahkan mulai sekolah dasar saja aku sudah mulai merasakannya. Seolah mengambil yang bukan hak nya itu hal lumrah, biasa saja. Kalau aku sih, sudah tahu perilaku seperti itu jadi aku tidak akan menaruh harapan apapun kepada mereka. Mungkin Mario sedikit berbeda. Dia lahir di Blitar yang memang memiliki budaya yang agak berbeda. Mungkin Mario memang mudah menaruh harapan dan kepercayaan ke orang orang itu. Dengan iming iming bunga besar, Ia dengan mudahnya menitipkan uang dalam jumlah yang lumayan kepada mereka. Eh, tidak tahunya lagi lagi investasi bodong yang dia terima.
“Hou op!”, (“hentikan!”) tiba tiba suara lantang hadir di tengah amukan Mario kepadaku. Tidak ada yang pernah menghentikan Mario selama ini kalau sudah mengamuk. Tidak ada yang berani, toh ini rumah Mario. Mario adalah penguasa disini, semua harus tunduk dan patuh kepada Mario. Lalu siapa yang berani berteriak seperti itu, padahal semua tahu Mario tidak akan mendengarkannya. Tapi kali ini beda, kali ini situasinya sangat berbeda. Ya, orang yang berteriak tadi adalah Heerlen. Aku bersyukur untuk kesekian kalinya kepada Tuhan, karena telah mendatangkan seorang malaikat dalam hidupku. Tidak hanya untuk memperhatikanku disini, tapi juga untuk melindungiku dari kekasaran bapak tiriku sendiri. “Als je niet voor Nono kunt zorgen, dan kan Nono maar beter met mij meegaan!”, (“kalau Kau tidak bisa merawat Nono, lebih baik Nono ikut dengan saya!”) Heerlen menambahkan dengan tegas. Heerlen sudah membulatkan tekad. Ia tidak tega melihatku yang selalu disalahkan dan tersiksa akan kondisi ini. Ia lebih baik merawatku dan membesarkanku daripada harus terpikir saudaranya sendiri hidup tersiksa di rumah Mario. Aku pun akan dengan senang hati menerima tawaran Heerlen. Aku lebih baik tinggal bersama Heerlen daripada Mario, meskipun aku tahu akan terpisah dengan Mami. Setidaknya, kalau tidak ada aku, Mami juga tidak akan dimarah-marahi oleh Mario. Aku paham, aku adalah alasan utama dan bulan bulanan Mario selama Ia mengalamai kegagalan. Setiap musibah dalam keluarga ini, aku yang selalu menjadi kambing hitamnya. “Tidak apa apa”, dalam hati aku bergumam, “Setidaknya aku akhirnya bisa pergi dari rumah ini dan Mario akan berhenti menyalahkan keadaan”. Tapi, aku tidak berani masuk dalam perbincangan orang orang. Aku hanya berani berkata dalam hati. “Nee!”, tiba tiba Mami masuk dalam suasana yang sedikit canggung. “vergeef Mario, ik zal voor Nono zorgen”, Mami meyakinkan Heerlen untuk tetap menjagaku di rumah Mario. Mario meninggalkan ruangan dengan terdiam. Sementara itu, semua orang dalam ruangan ini tetap terdiam untuk beberapa saat, sebelum semuanya kembali ke aktivitas masing masing. Aku tahu, tidak akan ada yang berubah setelah ini. Semuanya akan kembali normal dan aku masih akan menjadi bulan bulanan Mario untuk beberapa waktu ke depan. Setidaknya, sampai aku lulus sekolah menengah pertama.